Categories: Kebangsaan

Pasti, Tak Ada Kehidupan bagi Aliran ‘Keras’

Sebulan penuh selama Agustus lalu Republik Indonesia sedang banjir keberkahan. Pasalnya, sejumlah organisasi berbasis massa Islam di tanah air menggelar hajatan lima tahunan yang sering dikenal dengan nama Muktamar alias Kongres. Sebut saja Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Al Washliyah, dan Majlis Ulama Indonesia (MUI).

Sebagai organisasi yang paling diikuti oleh sebagian besar umat Islam Indonesia, mereka berkumpul bukan sekedar membahas nasib organisasi melainkan juga ‘nasib’ umat Islam secara umum yang menjadi tanggung jawabnya. Para ulama di masing-masing organisasi tersebut menyadari banyaknya tantangan dan masalah yang sedang dihadapi umat Islam, dan mencari jawab atas persoalan-persoalan itu.

Jika diikuti secara seksama, tantangan umat Islam Indonesia berkisar pada radikalisme atau kekerasan atas nama agama. Hal itu bisa dilihat dari hampir serupanya esensi dari masing-masing tema besar yang digunakan dalam gelaran Muktamar organisasi itu. Nahdlatul Ulama misalnya mengusung tema ‘Islam Nusantara’, sebuah tema yang ingin menyadarkan kaum Muslim Indonesia tentang pola keberislaman yang akomodatif dan ramah sejak masa penyebaran awal di zaman Walisongo.

Muhammadiyah tak ketinggalan, organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan mengusung tema besar ‘Islam Berkemajuan’. Tema ini dimaksudkan agar umat Islam melakukan lompatan pemikiran agar bisa beradaptasi dengan lingkungan dan kemajuan zaman. Dengan mengusung tema ini upaya pedangkalan dan perusakan peradaban Islam oleh segelintir kelompok ekstrimis.

Al Washliyah pun nyaris serupa. Organisasi ini menekankan peningkatan akhlak mulia untuk menwujudkan Islam yang Bermartabat. Organisasi ini mengingatkan pentingnya mengusung akhlak mulia demi menjaga kehormatan agama, bukan justru menjatuhkan kekerasan agama dengan sikap anarkisme.

Puncaknya berada di MUI (Majlis Ulama Indonesia) di akhir bulan Agustus dengan mengusung tema ‘Islam Wasthiyah’. Wasathiyah dalam bahasa Indonesia berarti moderat. MUI merasa bahwa sikap moderat di masa kini perlu ditonjolkan oleh umat Islam. Tampaknya MUI juga prihatin terhadap perkembangan Islam di tanah air yang makin hari makin ‘menyeramkan’.

Tema-tema Muktamar tersebut sejatinya menandakan adanya kekhawatiran yang sama atas maraknya problem anarkisme agama yang makin menjadi belakangan hari. Kesadaran yang sama itulah yang membuat ulama Indonesia –yang notabene adalah para pewaris Nabi- prihatin atas masa depan Islam di Indonesia.

Sebagai organisasi yang mewadahi para ulama di bumi Indonesia, tema muktamar MUI itu mengesankan sebagai pengukuhan atas tema-tema ormas-ormas lainnya. Nampaknya semua elemen umat Islam punya satu visi, yaitu mengedapankan Islam yang moderat sebagai wujud keadaban Islam yang besar.

Dengan tema-tema tersebut tampaklah bahwa sesungguhnya model keislaman ala Indonesia adalah praktek keagamaan yang ramah dan santun. Jika digabungkan tema-tema tersebut kurang lebih bermakna, “Islam Moderat yang memiliki kearifan lokal Nusantara demi Kemajuan Peradaban dan kehormatan Agama”.

This post was last modified on 9 September 2015 12:19 PM

PMD

Admin situs ini adalah para reporter internal yang tergabung di dalam Pusat Media Damai BNPT (PMD). Seluruh artikel yang terdapat di situs ini dikelola dan dikembangkan oleh PMD.

Recent Posts

The Christchurch Call: Bagaimana Selandia Baru Mengintegrasikan Anti-Ekstremisme Dalam Kurikulum Pendidikan?

Tragedi Penembakan Masjid Christchurch pada 15 Maret 2019 menjadi titik balik bersejarah bagi Selandia Baru.…

41 menit ago

Skin Gratis yang Harganya Mahal

Seorang anak berusia sebelas tahun duduk tenang di sudut ruang tamu. Ia tidak riuh, tidak…

42 menit ago

Mahalnya Untuk Merasa “Diakui”

Pada 7 November 2025, ledakan mengguncang masjid SMAN 72 Jakarta Utara saat khotbah Jumat. Sekitar…

43 menit ago

Kekhalifahan ISIS di Roblox: Gamifikasi Ekstremisme yang Menyasar Gen Alpha

Di dunia nyata, kekhalifahan Islamic State of Iraq and Syiria alias ISIS yang berpusat di…

1 hari ago

Transformasi Digital Parenting sebagai Strategi Antisipasi Eksploitasi Ideologis pada Platform Gim Daring

Bagi anak dan remaja masa kini, gim daring bukan lagi sekadar wahana eskapisme sesaat. Ruang…

1 hari ago

Bagaimana Ekstremis Mengeksploitasi Game Online?

Sepanjang 2025, Densus 88 mencatat sekitar 110 anak berusia 10 hingga 18 tahun di 23…

1 hari ago