Narasi

Tak Ada Alasan untuk Tidak Damai Lagi

Atas izin Tuhan, negara Indonesia tercatat sebagai negara kuat sebab perdamaian dan kerukunan warganya. Perbedaan suku, ras, dan antar golongan bukan menjadi penanda perpecahan melainkan sebagai wujud kekayaan yang terus diberdayakan. Alhasil, bhineka tunggal ika menjadi semboyan bersama demi meraih cita-cita mulia bersama. Di masa penjajahan hingga awal kemerdekaan, semboyan ini terus digelorakan sehingga “meski awalnya tidak masuk akal” namun kenyataannya Indonesia bisa merdeka dan terus menunjukkan kebesarannya di hadapan dunia.

Saat ini, Indonesia sudah semakin mapan. Tantangan fisik dari luar tidak lagi kentara. Semua ini tidak terlepas dari semangat perdamaian dan persatuan dalam perbedaan. Karena, jika ada negara lain yang secara terang-terangan akan menjajah negara Indonesia, maka dengan kekuatan persatuan warganya, Indonesia akan dengan mudah menumpas penjajah yang berani datang.

Meskipun demikian, kemapanan negara Indonesia ternyata tidak selama membuat perdamaian dan persatuan warganya menjadi terpupuk. Justru karena negara ini telah dianggap memiliki kekuatan persatuan, tidak sedikit warga negaranya bercerai berai.

Contoh terkecil dan teranyar betapa warga negara Indonesia tidak lagi menjunjung tinggi semangat persatuan dan perdamaian adalah tersebarnya tayangan-tayangan tidak menyenangkan terkait ulama yang masuk ke dalam dunia perpolitikan. Dalam rangka menjegal lawan politik, tidak sedikit seseorang berusaha mencari “kesalahan kecil” seorang ulama untuk selanjutnya dibesar-besarkan. Bahkan, tepuk tangan ulama atau kehadirannya dalam kampanye politik selalu dicari celah “kesalahan”-nya.

Orang yang menyalahkan ulama ini seakan tidak sadar bahwa apa yang dilakukan adalah tidak tepat dalam menempatkan sesuatu (zalim). Mereka seakan tidak sadar bahwa ulama tersebut sedang menapaki jalan politik. Maka, menjadi wajar manakala seorang ulama yang sedang menapaki dunia politik hadir dalam acara kampanye nasional dengan berbagai seremonial yang yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Yang mesti diingat, saat itu posisinya adalah politikus.

Kondisi ini sama halnya dengan adanya seorang politikus yang memuliki kemampuan agama yang tinggi. Mereka bisa saja disebut sebagai politikus manakala terjun di dunia politik. Namun, ketika mereka mengisi acara keagamaan karena kemampuan ilmu agamanya yang mumpuni, maka mereka sedang menapaki jalan dakwah. Mereka bisa saja disebut sebagai dai atau ustaz. Dan, hal ini menjadi wajar. Tidak pas ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa orang yang mengisi acara keagamaan tersebut tidak pas karena posisinya sebagai politikus.

Yang menjadi masalah selanjutnya adalah, adanya oknum yang dengan sengaja menjadi “kompor” atas masyarakat luas akan perpecahan melalui media maya. Mereka dengan sadar “mencari celah” terhadap “lawan”-nya untuk dijelek-jelekkan. Bahkan, mereka rela membingkai perkara yang normal menjadi negatif di mata khalayak luas dengan beragam pendekatan yang dilakukan. Bermula dari sini, masyarakat luas akan tergiring kea rah tertentu dalam menilai seseorang atau kelompok. Sementara, kelompok oposisi juga melakukan hal serupa.

Dengan adanya tindak saling profokasi antar-kelompok untuk membenci satu sama lain, masyarakat luas pun akhirnya tercerai berai. Dengan membuka Whats App (WA) yang selalu ada di gegamannya, youtube, twitter, intagram, facebook, dan lain sebagainya, mereka akan timbul rasa memusuhi terhadap orang atau kelompokyang memiliki perbedaan dengan dirinya.

Kenyataan yang mutakhir terjadi ini mesti menjadi perhatian bersama. Jangan sampai persatuan dan perdamaian yang selama ini telah terjalin dengan baik akan bubar gegara kontestasi politik atau kepentingan segelintir orang. Bagaimanapun, perpecahan yang ada semacam ini tidak pernah aka nada untungnya. Bagi para provokator, mereka bukan hanya memiliki beban tanggung jawab di dunia saja melainkan juga di akhirat. Bagi masyarakat, mereka akan menjadi korban dari profokasi orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Wallahu a’lam.

Anton Prasetyo

Pengurus Lajnah Ta'lif Wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama (LTN NU) dan aktif mengajar di Ponpes Nurul Ummah Yogyakarta

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

2 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

2 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 minggu ago