Kebangsaan

Kenali dan Waspadai Pola Radikalisasi Online

Kenapa terorisme sangat dekat dengan generasi muda? Kenapa mereka menjadi sasaran empuk untuk direkrut dalam jaringan terorisme? Generasi muda seolah menjadi mangsa dari proses regenerasi kader kelompok radikal terorisme. Dan remaja seakan menjadi proses peremajaan jaringan baru terorisme.

Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku terorisme dalam bentuk bom diri atau bom mobil dan peledakan lainnya di berbagai daerah di Indonesia adalah mereka yang masih belia. Deretan nama pelaku bom di Indonesia dan mereka yang terlibat dan terduga terkait dalam jaringan terorisme masih sangat belia dengan rata-rata umur 23-27 tahun.

Ayip Hidayat, Umur 21 tahun, asal Ciamis Jabar (Peledakan Bom di Raja Bar’s, Bali), Wisnu alias Misno, Umur 23 tahun, asal Cilacap Jateng (Peledakan Bom di Menega Cafe, Bali), M. Salik Firdaus, Umur 23 tahun, asal Majalengka Jabar (Peledakan Bom di Menega Cafe, Bali). Bahkan, Dani Dwi Permana, Umur 18 tahun, asal Bogor Jabar sempat merekam kesaksian dirinya sebelum melancarkan aksinya di JW marriot, 2009 silam dengan keinginan menggapai 72 bidadari.

Beberapa contoh di atas adalah hasil dari perekrutan model konvensional yang dilakukan oleh jaringan terorisme lama. Saat ini pola rekrutmen telah berubah. Regenerasi terorisme tidak hanya melalui pertemuan, pelatihan dan baiat langsung, tetapi dengan mudah dilakukan melalui jaringan online.

Operasi perekrutan yang dilakukan oleh kelompok radikal terorisme melalui dunia maya saat ini semakin populer. Salah satu contoh yang baru-baru ini terjadi adalah remaja dengan inisial IAH (18 tahun), pelaku percobaan bom di Gereja Katolik St. Yosef terobsesi dengan gerakan ISIS dan terinspirasi Bom Perancis serta belajar perakitan bom melalui internet. IAH aktif menelusuri dan berkomunikasi dengan akun-akun radikal di media sosial dan disinyalir memiliki komunikasi dengan Bahrun Naim.

Kasus lain adalah anak dengan inisial RES (16 tahun), Pelajar salah satu SMK di Pelabuhan Ratu. Ia ditengarai telah termakan hasutan dan bergabung dengan kelompok Bahrun Naim dengan mencari dan membuat senjata api dan bom asap beracun yang dipandu melalui sarana media sosial.

Karena semakin banyaknya website, media sosial dan plaftform media lainnya di dunia maya yang sengaja dibuat oleh kelompok radikal terorisme, generasi muda harus mampu mewaspadai dengan mengenali dan mengetahui pola-pola yang mereka lakukan. Berikut pola tahapannya :

Pertama, melalui media online seperti website, media sosial, radio online dan media lainnya mereka rajin menyebarkan paham dan ajaran radikal serta  isu dan gosip yang dapat menumbuhkan rasa kebencian dan menyuburkan rasa simpati terhadap “perjuangan” teroris. Pada tahap ini para pemula akan dikenalkan dengan isu-isu ketidakadilan dan perlakuan dzalim negara atau kelompok tertentu terhadap umat. Selanjutnya, membangkitkan rasa kebencian dan menumbuhkan empati untuk beraksi.

Kedua, bagi mereka yang tertarik akan diajak berkomunikasi secara pribadi melalui chat room, forum, direct message, inbox dan media interaktif lainnya. Pada tahap ini sudah ada indoktrinasi yang lebih spesifik untuk bergabung dan melakukan pembaitan.

Ketiga, bagi mereka yang sudah meyakini doktrin dan ajarannya akan diundang untuk bertemu langsung atau disediakan komunitas online yang lebih ekslusif tentang pelatihan penyediaan fasilitas aksi (online training).

Keempat, dari proses itulah mereka akan dilakukan pembinaan dan latihan sampai siap untuk terjun ke tindakan dan aksi terorisme dengan instruksi perencanaan aksi, hingga penentuan sasaran yang telah ditentukan

Butuh kecerdasan dalam mengenali dan mewaspadai pola dan modus rekrutmen kelompok teroris di dunia maya. Karena itulah, benteng utama yang diperlukan adalah pertahanan diri (self defense).

Pertahanan diri itu bermula pada keyakinan bahwa tidak ada satupun ajaran agama manapun yang mengajarkan kerusakan dan pembunuhan, apalagi terhadap mereka yang tak berdosa. Selanjutnya konsultasikan kepada orang tua dan guru terhadap apapun yang kalian temui yang dipandang bertentangan dengan prinsip dan keyakinan tersebut.

Abdul Malik

Redaktur pelaksana Pusat Media Damai BNPT

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago