Narasi

Mengenang Sunan Kudus : Pembelajaran Toleransi melalui Ritual Berqurban

Kudus sebuah kota yang terletak di jalur pantai timur laut jawa tengah antara Semarang dan Surabaya menyimpan sebuah kisah toleransi yang hingga kini sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat Kudus. Menjelang perayaan Idul Adha biasanya masyarakat menyebelih hewan Qurban. Sapi, Kambing atau domba. Tapi, anehnya bagi masyarakat Qurban tak pernah menyebelih sapi sebagai hewan Qurban. Mengapa itu, terjadi ? apa ada hubungan dengan toleransi umat beragama.

Raden Jakfar Shadiq atau masyarakat sekitar menyebut dengan Sunan Kudus, seorang ulama penyebar agama Islam mempunyai andil besar dalam transformasi budaya masyarakat Kudus. Sebagaimana seorang ulama yang berdakwah untuk mengajak umat lebih baik.

Pendekatan dakwah yang dilakukan para wali penyebar Islam pada akhir abad ke-15 dan awal abad-16.  dalam buku Atlas Santri karya Agus Sunyoto menggunakan pendekatan yang sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat an-Nahl ayat 125 yang berbunyi,

“Hendaknya engku mengajak orang ke jalan Allah dengan hikmah, dengan peringatan ramah tamah serta bertukar pikiran dengan mereka melalui cara yang sebaik-baiknya.”

Dengan kebikjasanaan dakwah itu, Raden Jakfar Shadiq berusaha mendekati masyarakat untuk menyelami serta memahami apa yang diharapkan masyarakat. Dan dalam hal dakwah langsung ke tengah masyarakat perpaduan usur islam dengan unsur lokal yang dilakukan untuk menyebarkan kebaikan.

Cara dilakukan Raden Jafar Shadiq ini yang melenggeda adalah pelarangan masyarakat untuk menyebelih dan memakan daging sapi. Kita tahu semuanya, sapi merupakan hewan yang paling dihormati oleh umat Hindu.

Ada kisah menuturkan bahwa suatu saat Raden Jafar Shodiq dalam perjalanan dakwahnya tersesat di daerah lembah berhutan-hutan dan kehilangan jalan. Setelah berputar-putar sampai sore, Raden Jafar Shodiq mendengar suara genta yang ternyata berasal dari sekawanan sapi sedang berjalan. Radeng Jafar Shodiq mengikuti sapi-sapi itu berjalan sampai di sebuah desa. Oleh, karena itu merasa berhutang budi kepada sapi-sapi itu, Raden Jafar Shodiq mewanti-wanti penduduk untuk tidak memakan sapi.

Perayaan saat Idul Qurban yang disembelih masyarakat Kudus bukan sapi melainkan kerbau. Demikianlah, hingga saat ini di daerah Kudus tidak ditemukan penduduk yang menjual makanan terbuat dari daging sapi, dengan alasan tidak berani melanggar larangan Sunan Kudus.

Dari sebuah cerita Raden Jafar Shodiq tentang hewan qurban, ada cara yang menjadi catatan menarik yang masih relevan kita praktikan hingga saat ini.

Pertama, Dakwah yang Akomodatif. Raden Jafar Shodiq menjadi contoh ulama yang berusaha merangkul bukan mengusir. Cara-cara dakwah yang elegan dengan memperadukan antara budaya lokal dengan Islam menjadi sumbangsih terbesar dalam merawat keberagaman. Itu, mengapa. Banyak umat Hindu simpati dengan ajaran Islam. Dengan mengganti sapi menjadi kerbau, bukti bahwa Islam agama rahmatan lil alamin.

Kedua, Transformasi budaya. Raden Jafar Shodiq seorang ulama yang mampu menciptakan suatu tradisi baru. Tradisi ini berdasarkan cara metode yang membaur bersama masyarakat Kudus. Yang, awal-awal masih Hindu-Budha. Terlilhat cara-cara Raden Jafar Shodiq mencoba alkulturasi kebudayaan, misalnya kebiasaan mengkonsumsi babi menjadi ayam, menghormati sapi sebagai hewan suci agama hindu menganti dengan kerbau, arsitektur menara Kudus yang berciri agama Hindu yang tetap dipertahankan dan hingga kita menjadi identitas masjid Kudus.

Ketiga, Islam agama Rahmatan lil alamin. Ucapan itu, benar-benar di praktekan oleh Raden Jaffar Shodiq. Bagaimana Hablun Minnas, menghormati sesama umat manusia. Tidak membedakan agama maupun kastanya. Tidak ada pertempuran darah dalam mengajak seagama. Raden Jafar Shodiq tampil amat arif dan bijak. Lalu, menghormati sapi yang tak memasakan untuk berqurban oleh umat Islam. Itu tanda bukti bahwa Islam menjadi agama yang rahmat bagi seluruh umat Islam. Demikian, kisah Sunan Kudus atau Raden Jafar Shodiq. Keteladanan dalam menyembarkan agama Islam melalui dakwah yang akomodatif. Tradisi melarang menyembelih sapi sebagai hewan Qurban hingga kini merupakan bukti kehadiran Islam tidak merusak tradisi umat Hindu ketika. Justru, sikap menghargai menjadi jalan tengah untuk menciptakan kerukunan dan keberagaman umat beragama. Itulah, cara dakwah begitu momental pembelajaran berqurban bagi sunan Kudus, hingga sekarang. Tugas kita, merawat dan meneruskan perjuangan itu.

This post was last modified on 30 Juli 2020 12:44 PM

Atho’ilah Aly Najamudin

Recent Posts

Pranciskan Indonesia!: Ketika Slogan Menggelegar Menggantikan Kedalaman Intelektual

Tanda seru dalam slogan “Pranciskan Indonesia!” seolah menyimpan energi perlawanan yang meluap. Ia terdengar heroik,…

1 jam ago

Saat Konflik Geopolitik Diubah Menjadi Perang Akidah

Konflik geopolitik dunia kini telah menjadi bagian dari percakapan generasi muda Indonesia. Melalui media sosial,…

1 jam ago

Manuver Black Bloc di Balik Demo Perancis: Alarm Keras bagi Demokrasi Indonesia

Gelombang protes masif yang melanda Prancis dalam beberapa waktu terakhir kembali menarik perhatian dunia internasional.…

1 jam ago

Dajjal, Perang, dan Imam Mahdi: Mengapa Kajian Akhir Zaman Laku di Kalangan Kelas Menengah Muslim Urban?

Ada fenomena menari yang terjadi di lanskap keislaman Indonesia kontemporer. Di tengah menguatnya kelompok kelas…

24 jam ago

Di Balik Konflik Saudi–Houthi: Bahaya Geopolitik dan Ekonomi yang Sering Disederhanakan Politisasi Agama

Konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali memasuki fase kritis. Eskalasi yang semakin…

24 jam ago

Menjernihkan Simplifikasi Geopolitik: Merawat Solidaritas Kemanusiaan Tanpa Merobohkan Rumah Bangsa

Kepedulian generasi muda Indonesia terhadap gejolak geopolitik dunia, khususnya yang terjadi di dunia Islam, hari…

24 jam ago