Narasi

Islam Yes, Terorisme No !

Menegangkan! Aksi-aksi  Sekelompok orang yang berperang sebagai martir Tuhan di Jl. M.H Thamrin yang lebih tepatnya dikenal peristiwa bom sarinah, tahun lalu ( 14/01/2016). Peristiwa ini diawali dengan aksi salah satu orang yang menjadikan dirinya pengantin bom bunuh diri. Si Martir ini menakut-nakuti warga Jakarta dengan menembaki mereka yang saat itu berkerumun di tempat kejadian. Sontak, warga yang awalnya berkerumun langsung berhamburan menghindari tembakan itu. Beberapa aparat keamanan yang saat itu ada di lapangan terjadi baku tembak dengan para martir Tuhan tersebut ( Baca: Teroris). Kejadian itu sempat menjadi perbincangan para netizen dan sempat viral. Kabarnya, ada yang mengatakan aksi-aksi tersebut ibarat film Hollywood bergenre Action. Meskipun tampak seperti film aksi, tetap saja aksi-aksi tersebut dikecam. Peristiwa baku tembak dan bom bunuh diri itu menambah daftar panjang catatan merah bangsa ini. Hal itu tidak lain juga karena banyaknya korban berjatuhan.

Dilansir dari Jawapos, Minggu ( 17/01/2016) jumlah korban bom sarinah mencapai delapan orang seperti ditulis di Koran tersebut, empat orang dari delapan korban tersebut merupakan pelaku terror. Sejenak kita merenung, delapan orang tersebut bukan benda mati. Nyawa yang melayang dari jasadnya bukan seharga nominal mata uang. Lebih tepatnya, secara kemanusiaan, nyawa manusia tetap berharga daripada ideology kekerasan yang basisnya kadang-kadang terbatas pada material belaka. Korban-korban tersebut hanya sebagian dari serangkaian teror-teror yang mewarnai dinamika sosial-politik Negeri ini.

Dengan demikian, jatuhnya korban seperti yang telah disebutkan tersebut menambah daftar nyawa melayang sia-sia akibat dari keinginan sekelompok orang yang memuncak pada aksi kekerasan atas nama agama yang tidak bisa dibendung lagi. Hal itu lumrah, ketika dalil-dalil agama- dalam hal ini, islam- yang diyakini sekelompok orang tersebut hanya terbatas pada persoalan “ kafir dan non kafir”. Tidak harus tidak, persoalan yang berkaitan dengan terorisme ini, kita harus melihat ulang keadaan sosial-politik bangsa ini.

Sosial-politik Indonesia

Saat acara Rakernas Ikatan Cendekiawan Se-Indonesia, Ketua MPR, Zulkifli Hasan mengatakan bahwa bangsa Indonesia merupakan negara yang tetap mempertahankan toleransi beragama, bahkan menurutnya toleransi di Indonesia sangat tinggi, hal  itu terbukti dengan diliburkannya  semua instansi ketika setiap agama merayakan hari rayanya masing-masing ( 11/02/2016). Dalam hal ini, toleransi agama tidak hanya sekedar dalam peraturan tertulis, realisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus lebih digalakkan lagi. Maka dari itu, secara kacamata sosial, Indonesia yang pluralis tetap harus pluralis. Mustahil ketika harus diseragamkan ( uniformisasi). Uniformisasi yang pada akhirnya mengakibatkan masyarakat yang homogen akan menghilangkan ciri khas bangsa ini yakni perbedaan yang dibingkai dalam kebersamaan yang harmonis.

Karena adanya perbedaan tersebut, pancasila cocok dijadikan sebagai ideologi untuk menjalankan roda pemerintahan bangsa ini.  Dalam pandangan Nurcholis madjid, pancasila merupakan titik temu ( common platform ) semua komponen bangsa yang islami.  Artinya semua perbedaan bangsa ini bisa bertemu dalam satu titik karakter menghargai sesama dan etika berbangsa yang beradab.

Ketika melihat penyebab terorisme itu sendiri, ia tidak lahir di dalam ruang hampa. Insiden kekerasan yang mengatasnamakan agama tersebut bukan tanpa sebab yang melatar belekanginya. Boleh jadi, terrorisme lahir karena adanya kesenjangan sosial di masyarakat berupa tingkat pengangguran yang semakin tinggi, lapangan pekerjaan semakin sulit, keadilan hukum yang tidak merata, kepentingan elit borjuasi yang bertopeng feodalisme dan kapitalisme dan lain sebagainya. Maka tak heran jika alternative tersebut  dipilih karena merasa jenuh dengan keadaan berupa pemberontakan atau menjadi martir Tuhan serta melakakukan pengeboman di tempat-tempat yang dianggap sebagai biang keladi lambatnya Turun rahmat Tuhan. Terlebih lagi, ketika hal ini mendapat legalisasi dari pemahaman yang salah terhadap dalil-dalil agama. Maka yang dipikirkannya, ingin mendapatkan kenikmatan surga dengan segera meninggalkan dunia yang dianggapnya sudah kotor.

Melihat Indonesia yang penduduknya pluralis , maka dibutuhkanlah solusi yang tepat yakni penyegaran kembali tentang kebersamaan kita yang sudah terbingkai lama. Hal ini, bisa diupayakan dalam bentuk menyegarkan kembali pemahaman agama yang humanis serta penyelesaian problem sosial yang besar kemungkinan menumbuh-suburkan pemahaman tersebut.

Pada akhirnya, kita berharap di bumi pertiwi ini tidak ada lagi cerita pengeboman awal tahun karena aksi pengeboman yang tertunda. Atas nama agama apapun itu, terorisme yang menganggu stabilitas negara tidak dibenarkan. Upaya membangun bangsa yang lebih beradab tidak akan dicapai ketika negara sedang kacau. Akhir dari tulisan ini, saya tutup dengan “ Islam yes ! terorisme No”

This post was last modified on 31 Januari 2017 9:33 AM

Ahmad Ansori Alfan

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago