Keagamaan

Benarkah Nasionalisme Modern Bertentangan dengan Ukhuwah Islamiyyah?

Salah satu debat klasik di kalangan umat Islam adalah tentang nasionalisme dan ukhuwah Islamiyyah. Sebagian umat Islam menganggap nasionalisme dan ukhuwah islamiyyah sebagai dus hal yang seiring sejalan. Sebaliknya, ada sebagian muslim yang menganggap nasionalisme dan ukhuwah islamiyyah adalah dua hal yang bertentangan.

Debat ini bisa dilacak di masa era kolonialisme dan pasca kolonialsoeme. Ketika era kolonialisme berakhir, banyak negara berpenduduk mayoritas muslim yang memilih sebagai negara republik demokrasi. Bukan kembali ke model monarki atau menjadi negara Islam. Konsep  negara bangsa itu dipilih lantaran mayoritas negara berpenduduk muslim telah mengenal nasionalisme.

Jika merujuk pada teori Benedict Anderson, nasionalisme menyebar ke seluruh belahan dunia berkat adanya mesin cetak. Ditemukannya mesin cetak memungkinan ide atau gagasan nasionalisme ditulis dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.

Kini, ketika dunia memasuki babak baru, yakni abad digital, paham nasionalisme mulai mendapat gugatan. Nasionalisme yang bertumpu pada gagasan cinta tanah air dianggap bertentangan dengan konsep ukhuwah Islamiyyah atau ummah yang berbasis pada persaudaraan universal. Benarkah demikian?

Satu hal, kita perlu hati-hati memahami dua konsep ini. Pertama, nasionalisme merupakan paham yang mengajarkan cinta tanah air. Artinya, setiap individu memiliki komitmen untuk mencintai tanah air tempat ia lahir dan tinggal.

Konsep nasionalisme umumnya bersifat kewilayahan. Artinya, sekelompok orang yang tinggal di satu wilayah yang sama membentuk satu entitas kebangsaan. Terlepas dari identitas agama, suku, ras, warna kulit, dan sebagainya.

Sedangkan ukhuwah Islamiyyah adalah persaudaraan universal yang melintasi batas wilayah dan dilandasi oleh kesamaan identitas agama, yakni Islam. Ukhuwah Islamiyyah menjadi dasar filosofis konsep ummah yang menghendaki penyatuan seluruh umat Islam ke dalam satu jejaring solidaritas.

Nasionalisme, pada dasarnya tidak anti agama. Komitmen untuk mencintai negara dan bangsa serta tanah airnya, tidak harus dilakukan dengan meninggalkan identitas agama yang dipeluknya. Seorang muslim bisa menjadi nasionalis, tanpa meninggalkan keislamannya. Demikian pula umat Buddha, Hindu, Kristen, dan umat agama lainnya.

Seorang muslim yang nasionalis tetap bisa mengamalkan prinsip ukhuwah islamiyyah. Muslim di Indonesia buktinya, tetap bisa bersolidaritas pada penderitaan umat Islam di belahan bumi lain seperti Palestina, Myanmar (Rohingya), atau China (Uyghur).

Maka, nasionalisme modern yang kita kenal hari ini tidak bertentangan dengan konsep ukhuwah Islamiyyah atau ummah. Nasionalisme modern bukanlah model nasionalisme sempit (chauvinistik) yang menganggap bangsa sendiri lebih utama ketimbang bangsa lain. Nasionalisme modern justru sesuai dengan konsep ukhuwah Islamiyyah yang mengajarkan solidaritas universal tanpa batas.

Di zaman digital dimana semua entitas agama dan budaya saling terkoneksi ini, tugas kita bukanlah mencari titik pembeda antara nasionalisme modern dan ukhuwah Islamiyyah, namun mencari titik temu antara keduanya. Lantas, bagaimana caranya?

Langkah pertama adalah mengubah persepsi kits tentang apa itu Ummah dan ukhuwah Islamiyyah. Selama ini, sebagian besar umat Islam masih salah persepsi tentang apa itu Ummah dan ukhuwah Islamiyyah.

Ummah masih sering disalahpahami sebagai kesatuan umat Islam dalam satu sistem politik yang sama, yakni khilafah Islamiyyah. Padahal, konsep ummah lebih luas dari itu. Ummah dalam perspektif modern adalah kesatuan umat manusia sebagai universal dalam satu tatanan global yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Dengan definisi tersebut, maka tidak akan lagi ada pertengahan antara nasionalisme dan ukhuwah Islamiyyah (ummah).

Langkah selanjutnya adalah menyeimbangkan antara kepentingan nasionalisme dengan ukhuwah islamiyyah. Seringkali, di sebagian umat Islam, nasionalisme kerap dinomorduakan dibawah ukhuwah islamiyyah.

Kepentingan untuk membela atau bersolidaritas terhadap saudara sesama muslim kerap kali mengesampingkan kepentingan nasional, bahkan acapkali membahayakan keamanan bangsa sendiri.

Misalnya, dalam isu-isu Palestina, Suriah, atau Pakistan-India yang justru kerap menjadi celah masuknya ideologi transnasional yang anti kebangsaan. Disinilah pentingnya menyeimbangkan antara kepentingan untuk bersolidaritas terhadap saudara muslim di luar negeri, dengan menjaga nasionalisme atau kecintaan terhadap tanah air sendiri.

Terakhir, namun tidak kalah pentingnya adalah membangun kesadaran di kalangan umat bahwa solidaritas terhadap saudara sesama muslim tetap bisa dilakukan tanpa melepaskan nasionalisme.

Arkian, debat tentang nasionalisme dan ukhuwah islamiyyah kiranya harusnya diarahkan ke arah yang konstruktif, bukan destruktif. Artinya, nasionalisme tidak perlu dipertentangkan dengan ukhuwah islamiyyah. Bahkan, sebaliknya nasionalisme modern bisa beriringan dan mendorong terwujudnya ukhuwah islamiyyah.

Desi Ratriyanti

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago