Faktual

Penangkapan Teroris di Sambas dan Pentingnya Deteksi Dini Ancaman Radikalisme Menjelang Pemilu 2024

Tim Gabungan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-teror Polri dan Polda Kalimantan Barat kembali menangkap seorang terduga teroris berinisial UH (28) di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat pada Kamis (19/10/2023). Kepala Bidang Humas Polda Kalimantan Barat Kombes Pol Raden Petit mengungkapkan bahwa UH (28) merupakan seorang pria yang dalam kesehariannya berprofesi sebagai seorang tukang ojek di daerah tersebut.

Menurut Kapolda Kalimantan Barat Irjen Pipit Rismanto, menjelang pelaksanaan Pemilu 2024, pihaknya akan terus melakukan operasi untuk memastikan bahwa Pemilu 2024 benar-benar terlaksana secara aman. Sebab, belajar dari Pemilu 2024, menurutnya Pemilu 2024 sangat rentan dijadikan sebagai kesempatan untuk melakukan aksi terorisme oleh kelompok radikal.

Menurut Kepala BNPT Komisaris Jenderal Rycko Amelza Dahniel serangan teror di Indonesia dari tahun 2016-2023 memang terus turun hingga 89 persen. Namun, semua itu adalah kondisi yang muncul di atas permukaan saja sebagaimana sering dijelaskan dalam perspektif teori “gunung es”.

Karena itu, menurut Komjen Rycko, semua pihak mesti harus tetap waspada dengan berbagai dinamika gerakan yang muncul, terutama di tahun politik yang tengah mulai memanas. Bisa jadi, kondisi dan keadaan itu dimanfaatkan kelompok teroris untuk melancarkan serangannya.

Menurut Menkopohukan Mahfud MD, aksi atau serangan terorisme cenderung meningkat di tahun politik atau detik-detik jelang Pemilu. Pada 2019, misalnya, tercatat ada 11 kali serangan teror dan 15 perencanaan serangan teror yang berhasil digagalkan oleh aparat keamanan kita.

Urgensi Deteksi Dini Ancaman Teror di Tahun Politik

Karenanya, untuk itu deteksi dini serangan teror di tahun politik menjadi suatu hal yang sangat penting dilakukan demi menjaga keamanan dan stabilitas di tahun politik. Deteksi dini serangan teror merupakan langkah preventif yang krusial dalam menghindari kerugian yang ditimbulkan oleh aksi terorisme.

Serangan teror bisa berdampak luas, tidak hanya menimbulkan kerugian materiil dan korban jiwa, tetapi juga mempengaruhi stabilitas politik dan sosial suatu negara. Salah satu aspek urgensi deteksi dini serangan teror adalah mencegah penyebaran ideologi ekstrem dan aksi teror yang membahayakan.

Teroris sering kali menggunakan tahun politik sebagai platform untuk mempropagandakan ideologi mereka, dan ini bisa menggerus fondasi demokrasi. Dengan melakukan mendeteksi dini terorisme di tahun politik, pemerintah dapat mengambil langkah-langkah untuk membatasi penyebaran ideologi ekstrem yang berpotensi merusak proses politik yang sehat.

Selain itu, deteksi dini serangan teror juga dapat dimaknai sebagai bentuk perlindungan negara terhadap hak asasi manusia warga negara. Serangan teror sering kali mengakibatkan pelanggaran hak asasi manusia yang serius, penghilangan nyawa, penyiksaan, dan penganiayaan yang keji.

Lebih lanjut, deteksi dini serangan teror juha akan membantu meminimalkan risiko terhadap pihak sipil. Serangan teror sering kali tidak hanya ditujukan kepada pejabat pemerintah atau militer, tetapi juga terhadap masyarakat umum. Di tahun politik, berkumpulnya massa dalam acara politik atau kampanye dapat menjadi target yang menarik bagi para teroris.

Karena itu, sebagai bentuk antisipasi, penting bagi aparat keamanan untuk, pertama, melakukan pemantauan intelijen yang efektif. Dengan jaringan intelijen yang efektif untuk memantau aktivitas potensial dari kelompok teroris atau individu yang mencurigakan dalam dunia politik, aparat keamanan bisa dengan mudah melakukan deteksi dini dan memastikan keamanan pemilu.

Kedua, lakukan analisis perilaku. Analisis perilaku ini pentinguntuk mengidentifikasi perubahan perilaku yang mencurigakan dalam individu yang mungkin terlibat dalam aktivitas teroris. Dengan demikian, aparat keamanan dan para penegak hukum bisa memastikan bahwa Pemilu 2024 steril dari ancaman kelompok teror yang bisa merongrong ketenangan di tahun politik.

This post was last modified on 20 Oktober 2023 1:33 PM

Rusdiyono

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago