Categories: Kebangsaan

Natal Perayaan Kita Bersama

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang latar belakang perayaan Natal yang setiap tahunnya diselenggarakan oleh umat Kristiani di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, perayaan natal sesungguhnya merupakan sebuah hari yang bersejarah bagi umat Kristiani karena hari itu diyakini sebagai hari kelahiran seorang penebus dosa umat manusia, Isa Almasih. Meskipun terdapat pula perbedaan pendapat tentang hari kelahiran Isa Almasih atau Yesus Kristus, perayaan ini disambut dengan meriah dan penuh kebahagian. Sehingga bukan saja perayaan ini diisi dengan suka cita semata, tetapi juga diisi dengan ritual-ritual keagamaan yang sangat sakral

Perayaan ini semakin menarik perhatian khususnya di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, terutam karena masih adanya silang pendapat diantara kita tentang hukum menyampaikan selamat kepada umat Kristiani saat melaksanakan Natal sebagaimana mereka menyampaikan selamat kepada umat Islam pada hari-hari besar Islam.

Setiap tahunnya umat Islam di Indonesia khususya para pegiat media sosial ramai membicarakan hukum tentang menyampaikan selamat kepada umat Kristiani pada hari Natal, ada yang membolehkan ada juga yang tidak membolehkan, bahkan menilainya haram. Perbedaan ini sesungguhnya telah berulang-ulang kali dan perbedaan ini adalah masalah klasik, walaupun masing-masing pihak mengutarakan dalil-dalil pamungkas masing-masing.

Fenomena ini sesungguhnya tidaklah menguntungkan kita sebagai bangsa Indonesia yang sejak dulu telah hidup dalam kerukunan antara beragama. Bahkan sebagai bangsa yang besar ini, semua agama yang telah eksis di tanah air telah ikut bersama-sama memainkan peran penting dalam mencapai kemerdekaan bangsa, sehingga perbedaan keyakinan dan keagamaan bangsa Indonesia bukanlah penghalang untuk memperkuat persatuan dan kesatuan serta mempersatukan visi dan misi ke depan bahkan perbedaan ini telah menjadi kekuatan yang besar dalam mencapai cita-cita bangsa Indonesia.

Perayaan natal yang dirayakan oleh saudara-saudara kita umat Kristiani sesungguhnya tidaklah keluar dari keyakinan kita umat Islam. Sebagai umat yang wajib mengakui dan mengimani semua Rasul dan Nabi yang telah diutus oleh Allah SWT ke muka bumi ini untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan termasuk meyakini dan mengimani kenabian dan kerasulan Isa Almasih. Bahkan Alquran sendiri sarat dengan kisah-kisah Isa Almasih dan ibunya Maryam yang sangat menarik dan menjadi petunjuk atas kekuasaan Allah atas segala-galanya. Bukan saja itu, dalam Alquran sendiri terdapat surah khusus untuk ibu kandung Isa Almasih yaitu “Surah Maryam”. Sungguh sebuah kehormatan tersendiri bagi Isa Almasih yang juga diberikan kelebihan dan keutamaan sebagai mujizat baginya dalam berdakwah tentang kebenaran.

Keyakinan terhadap kebenaran dakwah dan wahyu yang disampaikan oleh Isa Almasih merupakan sesuatu yang mutlak diakui dan diyakini sebagai sebuah kebenaran Ilahi, walaupun kita tetap berasumsi bahwa ajaran Isa Almasih telah mengalami perubahan yang sangat mendasar melalui beberapa konseli-konseli yang diselenggarakan oleh tokoh-tokoh agama Kristiani setelah seratus tahun lebih diangkatnya Isa Almasih ke langit. Namun persoalan tersebut sejatinya bukanlah faktor yang membuat kita enggan menjadi bagian dari perayaan ini paling tidak menyampaikan selamat dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Sesungguhnya perbedaan yang selama ini mencuat ke permukaan diantara kita tentang boleh tidaknya menyampaikan selamat kepada saudara yang beragama Nasrani bukanlah persoalan prinsipil dalam keyakinan kita sebagai umat Islam, apalagi seperti telah disinggung di atas, menghargai perayaan agama lain tidak mengeluarkan kita dari keyakinan Islam (kafir). Selain itu, sebagai bangsa Indonesia kita telah sepenuhnya menerima dan meyakini tentang ketuhanan yang maha Esa sebagai dasar falsafah negara kita. Sehingga persoalan tersebut sebaiknya kita hindari dan mengedepankan kebersamaan sebagai dasar utama dalam memperkuat keutuhan dan ketahanan nasional negara kita.

Suaib Tahir

Suaib tahir adalah salah satu tim penulis pusat media damai (pmd). Sebelumnya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi timur tengah. Selain aktif menulis di PMD juga aktif mengajar di kampus dan organisasi

Recent Posts

Masjid Rasa Kelenteng; Akulturasi Arsitektural Islam dan Tionghoa

Menarik untuk mengamati fenomena keberadaan masjid yang desain arsitekturnya mirip atau malah sama dengan kelenteng.…

2 bulan ago

Jatuh Bangun Konghucu Meraih Pengakuan

Hari Raya Imlek menjadi momentum untuk mendefinisikan kembali relasi harmonis antara umat Muslim dengan masyarakat…

2 bulan ago

Peran yang Tersisihkan : Kontribusi dan Peminggiran Etnis Tionghoa dalam Sejarah

Siapapun sepakat bahwa kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia tidak didominasi oleh satu kelompok berdasarkan…

2 bulan ago

Yang Diskriminatif adalah yang Jahiliyah

Islam melarang sikap diskriminasi, hal ini tercermin dalam firman Allah pada ayat ke-13 surat al-Hujurat:…

2 bulan ago

Memahami Makna QS. Al-Hujurat [49] 13, Menghilangkan Pola Pikir Sektarian dalam Kehidupan Berbangsa

Keberagaman merupakan salah satu realitas paling mendasar dalam kehidupan manusia. Allah SWT dengan tegas menyatakan…

2 bulan ago

Ketahanan Pangan dan Ketahanan Ideologi : Pilar Mereduksi Ekstremisme Kekerasan

Dalam visi Presiden Prabowo, ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas utama untuk mewujudkan kemandirian bangsa.…

2 bulan ago