Narasi

Nabi Muhammad: Menyatukan Perbedaan tanpa Melebur Perbedaan

Menuju bangsa yang besar, Indonesia harus mempertimbangkan bagaimana pemimpin yang bisa merangkul semua. Hal ini melihat bagaimana Indonesia memiliki sosial-kultur yang berbeda satu sama lain, tatkala tidak diperhatikan dan dipimpin yang merangkul semua, maka Indonesia rawan untuk bercerai.

Menengok pemimpin yang ideal suatu daerah dan waktu, maka kita bisa meniru beberapa nabi yang sukses memimpin suatu bangsa yang tercerai-berai menjadi bangsa yang besar dan disegani bangsa-bangsa yang lain. Dalam buku ini mengulas seni memimpin nabi-nabi dalam sejarah perjalanan manusia.

Salah satu yang menarik dilihat adalah gaya kepemimpinan Muhammad. Ia hanya melakukan kurang dari setengah abad untuk mempersatukan bangsa Arab yang tercerai berai lantaran permusuhan antar suku. Tetapi capaian yang dilakukan dalam dakwahnya melampaui segala penjuru dunia. Tetapi ia melakukan kepemimpinan ke semua bangsa, yang meliputi watak, selera dan budaya masing-masing, dan mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Baca juga : Akhlak Nabi sebagai Manifestasi Pendidikan Karakter

Salah satu cendekiawan barat, Molier, pernah mengatakan bahwa mustahil pula untuk memperbaiki kebiadaban komunitas seperti itu –jahiliah, dalam waktu singkat tidak kurang lebih dari 23 tahun dan mengangkatnya ke garda terdepan dalam kemanusiaan. Tetapi hal ini dapat dilakukan oleh Muhammad.

Kenyataan ini jelas membuktikan bahwa kepemimpinan Muhammad memang bersifat universal dan dapat diterima semua suku bangsa. Itulah yang membuat Muhammad diakui sebagai murabbi paling berpengaruh, paling menonjol, dan paling kredibel di sepanjang sejarah manusia.

Dari capaian yang dilakukan oleh Muhammad dalam mempersatukan suku-suku yang ada di dataran Arab di selayaknya ditiru pemimpin sekarang dan segenap orang yang menginginkan negara Indonesia maju tanpa cerai-berai.  Memimpin yang dapat diterima oleh siapa pun tanpa melihat agama, suku dan wilayahnya. Kemudian timbul pertanyaan, memimpin seperti apa yang dilakukan Muhammad?

Muhammad mengedepankan contoh akhlak yang baik kepada orang-orang sekitarnya, dan mengedepankan rasa kasih-sayang serta kemanusiaan. Baik itu kejujuran, keteraturan, kemanusiaan dan kasih sayang. Mengedepankan rasa kemanusiaan saat menyampaikan misi-misinya, tanpa menyinggung dan memaksa orang lain untuk sependapat dengan dirinya. Kita bisa melihat contoh-contoh yang tersebar, ketika ia diusik, mereka tidak membalas dengan amarah, tetapi dengan kasih sayang dan ilmu pengetahuan (halaman 78).

Muhammad selalu berinteraksi dengan manusia secara utuh, baik dari aspek akal, hati, jiwa maupun perasaan tanpa sedikit pun mengabaikan salah satu di antaranya. Muhammad telah berhasil memotivasi keempat potensi yang dimiliki setiap manusia itu sehingga mampu mengubah orang yang sebelumnya biadab menjadi beradab.

Salah satu cara Muhammad memimpin dengan kasih dan cinta tatkala berhadapan dengan Umar bin Khattab yang terkenal dengan watak keras dan berlawanan dengan dirinya. Melihat hal itu, Muhammad tak lantas membalas dengan watak keras pula, tetapi dengan cara lembut dan penuh kasih sayang. Dengan tindakan ini, kemudian Umar keras menjadi kawan dan taat apa yang diperintahkan oleh Muhammad.

Kita dapat menyimpulkan bahwa kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang selalu menerima manusia seutuhnya: rohnya, perasaannya, kelembutannya, pikirannya secara utuh dan seimbang kemudian diarahkan ke tujuan penciptaannya yang sejati. Sama sekali tidak ada pengabaian ataupun ketidakkeseimbangan mengenai kemanusiaan dalam memimpin suatu kaum.

Rekam jejak keberhasilan Muhammad dalam mendidik umat manusia ini tentu menjadi bukti lain yang mengukuhkan kebenaran layak diteladani. Selain itu, Muhammad harus menjadi teladan semua lini –paling pokok adalah teladan akhlaknya. Tetapi yang paling terpenting bahwa Muhammad memimpin bukan untuk mengadu domba masyarakat. Tetapi Muhammad mempersatukan perbedaan yang di muka bumi. Keberagaman yang dikarunikan oleh Allah tetap dijaga dalam rasa kemanusiaan. Muhammad mempersatukan bukan untuk menyeragamkan keberagaman terus. Tindakan-tindakan semacam ini, kemudian memberikan nuansa menyejukkan, damai dan nyaman mengenai ajaran Islam.

Novita Ayu Dewanti

Fasilitator Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia

View Comments

Recent Posts

Ruang Maya Sehat, Demokrasi Kuat

Menjelang Pilkada Serentak 2024, ruang digital di Indonesia menjadi semakin sibuk. Media sosial, yang telah…

43 menit ago

Mencegah Mudharat “Jualan Agama” Pada Pilkada 2024

Tahun 2024 adalah tahun politik. Pesta demokrasi melalui Pemilu telah. Kini masyarakat siap menyambut pemilihan…

44 menit ago

Prinsip Teo-Antroposentrisme Kuntowijoyo, Jembatan antara Dimensi Ilahi dan Realitas Sosial

Kelompok konservatif seperti Hizbut Tahrir Indonesia selalu menjadikan agama sebagai palang pintu terakhir segala problematika…

46 menit ago

Politik dan Kesucian: Menyimak Geliat Agama di Pilkada 2024

Dunia politik, pada dasarnya, adalah sebuah dunia dimana orang menjadi paham akan manusia dengan segala…

48 menit ago

Potensi Ancaman Pilkada 2024; Dari Kekerasan Sipil ke Kebangkitan Terorisme

Sebuah video rekaman detik-detik “carok” di Sampang, Madura beredar di media sosial. Kekerasan itu terjadi…

1 hari ago

Mencegah Agenda Mistifikasi Politik Jelang Pilkada

Dalam ranah politik jelang Pilkada 2024, kita dihadapkan pada fenomena yang mengkhawatirkan, yakni potensi meningkatnya…

1 hari ago