Kebangsaan

Beginilah Narasi Teroris Merekrut Pemuda

Kemampuan kelompok teroris dalam merekrut anggota baru terletak pada cara mereka memanipulasi fakta dan kebenaran dengan menyelipkan indoktrinasi kepada kelompok sasaran. Anak muda dengan kondisi psikologis yang labil, semangat idealisme tinggi tetapi tidak disertai oleh kecerdasan dalam menangkap informasi merupakan target utama.

Sebenarnya narasi yang disebar dan ditanamkan kelompok teroris kepada target mudah dipatahkan. Hanya saja mereka pandai mengeksploitasi tahapan demi tahapan doktrinasi sehingga anak muda tanpa sadar mudah terjatuh dalam propaganda mereka. Mari kita perhatikan dan kenali bagaimana kelompok teroris memainkan narasi propaganda tersebut.

  1. Banyak ketidakadilan di Beberapa Negara

Pada tahapan ini sasaran akan diajak berwisata dengan kondisi tragis beberapa Negara yang mengalami konflik, perang dan keprihatinan kemanusiaan. Roy Anthony dari Universitas Malay mengatakan kelompok teroris sangat cerdas memanipulasi dan mengekploitasi emosi dengan menarasikan ketidakadilan, diskriminasi, kekerasan yang dialami Negara tertentu.

Salah satu mantan teroris inisial F mengungkapkan pada fase ini anak muda akan dikenalkan dengan visualisasi kondisi tragis perang dalam bentuk film. Tujuan dari fase ini adalah membangkitkan emosi empati anak muda terhadap saudara seagama dan sekaligus penanaman kebencian terhadap mereka yang diasumsikan musuh. Barat dan pemerintah dalam hal ini merupakan musuh yang layak dibenci sebagai biang keladi ketidakadilan di beberapa Negara mayoritas Islam.

  1. Ada kebutuhan untuk beraksi

Setelah anak muda terpapar kondisi tragis dan menunjukkan empati, lantas mereka akan menanyakan :

  • Apa yang akan kalian lakukan dengan kondisi ketidakadilan tersebut?
  • Apa respon kalian untuk membantu saudara-saudara yang mengalami ketidakadilan tersebut?
  • Kapan lagi kalian akan memberikan manfaat untuk membela saudara-saudara kalian.

Perasaan membantu sesama saudara seagama adalah narasi yang paling banyak memukau anak muda. Seorang mantan teroris sebut saja inisial R merupakan salah satu korban doktrinasi solidaritas tersebut. Ia mengungkapkan pada awalnya ia diajak ke Ambon untuk menjadi relawan, tetapi di sana ia dilatih dan dikenalkan dalam jaringan terorisme. Misi Ambon selesai, ia justru melanglangbuana ke Filipina bergabung dan berlatih dengan kelompok Abu Sayyaf. Pintu masuk adalah solidaritas sesama saudara seiman.

  1. Hanya Kekerasan sebagai Solusi

Ketika anak muda mulai tergugah untuk mengekspresikan solidaritas, mereka hanya akan menawarkan satu cara. “kekerasan harus dilawan kekerasan”. Hanya ada satu cara menghilangkan ketidakadilan di beberapa Negara dan membebaskan saudara seagama, yakni kekerasan.

Pada fase ini logika dan akal sehat sudah mulai lumpuh. Para anak muda tidak lagi bisa berpikir apakah ketidakadilan dan kekerasan efektif dilawan dengan kekerasan yang sama yang justru menyasar mereka yang tidak berdosa juga. Anak muda akan didoktrinasi dengan legalitas (pengabsahan) melakukan kekerasan dengan istilah perjuangan, pengorbanan dan jihad.

Nah, ketika kalian berhadapan dengan beberapa tahapan seperti ini, maka berpikir kritis dan selalu mempertanyakan adalah kunci utama. Berikut beberapa pertanyaan penting dalam menangkal narasi :

Pertama, Apakah kalian sudah benar-benar memahami persoalan sebenarnya di Negara-negara penuh konflik? Sebut saja konflik Palestina, Suriah, Irak, Yaman dan lainnya. Sudahkah ada pemahaman tentang konflik di Negara tersebut. Konflik di beberapa Negara tersebut sebagian adalah konflik internal politik domestik. Jika kalian berangkat di area konflik hanya menjadi bagian konflik yang tidak menyelesaikan persoalan.

Kedua, Apakah kalian benar-benar akan mewakili Negara yang tertindas? Coba dievaluasi apakah tindakan kekerasan bom bunuh diri, menyembelih tawanan, membunuh masyarakat sipil, anak, orang tua dan wanita adalah bentuk mewakili Negara yang sedang berkonflik. Negara mana yang akan diwakili dengan cara-cara kekerasan seperti itu. Tidak salah jika dikatakan bahwa para teroris hanya membela dendam dan ego pribadi.

Ketiga, Apakah kekerasan sudah membantu Negara dan saudara seagama? Pernahkah kalian mempertanyakan hasil dari kekerasan dan bom bunuh diri yang memakan korban tidak bersalah telah membantu mereka yang sedang berkonflik. Apakah bom bunuh diri dan kekerasan sudah membantu membebaskan Negara-negara tertindas dan membuat saudara seagama merasa dibebaskan?

Salah seorang narapidana teroris yang saat ini berada dalam penjara sangat menyesali tindakan bom yang telah merusak dan membunuh mereka yang tidak berdosa. Dalam pengakuannya mereka selalu dihantui rasa bersalah dan penyesalan ketika melihat anak korban, istri dan keluarga korban bom yang ditinggalkan. Sementara itu ia tidak melihat kekerasan telah membantu saudara seagama yang seperti mereka idamkan.

Abdul Malik

Redaktur pelaksana Pusat Media Damai BNPT

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

4 minggu ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

2 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

3 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 bulan ago