Narasi

Romantisme Diponegoro dan Anatomi Khilafah di Nusantara

Pada Minggu 2 Agustus 2020 kemarin, ada semacam Talk show dalam rangka launching film Jejak Khilafah di Nusantara. Bersama Ismail Yusanto, Rokhmat S. Labib, Nicko Pandawa dan Felix Siauw. Disiarkan secara langsung di YouTube Khilafah Channel. Hal ini membicarakan panjang lebar tentang jejak “romantisme” masa lalu pada masa kerajaan Diponegoro yang dijadikan ikon besar kebangkitan khilafah Islamiyah. Membentuk satu konstruksi sejarah Nusantara yang dijadikan “playmaker” untuk menjembatani kekhilafahan atau kekaisaran Turki Utsmani di Indonesia.

Bahkan para pengusung khilafah ini mencatat seorang tokoh sejarawan dari Inggris yang sangat terkemuka yaitu Prof. Peter Cary. Sebagai “bukti” data analisis kebenaran sejarah tersebut. Tercatat sebagai (Special Guest) dalam Talk Show tersebut. Tanpa sepengetahuan Prof. Peter Cary. Namanya terpampang dalam pamflet. Padahal beliau secara authority tidak mengetahui atau bahkan tidak pernah ikut campur terkait proyek film Jejak Khilafah di Nusantara tersebut.

Sehingga Prof. Peter Cary menolak namanya digunakan tanpa izin atau tanpa sepengetahuan beliau. Juga mengklarifikasi, serta membantah sejarah yang dimanipulasi hanya untuk menarik kesadaran masa lalu untuk memuaskan hasrat tegaknya khilafah di Indonesia saat ini.

Baca Juga : Kejayaan Nusantara, Anakronisme Sejarah dan Penguatan Karakter Bangsa

Prof. Peter Cary mengklarifikasi dalam Group WhatsApp Tur Inggris Jawa, mengatakan: “Yes I did a brief interview very close to the beginning of the pandemic to put them straight in what Diponegoro did or did not do with regard to the ottoman empire and vice-versa what the ottoman Turks knew about Diponegoro and the Java war (This through a Turkish scholar who knows the ottoman archives Hekki Kedi). And the answer to the latter is Zero they knew nothing and cared nothing java-whereas from DN’s side is was all to  do with a rather distant and romantisme admiration for the Ottoman Turks as the last bastion of the Muslim world against the west. We know this from the Dutch and Javanese sources-for the rest we know nothing. So ideas that Diponegoro received Turkish troops or cannon are all nonsense. So if they are selling my name they are doing it without  my permission and on the basis of a short interview which stresses the importance of source”.

Prof. Peter Carey ini membantah pemahaman terkait sejarah Diponegoro yang ada kaitannya dengan Turki Utsmani. Terkait tudingan bahwa Diponegoro dibantu oleh Turki Utsmani. Karena beliau meluruskan fakta sejarah terkait realitas masa lalu. Mengkritisi apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh Diponegoro. Serta sebaliknya, apa yang diketahui oleh Turki Utsmani tentang Diponegoro dan perang Jawa. Hal ini melewati hasil investigasi melalui seorang sarjana Turki yang familiar dengan arsip Utsmaniyah  hekki Kedi.

Karena dalam acara tersebut membentuk pemahaman bahwa sejarah Nusantara pada masa peperangan Diponegoro lahir dari bangkitnya kekhilafahan yang didukung oleh Turki Utsmani. Tentu acuannya adalah “kejayaan” masa lalu yang ingin dibangkitkan kembali. Karena ini merupakan benteng terakhir di dunia muslim untuk melawan Barat.

Mereka menganggap bahwa Turki yang membantu kerajaan Diponegoro dengan pasukannya. Menyalurkan meriam dan alat-alat persenjataan untuk melawan penjajah pada saat itu. Karena film tersebut memuat tentang kejayaan masa lalu yang ingin dibangkitkan kembali.            

Bahwa dari hasil investigasi tersebut menemukan fakta bahwa Turki tidak tahu apa-pun tentang Diponegoro dan perang Jawa. Mereka juga tidak peduli. Begitu juga dari pihak Diponegoro sendiri hanya “kekaguman yang jauh” dan romantisme pada orang-orang Turki Utsmani. Edward Said juga sering mengulas bahwa Turki Utsmani memang dijadikan wadah terakhir untuk menampung kekuatan umat muslim. Tentu ini juga sangat mengkhawatirkan bagaimana ini akan dimanipulasi sebagai kekuatan baru untuk terbentuknya politik kekuasaan berbasis agama yang condong memelintir fakta sejarah Nusantara.

This post was last modified on 5 Agustus 2020 12:52 PM

Saiful Bahri

Recent Posts

Dajjal, Perang, dan Imam Mahdi: Mengapa Kajian Akhir Zaman Laku di Kalangan Kelas Menengah Muslim Urban?

Ada fenomena menari yang terjadi di lanskap keislaman Indonesia kontemporer. Di tengah menguatnya kelompok kelas…

22 jam ago

Di Balik Konflik Saudi–Houthi: Bahaya Geopolitik dan Ekonomi yang Sering Disederhanakan Politisasi Agama

Konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali memasuki fase kritis. Eskalasi yang semakin…

22 jam ago

Menjernihkan Simplifikasi Geopolitik: Merawat Solidaritas Kemanusiaan Tanpa Merobohkan Rumah Bangsa

Kepedulian generasi muda Indonesia terhadap gejolak geopolitik dunia, khususnya yang terjadi di dunia Islam, hari…

22 jam ago

AI Berfatwa Moderasi, AI juga Berfatwa Ekstremisme

Pada 2023, jemaat sebuah gereja di Furth, Bavaria, Jerman, mendengarkan khotbah 40 menit yang dibawakan…

4 hari ago

Tirani Algoritma dan Ekstremisme digital: Membumikan Etika Digital, Menjaga Nalar Kritis

Kebisingan di lini masa media sosial belakangan ini telah menjadi realitas keseharian yang tak terhindarkan.…

4 hari ago

Mengapa Dakwah Membutuhkan Ilmu sekaligus Literasi Media

Di ruang digital, pesan keagamaan tidak hanya bersaing dengan ceramah lain, tetapi juga dengan potongan…

4 hari ago