Narasi

Penyakit Intoleransi Menggerogoti Kebhinnekaan

Meski bhinneka tunggal ika (berbeda-beda namun tetap satu) menjadi semboyan bangsa Indonesia sejak awal, namun hingga saat ini penyakit intoleransi terus menggerogoti. Para penganut paham intoleran seakan ingin menjadikan angan-angan/pendapat pribadi menjadi paham universal. Maka yang terjadi penyesatan, pentakfiran, hingga tindakan radikal menjadi tontonan nyata harian kita. Negara Indonesia sedang sakit, sakit intoleransi yang sangat akut.

Lihatlah, dalam bidang agama, segelintir kelompok kaum muslimin memiliki paham keras yang dengan mudahnya menyalah-nyalahkan kelompok lain yang seagama, lebih-lebih yang beragama lain. Kepada kelompok seagama, mereka membahas perkara furu’ (cabang) sebagai senjata untuk menyalahsesatkan orang lain. Dengan dalil yang mereka yakini benar, atau bahkan hanya karena mengikuti panutan yang tak jelas, mereka menganggap kebenaran mutlak ada pada dirinya. Hanya dengan membaca sepotong ayat al-qur’an serta terjemahan, mereka berani mengafirkan ulama yang kapasitas keilmuan dan hikmah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dirinya.

Fenomena semacam ini semakin hari semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya kaum muslimin tercerai-beraikan. Mereka tidak sadar bahwa keberadaannya di negara Indonesia adalah minoritas dan tidak banyak diterima oleh banyak kalangan. Namun, karena pada dasarnya masyarakat pribumi memiliki nilai toleransi yang sangat tinggi, mereka dibiarkan “hidup” di bumi Nusantara. Mereka juga dibiarkan untuk melaksanakan apa yang menjadi keyakinannya terkait dengan keagamaan asalkan tidak merugikan orang/kelompok lain.

Meskipun publik memiliki nilai toleransi yang begitu besar, sekelompok umat Islam garis keras ini tidak tahu diuntung. Mereka “membalas” kebaikan kelompok lain dengan berbagai kejahatan. Selain kepada kelompok lain yang seagama selalu menyesatkan dan mengafirkan, terhadap pemeluk agama lain, mereka juga berusaha membumihanguskan. Bagi mereka seakan setiap orang yang beragama non-Muslim adalah halal darahnya. Bahkan, dalam rangka membumihanguskan orang-orang non-Muslim beserta atribut, hingga bangunan, mereka menganggap diri sebagai mujahid manakala bisa melakukannya. Maka, bukan tidak mungkin mereka dengan mudah merakit bom untuk bunuh diri dalam rangka membumihanguskan kelompok lain.

Sungguh sangat menyedihkan manakala kita memikirkan kondisi Indonesia serta agama Islam akhir zaman. Hanya karena segelintir masyarakat Indonesia yang beragama Islam, maka wajah Indonesia dan agama Islam seakan monster. Agama Islam yang cinta damai serta rahmatan lil ‘alamin memiliki citra yang sangat garang. Negara Indonesia yang mayoritas berpenduduk Muslim tampak menakutkan di mata dunia. Alhasil, banyak negara tetangga di dunia yang apatis terhadap agama Islam dan negara Indonesia.

Melihat realita yang begitu memprihatinkan semacam ini, kita harus sadar bahwa negara Indonesia sejak awal tercipta dari berbagai komponen bangsa. Suku, ras, dan agama yang ada di negara Indonesia sangat beragam. Namun, pluralitas yang ada di Indonesia tersebut telah berhasil padukan oleh para founding father bangsa. Keberhasilan penyatuan ini berbuah manis dengan terwujudnya negara merdeka bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam kepaduan mewujdukan cita-cita mulia sebagaimana para founding father bangsa, kita mesti belajar pada seutas sapu lidi. Seseorang yang ingin membersihkan sampah dan debu di lantai hanya dengan satu lidi, maka dalam jangka waktu yang lama dan upaya ekstra tidak akan membuahkan hasil yang menggembirakan. Namun, ketika terdapat 100 lidi yang disatukan menjadi sebuah sapu, maka dalam hitungan menit seseorang akan mampu membersihkan sampah dan debu yang ada. Begitu pula dengan keberagamanan suku, ras, dan agama yang ada di Indonesia. Ketika mereka bercerai berai, maka tujuan mulia akan sulit dicapai. Namun, ketika mereka bersatu padu, maka tujuan mulia bersama akan dengan mudah terealisasikan.

Satu hal yang mesti selalu diingat bahwa pluralitas bukan berarti menjadi penanda antara satu orang/golongan dengan yang lainnya harus saling bertengkar. Justru dengan keberagaman yang ada, antara satu orang/golongan mesti menggunakan potensi yang ada pada diri untuk disatukan dalam rangka meraih cita-cita bersama. Dalam hal kepercayaan kepada Tuhan, sudah menjadi barang tentu tidak boleh dicampuradukkan dengan yang lain. Namun, hal ini bersifat individu dengan tetap menghormati keyakinan orang/kelompok lain. Di sini toleransi menjadi jembatan untuk mengharmoniskan keadaan.

Wallahu a’lam

Anton Prasetyo

Pengurus Lajnah Ta'lif Wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama (LTN NU) dan aktif mengajar di Ponpes Nurul Ummah Yogyakarta

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago