Keagamaan

Mencegah Wajah Ganda Agama : Telaah Moderasi dalam Pandangan Umat Hindu

Indonesia dengan keragaman etnis, suku, bahasa, budaya, dan agama menempatkan kita dalam posisi yang rentan terhadap konflik sosial. Di antara berbagai bentuk keragaman ini, keragaman agama adalah yang paling sensitif karena menyangkut keyakinan individu. Ketika keyakinan seseorang diusik, terutama dalam hubungannya dengan Tuhan, hal ini dapat dengan mudah memicu ketegangan.

Memperkenalkan moderasi beragama sebagai jalan tengah yang diperlukan untuk mengelola keragaman agama di Indonesia. Moderasi beragama membantu mencegah munculnya “Agama Berwajah Ganda,” di mana di satu sisi agama dapat menampilkan perdamaian, keselamatan, persatuan, dan persaudaraan, namun di sisi lain dapat menunjukkan wajah yang garang, menjadi penyebab konflik, bahkan perang antar manusia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, moderasi berarti tidak melakukan kekerasan atau tidak bersikap ekstrem. Jika diterapkan pada beragama, moderasi beragama berarti menjalankan praktik keagamaan dengan mengurangi kekerasan dan menghindari ekstremisme dalam cara pandang, sikap, dan tindakan.

Dalam ajaran Hindu, moderasi beragama dapat ditemukan dalam konsep Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, dan Catur Paramita. Ajaran-ajaran ini menuntun umat Hindu untuk menjadi kaum moderat yang mampu bersikap tenggang rasa di tengah berbagai perbedaan.

Tri Kaya Parisudha adalah tiga kemampuan yang harus disucikan dalam hidup bersama dengan orang lain. Pertama, manacika, yaitu kemampuan berpikir baik dan benar. Kedua, wacika, yaitu kemampuan berkata-kata yang baik dan benar. Ketiga, kayika, yaitu kemampuan bertindak dengan baik dan benar. Jika konsep Tri Kaya Parisudha ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan tercipta hubungan sosial yang harmonis.

Tri Hita Karana adalah ajaran tentang tiga penyebab kebahagiaan atau keharmonisan. Ketiga penyebab ini meliputi hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan dengan sesama manusia (Pawongan), dan hubungan dengan alam sekeliling (Palemahan). Setiap hubungan ini memiliki pedoman untuk menghargai sesama aspek sekelilingnya.

Dalam konteks moderasi beragama, aspek pawongan sangat menonjol karena moderasi beragama bukanlah mempermasalahkan agamanya, melainkan bagaimana pemeluk agama saling menghargai dan bekerjasama membangun peradaban yang humanis.

Catur Paramita adalah empat landasan dan pedoman untuk mewujudkan budi pekerti yang luhur. Keempat landasan ini adalah Maitri (sikap bersahabat), Karuna (sikap welas asih atau kasih sayang), Mudita (sikap simpatik), dan Upeksa (sikap tenggang rasa atau toleransi). Ajaran Catur Paramita ini adalah kunci untuk membangun peradaban yang multikultural. Jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, konflik atas dasar perbedaan, terutama perbedaan agama, tidak akan terjadi.

Sikap moderasi beragama bukan berarti menjadi rendah diri atau meragukan kebenaran yang diyakini. Sikap ini menunjukkan bahwa umat beragama memiliki jiwa besar dan mampu hidup berdampingan dengan damai meskipun berbeda keyakinan.

Dalam sloka Wasudaiva Kutumbakam dari Maha Upanisad 6.72, disebutkan: “Ayam bandhurayam neti gananā laghuchetasām, Udāracharitānām tu vasudhaiva kutumbakam”. Artinya: “Pemikiran bahwa hanya dialah saudara saya, selain dia bukan saudara saya – adalah pemikiran dari orang yang berpikiran sempit. Bagi mereka yang berwawasan luas, atau orang mulia, mereka mengatakan bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga besar.”

Akhirnya, sikap moderasi beragama menunjukkan bahwa kita sebagai umat beragama memiliki jiwa besar. Dengan keterbukaan terhadap perbedaan, kita memberikan ruang bagi berkembangnya nilai-nilai kehidupan yang harmonis. Agama Hindu, melalui konsep ajarannya, menuntun umat manusia untuk menerima perbedaan sehingga toleransi dalam keberagaman dan persatuan dalam keberagaman dapat terwujud.

Sikap terbuka, menghargai perbedaan, rendah hati, dan memberi maaf adalah empat sikap moderat yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga harmoni sosial. Dengan menginternalisasi nilai-nilai ini, kita dapat membangun peradaban yang humanis dan damai, sesuai dengan prinsip-prinsip moderasi beragama yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.

Ernawati Ernawati

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

1 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

1 bulan ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

1 bulan ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

2 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

2 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 bulan ago