Narasi

Bhineka Tunggal Ika Selaras dengan Ajaran Agama

Indonesia bisa dikatakan sebagai negara dengan tingkat intensitas religius masyarakat yang tinggi. Hal ini ditandai dengan banyaknya percakapan keagamaan di ruang publik. Mirisnya, walau demikian, banyak di antara penganutnya yang tidak memahami Tuhannya secara utuh. Sikap keberagamaan sering kali hanya tertuju pada simbol-simbol agama yang dijadikan sebagai jubah mewah dalam bentuk identitas. Bergesernya fungsi agama dalam diri seorang individu diyakini menjadi penyebab awal mula dimana perbedaan agama bermetamorfosis menjadi alat perpecahan. Sifat agama di Indonesia yang cendrung di anut secara berkelompok memantik isu etnis masuk kedalamnya. Bahkan agama bagi yang dangkal memahaminya dijadikan isu streotif kesukuan.

Rentetan narasi di atas, memberi sinyal, bahwa keyakinan yang pada mulanya, jalan keselamatan dan perdamaian, justru menjadi ujung tombak perpecahan yang siap dilemparkan bagi mereka yang kurang mengerti tentang Tuhan. Komplotan yang tidak memahami Tuhan ini, sering berteriak dengan mengutip teks-teks suci yang ditimpakan kepada orang lain, guna memperlihatkan bahwa kelompok mereka lah yang paling disenangi oleh Tuhan. Ironisnya, tidak sampai di situ, typical orang seperti ini amat mudah dihasut terpengaruh ajakan teroris.  Dengan kepiawaiannya, oleh teroris menyulap wajah agama yang teduh dan meyakini bhineka tunggal ika menjadi wajah yang kejam nan bengis. Dengan berbagi akal, seperti rekayasa doktirin mengatasnamakan agama, mereka melegalkan  tindakan menghilangkan nyawa orang lain. Bahkan menggambarnya sebagai ladang amal yang berbentuk pengaliran darah.

Padahal Sebenarnya semua agama menyepakati, tidak memperbolehkan tindakan kekerasan bagi penganutnya, malah untuk menyakiti seekor hewan sekalipun, apalagi mengalirkan darah manusia. Jika saja kita merenung lebih dalam dengan melihat seluruh ciptaan Tuhan, kita akan melihat, Tuhan begitu mencintai perbedaan, bahkan terlihat jelas Tuhan tidak menciptakan bunga satu aroma, tidak menciptakan manusia satu warna, tidak menciptakan kita masyarakat Indoensia dengan satu suku. Justru Tuhan menciptakan kita berbeda-beda sebagai tanda atas kuasa-Nya. Perbedaan agama dan warna kulit adalah awal kita untuk saling bertegur sapa. Dengan perbedaan itu juga sebenarnya kita kuat karena memiliki kemampuan dan ciri khas masing-masing yang bisa dipergunakan untuk membangun bangsa dan negera.

Bhineka tunggal ika merupakan bahasa Tuhan yang tidak menggunakan teks suci. Artinya dalam konteks ke-Indonesia-an, rasa bertuhan hadir untuk membingkai hidup berbangsa dan bernegara dengan merajut perbedaan menjadi persatuan. Bukan untuk memperlebar jurang pemisah di antara anak bangsa. Kita semestinya dituntut oleh rasa kebertuhanan itu untuk saling mengerti dan memahami tentang perbedaan masing-masing. Orang yang bertuhan dengan baik akan merawat ciptaan-Nya, merawat dan melestarikan perbedaannya. Karena dengan begitu, kita akan merasakan iman yang sesungguhnya.

Perlu disadari, bahwa agama diciptakan mutlak bagi manusia, sebaliknya manusia tidak diciptakan untuk agama. Dengan kesadaran ini, kita tidak akan menumpahkan darah manusia hanya untuk agama. Karena manusia lebih esensi daripada agama. Kekeliruan pola pandang terhadap agama akan mengahacurkan sendi-sendi kebersamaan kita selama ini dan Tuhan pun sangat membenci perpecahan. Dikarenakan setiap agama selalu berkampanye tentang perdamaian dan persatuan,  baik dalam kitab sucinya maupun dalam pengamalan-pengamalannya.

Akhirnya, perlu kita garis bawahi, bahwa Tuhan yang menciptakan seluruh alam dan penghuninya dengan bermacam ragam bukan untuk saling menggusur dan menyalahkan. Akan tetapi, macam ragam itu justru menimbulkan harmonisasi alam sehingga saling membutuhkan satu sama lainnya. Tak jauh beda dengan masyrakat kita, kebhinekaan kita, ibarat senar gitar yang berbeda-beda dan memanjang di garisnya masing-masing namun menimbulkan irama yang indah. Itulah kita, Indonesia.

This post was last modified on 16 Oktober 2018 6:01 PM

Suheri Sahputra Rangkuti

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago