Categories: Kebangsaan

Respon Untuk Abu Aqila

Membaca postingan Sdr. Abu Aqila di media sosial tentang SyeikhAl Azhar yang baru-baru ini berkunjung ke Indonesia dalam rangka misi persatuan umat Islam dan perdamaian sungguh sangat mengejutkan dan disayangkan, karena apa yang disampaikan itu sangat memojokkan dan berisi fitnah terhadap Grand Syeikh Al Azhar Prof. Ahmad Muhammad El Tayyib.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki budaya santun dan lemah lembut, bahkan jika dibanding dengan semua bangsa yang ada dunia ini, apa yang dilakukan oleh Abu Aqila jelas tidak mencerminkan budaya itu. Masyarakat Arab khususnya Mesir selama ini mengenal bangsa Indonesia sebagai bangsa yang sangat baik, santun, ramah, sopan serta memiliki akhlak yang mulia. Ketika bertemu dengan orang-orang Indonesia di jalan, masyarakat Mesir selalu mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang baik, Ahsan Nas begitu kata mereka.

Tuduhan Abu Aqila yang menyebut SyeikhAl Azhar sebagai Paus bukan saja bertentangan dengan nilai-nilai dasar budaya Indonesia, tetapi juga menerabas nilai-nilai kebaikan dalam Islam.

Sebagai salah stau alumni Al Azhar, saya tahu betul bahwa universitas termashur tersebut menetapkan standar yang sangat ketat untuk seseorang sebelum akhirnya ia diakui sebagai Syeikh Al Azhar. Para Syeikh itu harus melalui berbagai proses panjang, mulai dari test kemampun ilmu pengetahuan agama hingga masalah integritas.

Ketatnya persyaratan untuk menjadi Syeikh di Al Azhar merupakan ciri khas Al Azhar yang selama ini tetap mampu mempertahankan dirinya sebagai qiblat ilmu pengetahuan. Seperti yang kita ketahui bersama, Al Azhar yang telah berdiri ribuan tahun lalu telah mencetak tokoh-tokoh agamawan dunia, bukan saja di negeri Arab tapi juga hingga belahan dunia Eropa dan Amerika termasuk di Asia. Oleh karena itu tidak mengherankan jika Al Azhar dalam umurnya yang begitu tua tetap menjadi tujuan belajar mahasiswa-mahasiswa dari dunia Islam termasuk Indonesia.

Para Guru Besar di Al Azhar memang umumnya pernah melakukan berbagai penelitian di berbagai universitas di Eropa seperti di Sorbonne dan universitas bergengsi lainnya di Eropa dan Amerika sebagai bagian dari kredibilitas sebuah pemikiran, hal ini sangat umum dilakukan oleh professor atau guru besar. Karenanya hampir semua guru-guru besar di Al Azhar memiliki pengetahuan yang luar biasa dan mampu memadukan konsep-konsep Islam secara logis namun tetap memegang teguh Alquran dan Sunnah Nabi sebagai pijakan utama dalam berpikir.

Pun demikian dengan Grand SyeikhAl Azhar Prof. Ahmad Muhammad El Tayyib, ia mengembara ke banyak universitas terkemuka di dunia untuk memperkaya khasanah keilmuan yang nantinya akan ia tumpahkan kembali di Al Azhar. Meskipun banyak di antara mereka yang belajar ke Eropa, namun pemikiran mereka sama sekali tidak terpengaruh dengan pemikiran yang berkembang di Eropa bahkan mereka mampu menawarkan solusi-solusi baru sesuai dengan logika terhadap perkembangan pemikiran yang berkembang di dunia Islam.

Sikap terburu-buru Abu Aqila yang menuduh syeikh sekelas Prof. Ahmad Muhammad El Tayyib sungguh sangat disayangkan. Menyedihkan memang menyaksikan banyak dari kita yang hanya membaca sebagian kecil dari buku-buku yang mereka baca, atau hanya membaca buku-buku terjemahan, atau bahkan belajar dari google saja tapi sudah merasa paling jumawa hingga berani menuduh orang lain seenaknya.

Sudah seharusnya bagi kita semua untuk belajar tahu diri, kita belum apa-apa dibanding dengan siapa saja yang kita hina, apalagi yang dihina dalam konteks ini adalah seorang alim yang memiliki integritas tinggi terhadap agama, bangsa dan umat secara keseluruhan.

Istighfar ya akhi…

Suaib Tahir

Suaib tahir adalah salah satu tim penulis pusat media damai (pmd). Sebelumnya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi timur tengah. Selain aktif menulis di PMD juga aktif mengajar di kampus dan organisasi

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago