Narasi

Solidaritas Siber Kuat,Teroris Minggat

Indonesia damai bukanlah ilusi. Kedamaian sejatinya adalah karakter dasar nusantara. Kondisi kekinian memang masih dijumpai batu-batu sandungan dalam menggapai kembali damai. Antara lain kekerasan, konflik, radikalisme, hingga terorisme. Namun modal dasar kultur kedamaian menjadi spirit menggapai dan merawat Indonesia damai.

Ratusan tahun bangsa ini dijajah kolonialisme. Persatuan dan kesatuan sebagai manifestasi solidaritaslah kunci mencapai kemerdekaan. Oleh karenanya upaya mengisi kemerdekaan dengan merawat kedamaian membutuhkan kembali penguatan solidaritas.

Solidaritas yang di era kini tidak cukup hadir di dunia nyata, namun juga di dunia maya (siber). Hal ini tidak terlepas dari tuntutan era informasi. Solidaritas siber dibutuhkan guna menandingi dan melawan upaya-upaya pihak-pihak yang tidak menginginkan kedamaian. Selain itu juga juga perlu dalam upaya bersama mengkampanyekan kedamaian itu sendiri. Momentum Ramadhan mesti dioptimalkan sebagai pintu lompatan membangun solidaritas siber yang berkesinambungan.

Ajaran Solidaritas

Esensi puasa menyentuh aspek komprehensif, mulai ritual hingga sosial. Aspek sosial tersebut salah satunya adalah solidaritas. Djohantini (2014) mengemukakan bahwa  sikap ta’awun atau solidaritas sosial  merupakan hasil dari proses transendensi (hablu min Allah) yang membuahkan sifat kemanusiaan yang luhur (hablu min al-nas).

Produk yang diharapkan dari terciptanya solidaritas adalah kesalehan sosial setiap muslim. Kesalehan sosial mengandung makna memiliki kepedulian untuk berhubungan secara harmonis dengan lingkungan sosial dan alam sekitar. Selanjutnya mampu ikut bertanggung jawab terhadap pengembangan masyarakatnya atau memiliki keunggulan partisipatoris yang dilandasi tingginya kualitas iman dan takwa (Suparto, 2008).

Secara etimologi arti solidaritas adalah kesetiakawanan atau kekompakkan. Dalam bahasa Arab berarti tadhamun atau takaful. Islam adalah agama yang mempunyai unsur syariah, akidah, muamalah dan akhlak.

Nilai kebaikan solidaritas dalam Al-Quran diantaranya tertuang dalam firman-Nya “… Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS. Al-Maidah: 2). Solidaritas menjadi pondasi nilai Islam yang merupakan sistem sosial. Solidaritas akan menjaga martabat manusia dan mendatangkan kebaikan tanpa membedakan suku, bahasa dan agama.

Rasululllah SAW telah membuat ilustrasi terkait solidaritas. Sebagaimana disabdakan, “Perumpamaan orang-orang mumin dalam cinta dan kasih sayangnya seperti badan manusia, apabila salah satu anggota badan sakit maka seluruh anggota badan merasakannya.” (HR Al-Bukhari). Islam sangat menganjurkan pada solidaritas kebersamaan dan sangat anti yang berbau perpecahan, menghembuskan sipat permusuhan di masyarakat. Kekuatan suatu komunitas atau negara terletak pada solidaritas kebersamaan dan persatuan.

Al-Quran bahkan mengecam setiap muslim yang tidak melaksanakan solidaritas padahal mampu. Sebagaimana terungkap dalam firman Allah SWT, “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan barang berguna (tolong menolong).” (QS. Al-Maauun : 1-7).

Aksi Solidaritas Siber

Eksistensi dunia maya (siber) merupakan keniscayaan seiring kemajuan zaman. Baik-tidaknya output siber  tergantung manusia pengginanya. Siber mempermudah dan mempercepat informasi dan komunikasi. Siber  dapat membantu dakwah dan transformasi nilai-nilai kemanusiaan. Sebagaimana dunia nyata, siber memiliki warga yang disebut nettizen.

Ali bin Abi Thalib pernah memberi nasihat bijak “Kebaikan tidak terorganisasi akan terkalahkan pleh kejahatan terorganisasi”. Musuh-musuh kedamaian selalu bersatu guna menggapai ambisinya. Dengan demikian melawan mereka membutuhkan persatuan orang-orang baik dan saleh yang jauh lebih kuat. Termasuk di dunia siber.

Berbagai langkah aksi dapat dilakukan dalam membangun solidaritas siber. Pertama, menyebarkan informasi atau segala hal yang bernilai kebaikan dan berorientasi kedamaian. Langkahnya dapat memviralkan melalui media sosial atau media siber lainnya.

Kedua, memperbanyak konten-konten positif yang bernuansa kedamaian. Konten tersebut selain mendorong upaya damai juga penting berisi ajakan melawan segala hal yang merintangi dan mencederai iklim damai. Hal ini merupakan aktualisasi prinsip amar ma’ruf nahi munkar di dunia maya.

Ketiga, bersama-sama melakukan konter  terhadap informasi, komentar atau konten lain yang bernuansa radikal dan menganggu kedamaian. Hal ini menjadi manifestasi jihad membangun kedamaian melalui dunia maya.

Keempat, melanjutkan solidaritas sober ke solidaritas dunia nyata. Antar warganet dapat dilakukan kopi darat yang produktif, seperti untuk diskusi, kajian, atau  sekadar kumpul santai. Jika dipandang perlu, maka upaya-upaya hukum dapat ditempuh dalam melawan konten yang mengusik kedamaian.

Produk Ramadhan adalah ketakwaan yang kontekstualisasinya menyangkut seluruh aspek kehidupan. Kesalehan sosial yang terpancar melalui bangunan solidaritas sosial menjadi salah satu pencirinya. Puasa mestinya tidak sekadar dijalani secara formalistik, tetapi juga  kontekstual dan actual. Pancaran kedamaian dapat diuji pada bulan-bulan setelag Ramadhan. Solidaritas siber menjadi elemen penting di era kontemporer ini guna membendung konten kekerasan. Solidaritas siber mesti terus dipupuk dan diperkuat hingga kelompok teroris  yang melihat akan takut dan minggat atau pergi dari Indonesia.

RIBUT LUPIYANTO

Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration); Blogger

View Comments

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

1 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

1 bulan ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

1 bulan ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 bulan ago