Narasi

Waspada “Mutasi Virus Radikalisme” di Era Pandemi

Secara genetik, virus radikalisme di Indonesia sejatinya tidak hanya melulu tentang praktik kekerasan dan kezhaliman. Dia bisa mengalami semacam “mutasi” atau perubahan secara struktur penularan dan penyebaran-nya. Ber-transformasi secara genetik untuk menyerang “sel inang” bangsa ini secara transparan.  Agar bisa lebih mudah masuk dan merusak sel-sel persatuan serta kebersamaan di dalamnya.

Oleh sebab itu, kita sebetulnya perlu waspada terhadap tipe virus radikalisme yang mengalami mutasi secara genetik tersebut. Utamanya di era pandemi covid-19 ini. Karena, virus ini tidak lagi menampakkan sifat kebiadaban-nya. Melainkan membangun semacam narasi yang orientasinya memecah-belah persatuan dan kebersamaan kita. Serta membuat rasa kepercayaan kita terhadap negara semakin luntur. Seperti halnya di tengah penanggulangan covid-19 yang masih terus dilakukan.

Maka, sangat penting bagi kita. Selain meningkatkan imunitas tubuh kita untuk melawan covid-19 yang masih terus melonjak ini. Kita juga perlu meningkatkan imunitas mental, daya pikir serta nalar kritis kita untuk tetap waspada terhadap “mutasi virus radikalisme”. Jangan biarkan mereka merusak sel persatuan kita. Jangan biarkan mereka memecah-belah sel kebersamaan kita.

Beginilah Cara Virus Radikalisme Bekerja di Era Pandemi

Pernahkah kita melihat narasi miring semenjak pemerintah memberlakukan PPKM Jawa-Bali (sejak 3 Juli 2021-20 Juli 2021) ? Misalnya ada ungkapan bahwa pemerintah sengaja menutup tempat ibadah agar umat Islam tidak melakukan shalat Idul Adha yang bertepatan pada tanggal 20 Juli 2021 tersebut. Narasi yang terbangun mulai menganggap bahwa ini sebagai proyeksi pemerintah “anti-agama” untuk menghancurkan umat Islam dengan berbagai kebijakan yang dijadikan senjata untuk menikam dari belakang.

Maka, narasi-narasi yang semacam ini sejatinya “sengaja dibuat” oleh kelompok radikalisme tersebut. Agar rasa kepercayaan masyarakat terhadap negara semakin luntur. Sehingga, dengan cara seperti inilah umat bisa lebih mudah diajak atau bergabung untuk menegakkan negara khilafah di Indonesia. Karena dengan cara seperti ini sebetulnya virus radikalisme mengkontaminasi pemikiran masyarakat agar benci dan bahkan rasa kepercayaan terhadap pemerintah semakin luntur.

Bahkan, jika kita amati di berbagai platform media maya seperti Facebook misalnya. Di situ begitu banyak narasi yang terarah ke dalam ketakutan dan keengganan masyarakat untuk mengikuti semua aturan protokol kesehatan. Kenapa? Karena narasi yang terbangun terarah ke dalam pemahaman miring seperti larangan ke tempat ibadah sengaja biar umat Islam tidak beribadah, vaksinasi sengaja agar masyarakat disuntik mati dan narasi miring lainnya agar kegentingan di tengah pandemi ini semakin diperparah.

Dari fakta-fakta yang semacam ini, sebetulnya cukup jelas untuk kita ketahui. Bahwa virus radikalisme memang di era pandemi tidak melakukan aksi-aksi kekerasan layaknya tindakan anarkis. Tetapi ketahuilah mereka ini bergerak secara transparan dan mengalami semacam “mutasi” secara penularan di era pandemi. Dengan terus membuat kekacauan, memecah-belah dan menghilangkan rasa kepercayaan masyarakat terhadap negara. Karena dengan cara seperti inilah, virus radikalisme mudah masuk dan menghancurkan sel-sel persatuan dan kebersamaan kita di negeri ini.            

Oleh karena itulah, kita perlu waspada dengan “mutasi virus radikalisme” di era pandemi ini. Maka, selain meningkatkan imunitas tubuh kita untuk melawan covid-19, kita juga penting untuk meningkatkan imunitas mental, daya pikir dan nalar kritis kita. Agar tidak mudah termakan oleh narasi-narasi yang sengaja dijadikan jalan virus radikalisme untuk merusak sel-sel persatuan dan kebersamaan kita di negeri ini.

This post was last modified on 12 Juli 2021 1:40 PM

Amil Nur fatimah

Mahasiswa S1 Farmasi di STIKES Dr. Soebandhi Jember

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago