Narasi

Menebar Kedamaian, Lawan Kekerasan

Pendidikan merupakan proses transformasi nilai untuk mencerdaskan anak didik,s ehingga mereka semua kelak menjadi generasi penerus yang akan membangun peradaban bangsa ini. Proses mendidik itu harus mencerdaskan dan mampu menginspirasi anak didik untuk bercita-cita setinggi langit, dan tidak boleh dibatasi ruang serta waktu. Biarlah mereka bermimpi, dan terus berikhtiar mewujudkan cita-citanya, untuk menatap hari esok dengan gemilang. Generasi esok  harus bertanggung jawab pada zamannya.

Tetapi persoalan besar bangsa ini sekarang ialah maraknya ideologi kekerasan yang telah menyusup dalam pendidikan Islam. Aktor utamanya mereka ialah kelompok radikalisme-terorisme yang terus membajak Islam menjadi garang, penuh amarah, bahkan seolah Islam identik dengan pedang. Padahal Islam sendiri merupakan rahmat bagi sekalian alam.

Bukti bahwa pendidikan kita sudah tersusupi radikalisme ialah, menurut survey yang dilakukan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) pada Oktober 2010 sampai Januari 2011, menemukan 50% pelajar setuju tindakan radikal, 25% guru menyatakan pancasila tidak relevan,  84,8% pelajar dan 76,2% guru setuju dengan penerapan syari’at Islam di Indonesia.

Ini sungguh fakta yang sangat mengejutkan serta membahayakan terhadap keutuhan NKRI. Cepat atau lambat ideologi itu akan bertambah besar dan menjadi bom waktu yang akan menyasar bangsa ini. Sebagai pemuda, tentu kita tidak boleh tinggal diam, lakukan langkah nyata untuk melawan penyebaran idelogi radikalisme di dunia pendidikan kita.

Langkah Nyata Tebar Pendidikan Islam Damai, Lawan Kekerasan

Apabila kita telisik lebih dalam, sebenarnya Islam tidak mengajarkan idelogi kekerasan, bahkan Nabi Muhammad saw sangat mengedepankan kasih sayang, penuh kedamaian dalam berdakwah. Semisal dalam fathu Makkah, ketika nabi dan para sahabat sudah menaklukkan Makkah, maka nabi meminta kepada para pimpinan pasukannya untuk menyatakan: hari ini adalah hari kasih sayang (al-yaum yaumul marhamah). Ini merupakan hari pengampunan, penuh kedamaian. Tetapi, ada salah satu sahabat nabi yang berteriak al-yaum yaumul malhamah (hari ini adalah hari pertumpahan darah). Sehingga menimbulkan ketakutan dikalangan Abu Sufyan, maka nabi menjelaskan bahwa ternyata sahabat tadi tidak fasih dalam pelafalan huruf ra, sehingga nabi memerintah sahabat tadi untuk diam, dan meminta semua untuk menyepakati keputusan.

Contoh lagi ketika Ali bin Abi Thalib tidak jadi membunuh kepada orang yang meludahinya. Nabi Muhammad saw yang malah menjenguk orang yang meludahi beliau setiap hari. Kisah Shalahuddin al-Ayyubi yang mengirimkan dokter kepada musuhnya, yakni raja Richard yang sedang sakit.

Ini semua menjadi bukti bahwa Islam menjunjung tinggi nilai kedamaian, dan sangat mengutuk kekerasan. Sehingga pelajaran seperti inilah yang harus terus kita sampaikan ke anak didik kita. Biar mereka mengenal Islam dengan sesungguhnya, jangan hanya mengenal Islam secara dangkal, tentu ini akan sangat berbahaya.

Bahkan dalam surat an-Nahl ayat 125, dijeskan secara rinci cara berdakwah dan mendidik umat, tidak ada anjuran kekerasan sama sekali. Dijelaskan dalam ayat itu, dakwah dengan hikmah (perkataan yang baik), mujahadah bi al lati hiya ahsan (berdiskusi dengan bijak). Nabi juga bersabda, dalam hadis Qudsi; sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku (HR. Muslim, Tirmidzi, Ibn Majah).

Nah, dengan begitu langkah nyata kita sekarang ialah; pertama, mendidik generasi muda kita dengan pelajaran Islam yang moderat dan egaliter. Kedua, Membudayakan sikap kritis ketika berselancar di dunia maya, mengingat dunia maya menjadi sarang infiltrasi ideologi kekerasan dan radikalisme. Ketiga, menguatkan kembali wawasan pancasila, dengan begitu generasi muda kita akan paham budaya dan jati diri bangsa ini yang sangat kuat dengan guyub rukun dan gotong royong, penuh dengan kedamaian.

Mari kita bersama bersatu padu bertekad mendidik anak didik kita dengan Islam yang sesungguhnya, yakni Islam damai, penuh dengan cinta kasih terhadap sesama. Lawan segala bentuk pendidikan Islam yang membajak Islam, yang malah mengajarkan kekerasan, jihad dengan pedang, dan perbuatan keji lainnya. Wallahu a’lam.

Lukman Hakim

Penulis adalah Peneliti di Sakha Foundation, dan aktif di gerakan perdamaian lintas agama Yogyakarta serta Duta Damai Yogya.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

1 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago