Narasi

Tahun 2023 Bersih dari Politisasi Mimbar Agama

Mumpung awal tahun 2023, kita tentunya tidak boleh kecolongan lagi. Perihal gerakan politisasi mimbar agama, yang selalu dijadikan motif penyebaran narasi radikal, intolerant dan terorisme.

Mimbar agama sejak dulu sering-kali menjadi tempat kelompok radikal membangun propaganda ideologis. Misalnya di Masjid, ada oknum-oknum yang meracuni pola-pikir umat dengan paham agama yang eksluaif.

Kita tidak bisa menganggap hal sepele dengan yang namanya “akar pola-pikir radikal”. Seperti membiarkan propaganda-propaganda “jangan berteman dengan non-muslim” atau “non-muslim musuh Islam” di mimbar-mimbar agama.

Sebab, banyak orang yang bersikap arogan dan penuh kebencian setelah mendengarkan ceramah-ceramah yang semacam itu. Ini tidak bisa kita biarkan mengakar di mimbar-mimbar agama.

Tahun 2023 adalah waktu yang tepat bagi kita untuk memulai sebuah langkah bersama. Untuk membersihkan segala motif politisasi mimbar agama. Utamanya dalam konteks ceramah-ceramah radikal Itu.

Kita dapat melakukannya dengan menolak, protes atau bahkan kita berhak keluar. Jika, di mimbar agama ada sosok ustadz, pemuka agama atau siapapun yang berbicara di depan. Lalu, mengajarkan kebencian dan untuk memusuhi.

Sebab, agama tidak pernah mengajarkan hal semacam itu. Bahkan, agama selalu bertentangan dengan propaganda yang demikian. Maka, ini merupakan satu prinsip yang harus kita pegang dalam menjaga marwah agama kita.

Mimbar agama seharusnya menjadi tempat seseorang menambah keimanan. Sekaligus bisa menambah nilai keagamaan yang mencerahkan. Serta, penuh dengan kebijaksanaan nilai agama dalam membangun maslahat bangsa ini.

Kita tidak bisa membiarkan rumah Tuhan layaknya Masjid, Gereja, Kuil dan rumah ibadah lainnya. Dilumuri dengan propaganda politik identitas, politik kebencian dan narasi permusuhan antar umat beragama.

Apalagi, tahun 2023 merupakan momentum panasnya guncangan politik. Ini perlu kita waspadai dengan politisasi mimbar agama. Perihal gerakan propaganda radikal, intolerant dan terorisme.

Tahun politik akan melahirkan berbagai macam narasi politik identitas. Bahkan, melahirkan klaim-klaim keagamaan sebagai penunjang. Ini perlu kita waspadai demi menjaga kemaslahatan bangsa dari perpecahan akibat makar politik yang semacam itu.

Jadi, tahun 2023 adalah waktu yang tepat bagi kita untuk memulai sebuah resolusi. Yaitu membersihkan mimbar agama dari politisasi. Kita tidak boleh terus-menerus kecolongan dengan motif yang semacam itu.

Mimbar agama harus kita selamatkan dari para pembajaknya. Agar, umat beragama bisa terhindar dari penularan virus radikal, intolerant dan terorisme. Ini adalah satu paradigma penting yang harus kita selesaikan di negeri ini.

This post was last modified on 4 Januari 2023 1:00 PM

Sitti Faizah

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

11 jam ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

1 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

2 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

2 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 bulan ago