Keagamaan

Benarkah Menghormati Bendera Adalah Musyrik

Musyrik adalah perbuatan yang paling dibenci oleh Allah Swt dan mereka tidak akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah karena perbuatan tersebut sungguh sangat tercelah di sisi Allah. Musyrik atau mempersekutukan tuhan atau meyakini kekuatan dan kemahakuasaan diluar kekuasaan tuhan dan meyakini bahwa ada pencipta selain Allah adalah dosa besar dan Allah telah menegaskan dalam Alquran bahwa “Siapapun yang mempersekutukan tuhan maka hancurlah semua amal-amal kebaikannya (ayat) dan di ayat lain disebutkan bahwa “sesungguhnya kemusyrikan itu adalah penganiayaan yang sangat besar”.

Oleh karena itu, hal pertama yang diserukan oleh Rasulullah Saw sejak berdakwah  adalah mengajak orang-orang disekitarnya agar berhenti menyembah berhala dan meyakini bahwa patung-patung atau berhala-berhala yang ada didepannya adalah bentuk kemusyrikan dan tidak akan memberikan manfaat bagi kehidupan di dunia dan lebih-lebih di akhirat nanti. Ia mengajak  agar meyakini Allah hanya satu dan tidak ada duanya dan  Dia-lah yang memberi manfaat dan kehidupan dan Dia-lah di atas segala-galanya. Hanya Allah-lah yang patut disembah dan tidak ada yang lain yang harus disembah.

Dakwah Rasulullah Saw inilah yang disebut sebagai ajaran Tauhid, yaitu mengesakan Allah dengan sesugguhnya dan meniadakan Tuhan selain Allah, kepadanyalah kita meminta tolong dan kepadanya kita minta perlindungan. Ajaran ini merupakan inti dalam Islam dan setiap pemeluk Islam harus meyakini dan memegang teguh masalah ini.

Seseorang yang meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Saw adalah Rasulnya serta  meyakini bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah dan tidak sekutu baginya, menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, seperti puasa, sholat lima waktu, membayar zakat dan Haji jika mampu berarti ia telah beriman dengan sesungguhnya dan tidak termasuk sebagai orang yang musyrik.

Namun suatu hal yang cukup menarik perhatian karena diantara kita saat ini ada yang meyakini bahwa memberikan penghormatan kepada bendera merah putih pada saat upacara 17 Agustus merupakan bagian dari kemusyrikan dan sama saja dengan menyembah berhala.

Bangsa Indonesia yang umumnya adalah penganut Islam termasuk yang membuat bendera merah putih dan merangcang lambang negara dengan haqqul yakin tidak pernah meyakini bahwa bendera merah putih dan lambang garuda adalah simbol-simbol ketuhanan yang mampu  memberi manfaat dan mudharat kepada siapapun. Bahkan sampai saat ini tidak ada satupun bangsa Indonesia yang menjadikan lambang garuda dan bendera merah putih sebagai Wasila untuk mendapatkan karunia dan berkah dari Allah Swt dan mereka tetap menjadikan doa langsung kepada Tuhan sebagai wasila untuk mendapatkan apa yang diidam-idamkan. Ia semata-mata sebagai ciri khas dan identitas kita sebagai bangsa Indonesia sebagaimana bangsa-bangsa lainnya yang juga memiliki ciri khas dan identitas kenegaraan dan kebangsaan.

Bangsa Indonesia menghormatinya pada saat upacara bukan berarti meyakini bahwa bendera dan lambang itu akan memberikan manfaat dan akan mencegah dari kemudharataannya dalam hidupnya, akan tetapi semata mata karena ia adalah simbol negara dan ciri khas kita sebagai bangsa Indonesia tanpa meyakini apapun terhadap kedua lambang tersebut.

Dalam Alquran Allah berfirman

Artinya: Bukanlah kebaikan itu menghadap wajak ke Barat dan ke timur akan tetapi kebajikan yang sesungguhnya adalah beriman kepada Allah Swt , hari kemudian,  para malaikatnya, kitab-kitabnya, para nasbi dan rasulnya dan membelanjakan sebagian hartanya kepada mereka yang dicintai dari kerabatnya, fakir miskim, ibnu sabildan menuanikan sholat, membayr zakat dan menepati janjinya dan sabar dalam keadaan susah dan bahagia mereka ituilah orang orang yang benar dan mereka itulah termausk orang yang bertaqwa.(S. Albagara 177).

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa tunduk atau menghadapkan muka ke arah barat atau timur bukanlah sebaikan yang sesungguhnya akan tetapi kebaikan yang sesungguhnya adalah beriman dan mempercayai Allah serta menjalankan seluruh perintah-perintahnya dan berbuat baik dengan sesama itulah iman yang sebenarnya. Wallahu alam

 

 

 

Suaib Tahir

Suaib tahir adalah salah satu tim penulis pusat media damai (pmd). Sebelumnya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi timur tengah. Selain aktif menulis di PMD juga aktif mengajar di kampus dan organisasi

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago