Kebangsaan

ISIS vs Alqaeda menuju Khilafa Islam di Nusantara

ISIS dan Alqaeda menjadi isu besar di dunia global dalam dua puluh tahun terakhir sebagai organisasi teroris yang paling berbahaya di dunia. Dua-duanya memiliki jaringan yang mendunia dan militansi yang kuat sehingga tidak mengherankan jika aksi pemboman terjadi di mana-mana setelah kedua organisasi radikal ini tampil sebagai sebuah kekuatan. Kedua organisasi ini semakin menjadi bahan pembicaraan karena  mengangkat yel-yel Islam sebagai slogam sehingga mengundang pro kontra tentang kredibilitas keislamannya.

Alqaeda menjadi berita utama setiap saat  pasca pemboman gedung WTC di New York tahun 2001yang mengakibatkan ribuan orang korban meninggal sehingga mendorong Amerika Serikat dan sekutunya mengerahkan pasukannya ke Afghanistan untuk meruntuhkan pemerintahan Taliban yang telah berkuasa hampir sepuluh tahun karena dianggap sebagai mastermind pemboman dimaksud. ISIS-pun demikian, dan menjadi bahan pembicaraan dalam kurun waktu lima tahun terakhir setelah mengumumkan terbentuknya daulah Islamiyah di Irak dan Syam dan juga telah mendorong sekutu-sekutu baru untuk menghancurkan kelompok itu. Keduanya adalah kelompok ekstrim radikal terorisme yang mengklaim sebagai perwakilan Islam dimuka bumi dan menunjuk dirinya sebagai khalifa dan Amirul Mukminim. Taliban menunjuk Mulla Umar sebagai Amirul Mukminin di Afghanistan sementara ISIS mengangkat Abu Bakar Al Baghdady sebagai Khalifa Islam di Irak dan Suriah.

Umat Islam secara umum menolak tegas klaim Taliban selain karena mereka tidak tahu menahu tentang Taliban juga karena penerapan Islam yang dijalankan  sangat berlebihan. Mereka melarang kaum wanita keluar rumah dengan alasan apapun, tidak membolehkan mereka bekerja di tempat-tempat umum termasuk belajar dan mewajibkan mereka memakai hijab walaupun ia bukan muslim. Lebih jauh dari situ, mengharamkan berbagai praktik Islam yang sudah menjadi budaya kaum muslimin disekitarnya. Taliban juga menghancurkan beberapa peninggalan sejarah Budha di Afghanistan karena menganggap sebagai patung berhala yang kemudian menimbulkan kecaman keras dari UNESCO dan masyarakat dunia. Tampilnya Taliban dan Alqaeda di Afghanistan bukan saja menjadi fitnah bagi umat Islam tetapi juga telah menciptakan citra buruk bagi umat Islam yang dicap teroris dan di mana-mana mereka dicurigai sebagai sumber malapetaka.

Kini ISIS tampil menggantikan posisi  Taliban dengan gaya yang semakin brutal dan kejam, menentang berbagai konsep kemanusiaan dan menampilkan konsep kekejaman, pembantaian, penipuan, pemerkosaan dan pelanggaran nilai dan budaya. Bahkan tokoh-tokoh ISIS sendiri, menurut berbagai pengamat tidak pernah menghormati aturan-aturan agama Islam itu sendiri khususnya jika hukum tersebut terkait dengan kepentingannya. Bukan saja itu, ISIS tampil sebagai jawara menghukum semua orang kafir,  taghout dan halal darahnya  termasuk  pengikut-pengikut organisasi radikal Islam yang pernah sepaham dengan mereka. Para mujahidin Alqaeda yang telah ikut melawan kekuasaan AS di Irak pada awal jatuhnya pemerintahan Saddam Hussein ikut dibantai, Jabha Nusra yang yang beroperasi di Irak dan Suriah dan berafiliasi ke Alqaeda juga merasakan kejamnya pemerintahan ISIS, mereka dibantai, pemimpin dan para mujahidinnya. ISIS semakin tampak kejam dengan menjadikan siapapun yang tidak sepaham  sebagai sasaran tembak dan penyembelihan dan juga turut menghancurkan beberapa peninggalan sejarah Islam dan lainnya dengan asumsi semua itu hanya sebagai situs sejarah yang membuat umat Islam semakin bodoh.

Gaya kepemimpinan ISIS ini menimbulkan kritikan keras dari kelompok Alqaeda. Bahkan menilai penerapan syariat yang dilakukan oleh ISIS hanya tipu daya bagi umat Islam karena itu, Alqaeda   menganggap kepemimpinan Abu Bakr Albaghdady bathil dan tidak syah dengan mengangkat dalil-dalil yang bersumber dari fiqh klasik dan tetap meyakini bahwa Mulla Umar adalah Amirul Mukminin. Pada waktu yang sama ISIS juga demikian memiliki dalil-dalil yang dianggap mendukung keabsahan kepemimpinannya.

Pertentangan antara kedua kubu ini nampaknya akan terus berlanjut dan dapat menggiring kedua kelompok radikal ini meninggalkan prinsip utamanya yang melarang keras perbedaan pendapat antara sesamanya.  Jika itu terjadi maka tidak menutup kemungkinan konfrontasi fisik juga akan terus belanjut.

Disadari atau tidak, perbedaan yang terjadi dikalangan petinggi kedua kelompok ini juga akan berdampak kepada pendukung-pendukungnya di Asia Tenggara termasuk di Indonesia dan masing-masing  kelompok akan membela matia-matian organisasinya dan menjelekkan yang lain. Namun bagi kita di Indonesia yang perlu dicatat adalah kedua organisasi ini  sama-sama mengusung daulah khilafa dan jika yang terjadi di tanah air adalah sinergitas antara keduanya untuk mendirikan daulah khilafa, maka akan menjadi malapetaka bagi bangsa Indonesia dan NKRI mengingat kekuatan mereka tidaklah sedikit. Wallahu a’lam.

 

 

 

Suaib Tahir

Suaib tahir adalah salah satu tim penulis pusat media damai (pmd). Sebelumnya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi timur tengah. Selain aktif menulis di PMD juga aktif mengajar di kampus dan organisasi

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago