Narasi

Wajah Ganda Demonstran Pembela Pancasila

Pro kontra RUU HIP yang dinilai menjadi jalan bangkitnya ideologi komunis tampaknya menyatukan beberapa kelompok yang dahulunya bersebrangan. Atas nama melawan komunis, beberapa kelompok yang sebenarnya dukungannya terhadap Pancasila masih perlu ditelusuri ini melakukan demonstrasi bersama. Sayangnya momen tersebut mengaburkan identitas kelompok anti komunis yang sebenarnya juga anti Pancasila. Publik pun banyak terlena dengan wajah ganda demonstran pembela Pancasila.

Mencari kelompok anti komunis yang sebenarnya juga anti Pancasila amatlah mudah. Mereka adalah kelompok yang bercita-cita: 1) Mendirikan negara Islam; 2) Mengganti UDD 1945 dengan syariat Islam; 3) Menegakkan khilafah di Indonesia; 4) Anti dengan toleransi antar umat beragama; 5) Melegalkan kekerasan dalam memperjuangkan ideologi kelompok; dan beberapa ciri lain yang kontra dengan semangat yang diusung Pancasila.

Wajah Ganda, Wajah Lama Yang Tak Pernah Ditelan Masa

Manusia berwajah ganda bukanlah hal yang baru. Hanya saja, disebabkan satu sisi wajahnya mendukung kepentingan publik, wajah lainnya pun terabaikan. Namun bisa dipastikan arah perjuangan mereka setelah tercapainya perjuangan bersama, akan menyeleweng dari persepsi publik. Publik mengira mereka yang anti komunis juga mendukung Pancasila sepenuhnya. Kenyataannya adalah tidak.

Wajah ganda adalah wajah lama atau sesuatu yang tak asing dalam perjalanan sejarah. Dalam sejarah Islam, manusia berwajah ganda disebut dengan orang munafik. Orang-orang dengan pengertian ini sudah muncul sejak zaman Nabi Muhammad. Saat di depan publik mereka menyatakan dukungan, tapi di belakang publik mereka memiliki rencana tersendiri mengolah kemenangan bersama menjadi kemenangan pribadi.

Baca Juga : Berlindung di Balik Isu Agama dan Pancasila

Wajah ganda demonstran yang anti komunis serta anti Pancasila tentunya tidak hanya menginginkan komunis tidak lahir kembali. Namun juga sedikit demi sedikit mengikis kesaktian Pancasila dengan berbagai cara. Cara-cara berikut ini mungkin tidak disadari oleh publik, tapi sudah mulai diterapkan:

Pertama, menempuh jalan mengerahkan kekuatan massa meski diskusi secara kekeluargaan belum dilakukan secara intens. Pancasila memang memberi ruang warga Indonesia menyampaikan aspirasi di ruang publik dengan cara demonstrasi. Namun bukankah secara etika perlu dilakukan diskusi secara baik-baik dahulu. Sehingga dapat dipelajari bersama duduk permasalahan dan tawaran-tawaran solusi.

Demonstrasi tanpa adanya usaha duduk dan berbicara bersama menyesatkan opini publik, bahwa usaha duduk dan berbicara bersama sudah tidak bisa dilakukan. Hal ini sama saja mengikis kepercayaan publik terhadap pemerintah. Pemerintah dianggap sudah tidak bisa diajak dialog bersama. Padahal kadang pemerintah sudah memberi ruang, Dan individu-individunya sendiri juga menginginkan dialog bersama tanpa saling menghina atau membuat gaduh publik.

Kedua, saat cara pertama menghasilkan keputusan yang dianggap tidak memuaskan, maka mulailah yang diserang adalah sistem-sistem yang dianggap tidak pro kerakyatan. Mulai berhembus bahwa keadilan yang menjadi cita-cita bersama tidak terwujud dengan model pemerintahan seperti sekarang. Sehingga perlu adanya reformasi sebelum kemudian melempar ide Negara Islam atau khilafah ke ranah publik.

Ketiga, menampakkan diri dengan menentang komunisme sebagai musuh bersama, juga dapat digunakan mengaburkan jatidiri mereka yang sebenarnya anti pancasila. Sebab persepsi yang berkembang bahwa yang pro Pancasila berarti anti komunisme, dan sebaliknya. Padahal yang anti komunisme belum tentu pro Pancasila. Mereka yang pro negara Islam serta khilafah adalah anti komunisme. Namun mereka tidak pro Pancasila sebab sudah memiliki ideologi tersendiri menggantikan Pancasila. Dari celah-celah ini mereka menampakkan diri pro Pancasila padahal tidak pernah menyatakan diri mendukung Pancasila.

Publik dan Arah Demokrasi

Berbagai uraian di atas dapat dijadikan pertimbangan oleh publik. Bahwa masyarakat harus bisa membaca arah dukungan atau suara protes suatu kelompok masyarakat. Tidak setiap perjuangan melawan pemerintah adalah solusi berbagai problem di masyarakat. Mengatasi problem adalah dengan mencari sumber masalah dan mencari solusi. Bukan dengan mudahnya demo melawan pemerintah. Dan ujung-ujungnya menipiskan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Bila yang diinginkan demonstran adalah membela Pancasila, maka cara-cara yang dilakukan haruslah mendukung berjalannya UUD 1945, mengusung Bhineka Tunggal Ika sebagai tujuan bersama, serta menjaga NKRI sebagai tempat bersama. Tidak cukup hanya berdemo sebagai ciri demokrasi, serta memperbaiki tatanan dengan merombaknya secara keseluruhan. Indonesia tidak hanya dibangun oleh pemikiran para cendekiawan, tapi juga oleh darah para pejuang.

This post was last modified on 16 Juli 2020 1:45 PM

Mohammad Nasif

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago