Kebangsaan

Menyoal Ideologi sebagai Sumber Terorisme

Secara pribadi saya tidak ingin mengabaikan beberapa teori sosial yang menjelaskan motivasi kekerasan bernama terorisme yang cukup banyak dari perspektif politik, ekonomi, psikologi. Dengan berbagai perspektif inilah menunjukkan bahwa terorisme adalah fenomena kejahatan yang teramat kompleks. Bisa jadi akan berbeda antara pengalaman satu negara dengan negara lainnya dan antara satu gerakan dengan gerakan lainnya atau bahkan antar individu berbeda dalam konteks motivasinya.

Namun, hal yang pasti bahwa gerakan terorisme merupakan sebuah organisasi yang terorganisir yang memiliki satu ide, gagasan dan tujuan. Tujuan inilah yang saya katakan sebagai impian atau dalam bahasa lain sebagai ideologi. Cara pandang dalam melihat sesuatu, merubah sesuatu dan meraih sesuatu, itulah ideologi. Dan terorisme sangat terkait dengan akar yang bernama ideologi.

Tidak ada alasan kuat yang bisa menghantarkan seseorang rela mati jika tidak ada hal yang menjustifikasi perbuatannya sebagai suatu pilihan yang suci dan mulia. Persoalan ekonomi, rendahnya pendidikan, balas dendam dan represi penguasa adalah kondisi yang menghantarkan kerja ideologi semakin indoktriner. Ideologisasi dan indoktrinisasi semakin menjalar ketika bertemu dengan faktor pendukung yang cukup kompleks.

Terlepas dari berbagai faktor tersebut, ideologi memainkan peran cukup penting sebagai akar dan fondasi kekerasan bernama terorisme. Sejak dari dulu subtansi ideologis ini tetap sama dan selalu menghiasi fenomena terorisme di Indonesia. Cita-cita ideologis masih sama hanya mengalami transformasi mengikuti dinamika perkembangan zaman.

Sejak pemberontakan DI/TII dengan cita-cita negara Islam, fenomena terorisme di Indonesia nampaknya masih mempunyai akar ideologis yang sama. Tujuan merubah dasar negara dalam bentuk negara agama menjadi pemicu berbagai aksi kekerasan di Indonesia. Meskipun aktor dan ideolog dihukum mati, kerja ideologi tidak pernah sirna. Gerakan ini pun bermetamorfosa dalam bentuk gerakan yang beragam. Namun, cita ideologis tetap sama.

Perkembangan selanjutnya, pertemuan kesamaan ideologi domestic dengan gerakan islamisme global memunculkan mutasi gerakan terorisme global. Akar ideologi domestik ditransformsi bukan sekedar mendirikan negara agama di Indonesia, tetapi diperluas dengan jangkauan wilayah yang melintasi batas teritori. Konsepsi mantiqi dalam pedoman perjuangan Jama’ah Islamiyah (JI) Indonesia merupakan salah satu bentuk transformasi ideologis gerakan terorisme di Indonesia.

Kelompok baru JI telah memainkan peran cukup penting dalam sebaran aksi terorisme di Indonesia pasca Reformasi. Metamorfosa gerakan dan organisasi semakin tertata dengan rapid an memiliki jangkauan yang cukup luas. Rekrutmen, kaderisasi, indoktrinasi, dan pelatihan menjadi pola yang mengokohkan gerakan ini sebagai musuh dalam selimut bagi kedaulatan negara.

Tentu masih sama dengan doktrin ideologis, tahun 2014 memunculkan metamorfosa gerakan yang lebih mengerikan. Lahirnya ISIS di Irak-Suriah menandai lahirnya gerakan baru yang lebih mengerikan dalam sejarah terorisme. Akar ideologi yang masih sama dengan cita-cita mendirikan negara, tetapi mulai menguasai wilayah negara. ISIS menjadi magnet lahirnya organisasi baru sekaligus sebagai timbulnya perpecahan akibat khilafiyah gerakan di dalam organisasi teror.

Di Indonesia, JI dengan organisasi turunannya dan ISIS Indonesia dengan organisasi turunannya menjadi ancaman serius yang keduanya salah merebut pengaruh di kalangan kelompok militan. Keduanya masih mempunyai impian ideologis yang sama, tetapi metamorfosa gerakannya menjadi sangat beragam. ISIS kemudian yang lebih sangar mudah pudar, tetapi JI dengan organisasi yang tertata dan bergerak di bawah tanah lebih menunggu momentum.

Ancaman ideologis dan gerakan yang pertama kali lahir dari sejarah pergulatan bangsa ini nampaknya akan terus menjadi ancaman laten yang tidak akan pernah berhenti dan sirna. Hanya dua pemantik yang akan mengurai keberadaan kelompok-kelompok ini. Peristiwa politik luar negeri yang mendukung gerakan mereka dan peristiwa dalam negeri yang bisa menyamankan kondisi mereka.

Karena itulah, menjadi sangat penting bagi seluruh negara ini untuk selalu merawat persatuan dan tidak mau dipecah belah. Kondisi saling tuduh dan provokasi adalah ladang subur bagi kelompok ini untuk mencari celah kelengahan bangsa ini. Tidak ada yang mustahil gerakan pemberontakan ideologis akan terulang jika masyarakat abai terhadap ancaman laten ini.

Modal persatuan adalah senjata terbaik. Dan Pancasila merupakan jawaban yang akan terus relevan dalam menghadang berbagai ancaman gerakan ideologis yang dapat merusak kedaulatan bangsa.

This post was last modified on 29 November 2022 2:11 PM

Septi Lutfiana

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

5 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

5 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago