Keagamaan

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai negara yang dikenal paling religius di dunia, nilai-nilai agama memainkan peran penting di ruang-ruang sosial. Termasuk dalam hal pola asuh anak di keluarga.

Namun, fokus berlebihan pada ritus keagamaan kerap membuat orang tua abai terhadap spektrum nilai lainnya yang tak kalah penting. Situasi ini rentan menjerat orang tua pada aspek simbolik institusi pendidikan semata yang, tanpa disadari, justru membentuk pribadi anak yang eksklusif melalui sekolah-sekolah berlabel agama. Padahal, wacana keagamaannya sangat “ideologis”.

Toleransi Sekolah Religi

Sebagaimana dilaporkan Kompas (17/7/2025), moralitas dan spiritualitas kerap dijadikan alasan utama orang tua memilih sekolah agama. Harapannya, institusi pendidikan tersebut mampu memberikan fondasi iman yang kokoh bagi anak-anak dalam menghadapi masa depan yang serba tidak pasti.

Alasan ini memang terdengar sakral dan logis. Banyak orang tua menggantungkan harapan kepada institusi pendidikan agama untuk menanamkan nilai-nilai yang barangkali tidak mereka ajarkan secara memadai di rumah.

Namun, persoalan transendental ini seringkali mengalami glorifikasi berlebihan. Dalam konteks masyarakat multikultural, penting untuk menjaga keseimbangan antara pendidikan agama dan penanaman nilai-nilai toleransi.

Hasil jajak pendapat dari King’s College London pada 2023 layak menjadi refleksi. Studi itu mengukur prioritas nilai-nilai yang ingin ditanamkan orang tua kepada anaknya di rumah.

Ada 11 indikator dalam survei ini. Mulai dari sikap tidak egois, imajinasi, kebaikan hati, tanggung jawab, kepatuhan, hemat, religiusitas, independensi, hingga toleransi.

Sayangnya, kesadaran akan pentingnya pendidikan agama ini tidak diimbangi dengan perhatian serupa terhadap nilai toleransi.

Hasilnya? Orang tua Indonesia menempatkan agama sebagai prioritas utama. Sebanyak 75% responden Indonesia menganggap pendidikan agama sangat penting diajarkan kepada anak-anak. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara kedua setelah Mesir dalam hal prioritas pendidikan agama.

Sayangnya, kesadaran akan pentingnya pendidikan agama ini tidak diimbangi dengan perhatian serupa terhadap nilai toleransi. Data menunjukkan hanya 45% responden Indonesia yang menganggap penting mengajarkan toleransi kepada anak di rumah. Posisi ini menempatkan Indonesia di urutan kedua terbawah dalam kategori tersebut, bahkan lebih rendah daripada Rusia (56%) dan Korea Selatan (51%).

Jika data ini benar-benar mencerminkan realitas sosial, ini tentu ironis. Di satu sisi, para orang tua berlomba memasukkan anaknya ke sekolah agama demi membangun fondasi iman.

Namun di sisi lain, mereka justru abai terhadap pendidikan nilai toleransi yang sejatinya adalah ruh dari banyak ajaran agama. Bukankah seseorang yang benar-benar religius seharusnya tumbuh menjadi pribadi yang inklusif dan menghormati perbedaan?

Alarm Keberagama(a)n

Merujuk pada teori social identity dari John Turner, manusia secara alami cenderung mengidentifikasi dirinya dengan kelompok tertentu, termasuk kelompok agama.

Bagi banyak orang tua, identitas agama adalah bagian esensial dari diri mereka, sebuah sumber kebanggaan sekaligus pedoman nilai yang ingin diwariskan kepada anak-anak mereka.

Namun di sinilah letak masalahnya. Sekolah agama yang mono-identitas, dalam arti berbasis satu kelompok keagamaan tertentu, berpotensi menumpulkan sensitivitas anak terhadap realitas sosial yang lebih luas.

Ini bukan berarti sekolah berbasis agama adalah pilihan buruk. Tetapi orang tua harus menyadari bahwa sekolah model ini rawan membentuk cara pandang yang melihat identitas Muslim secara tunggal, seolah menolak afiliasi dengan identitas lain.

Gaya pendidikan semacam ini memang menjamin kekuatan ritus dan soliditas iman anak. Tetapi sekaligus melupakan kenyataan bahwa ekspresi keagamaan, termasuk Islam sendiri, tidak pernah tunggal.

Paradoks antara tingginya religiusitas dan rendahnya kesadaran toleransi pada pola asuh anak di Indonesia mungkin justru diperparah oleh pilihan orang tua yang tidak cukup kritis dalam memilih sekolah agama untuk anak-anak mereka.

Karena itu, orang tua perlu memastikan bahwa sekolah yang mereka pilih adalah ruang yang mengajarkan spiritualitas yang menyatu dengan empati dan kemanusiaan. Bukan malah sebaliknya, memperkecil dunia anak menjadi ruang eksklusif yang terasing dari perbedaan.

Sebab, jika tidak, kita berisiko mencetak generasi yang hafal ayat-ayat suci, namun lupa bagaimana caranya menjadi manusia yang menghormati sesama manusia.

 

This post was last modified on 27 April 2026 10:36 AM

Haris Fatwa

Pegiat Kontra Narasi dan Moderasi Beragama

Recent Posts

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

4 minggu ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

2 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 bulan ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 bulan ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

3 bulan ago