Narasi

Kampus Bersatu; Menjaga Civitas Akademika dari Virus Radikalisme

Berbagai macam tes yang telah dilewati untuk bisa lulus seleksi masuk perguruan tinggi yang telah diimpikan semenjak dari bangku sekolah. Hingga impian itu berhasil dan resmi diterima sebagai calon mahasiswa baru. Pencapaian ini sebagai bentuk dari awal mula yang menurut Dr. Fahrudin Faiz resmi menjadi  orang dewasa. Baik di dalam berpikir, dalam bertindak, memilih arah kehidupan dan bahkan kedewasaan di dalam mencapai puncak ilmu pengetahuan yang begitu kompleks untuk benar-benar di dalami dengan baik.

Sebagai mahasiswa baru, penting untuk mengetahui budaya kampus, sosialisasi akademik serta pembekalan karakter dan mentalitas untuk bisa menunjang kemampuan diri seorang mahasiswa baru pada saat belajar mengajar sangat penting di lakukan oleh pihak kampus. Utamanya sosialisasi tentang pembekalan akademik yang sifatnya pembentukan nalar kritis, mentalitas kebangsaan dan wawasan yang luas serta pemahaman-pemahaman tentang keindonesiaan, nilai Pancasila, toleransi dan kebudayaan lokal yang begitu kompleks.

Karena selama ini, yang belum terpikirkan adalah maraknya para virus radikalisme dan penegak ideologi khilafah menyelinap masuk untuk memprovokasi mahasiswa baru untuk bisa bergabung ke dalam organisasinya dan mau mengikuti aksi-aksi yang akan diselenggarakan oleh organisasi atau kelompok tersebut.

Begitu banyak mahasiswa dan mahasiswi melakukan orasi dan kampanye sambil membawa poster yang bertuliskan “Tegakkan negara khilafah” “Islam sebagai sistem Negara Indonesia” dan seruan tentang “Islam Yes, Pancasila No”. Di satu sisi, potensi paham-paham anti NKRI dan Pancasila ini bukan berarti lahir dari rahim kampus. Tetapi propaganda dan imingan para kelompok tersebut mampu mengambil hati mahasiswa sejak mereka masih tidak tahu-menahu terkait kegiatan kampus dan lain sebagainya.

Berangkat dari keteledoran ini, justru semakin banyak mahasiswa dan mahasiswi di Indonesia yang terkontaminasi oleh paham-paham radikalisme. Mereka juga memprovokasi teman-temannya untuk mengikuti. Begitu juga teman yang sudah mengikuti juga memprovokasi teman lainnya untuk ikut bergabung. Sehingga, siklus ini terus berjalan dan mengakar ke mana-mana. Sampai virus ini terus menyebar ke seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kampus tersebut. Sehingga pada akhirnya kampus menjadi lumbung terbentuknya akar radikalisme dan gerakan anti NKRI dan nilai Pancasila.

Maka sangatlah perlu untuk mencegah dan mendidik sejak dini para mahasiswa baru agar tidak mudah mengikuti organisasi-organisasi yang anti terhadap kebinekaan dan Pancasila. Serta juga membekali mahasiswa baru dengan mentalitas dan wawasan kebangsaan. Menanamkan karakteristik yang kritis dan berwawasan luas. Serta membekali pemahaman-pemahaman yang berkaitan dengan kebersamaan dan persatuan.

Langkah ini adalah mencegah sebelum mengobati. Karena mencegah mahasiswa baru agar terhindar dari virus-virus kekerasan dan penegak ideologi khilafah adalah langkah preventif menjaga kampus agar tidak menjadi lumbung penyebaran paham-paham yang anti NKRI, Pancasila dan ajaran agama yang penuh persaudaraan. Serta membangun mentalitas mahasiswa baru yang memiliki wawasan kebangsaan sebagai imunitas diri agar kebal dari virus tersebut.            

Oleh karena itu, penting untuk seluruh kampus di Indonesia, baik yang negeri maupun swasta semuanya tanpa terkecuali. Untuk bisa bersatu menjaga civitas akademika agar terbebas dari virus intolerant, radikalisme dan para pengusung ideologi khilafah. Yaitu dengan menanamkan nilai-nilai persaudaraan sejak mahasiswa baru. Mengajarkan tentang nilai-nilai agama yang penuh rahmat. Menguatkan mentalitas yang pancasilais. Serta menanamkan karakteristik mahasiswa baru agar memiliki daya nalar kritis yang baik. Agar memiliki kesadaran untuk ikut berpartisipasi menjaga NKRI.

This post was last modified on 21 September 2020 1:53 PM

Amil Nur fatimah

Mahasiswa S1 Farmasi di STIKES Dr. Soebandhi Jember

Recent Posts

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

3 hari ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

3 hari ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

6 hari ago

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

4 minggu ago

Agama Cinta Sebagai Energi Kebangsaan Menjinakkan Intoleransi

Segala tindakan yang membuat kerusakan adalah tidak dibenarkan dan bukan ajaran agama manapun. Kita hidup…

1 bulan ago

Bagaimana Menjalin Hubungan Antar-Agama dalam Konteks Negara-Bangsa? Belajar dari Rasulullah Sewaktu di Madinah

Ketika wacana hubungan antar-agama kembali menghangat, utamanya di tengah menguatnya tuduhan sinkretisme yang dialamatkan pada…

1 bulan ago