Editorial

Kekuatan Pers dalam Menangkal Hoaks dan Ujaran Kebencian

Tantangan terbesar dunia pers saat ini adalah banyaknya berita bohong dan ujaran kebencian yang beredar di masyarakat. Pada satu sisi harus dikatakan kekuatan pers melalui media mainstream menjadi kalah minat sebagai sumber informasi daripada media sosial. Bahkan dalam kasus tertentu, tidak jarang justru pers mengikuti arus narasi dan wacana dari media sosial.

Budaya viral di medsos yang belum tentu kebenarannya menjadi rujukan ukuran kebenaran di tengah masyarakat. Bahkan tidak jarang media mainstream menjadikan info viral tersebut sebagai bahan pemberitaan. Wal hasil tingkat kebenaran beralih dari ukuran validitas menjadi popularitas. Semakin info itu populer di tengah masyarakat, semakin ia diyakini sebagai kebenaran.

Dalam serbuan narasi viral itu hal yang sangat mengkhawatirkan narasi kebencian dalam bungkus berita hoaks bisa menjadi pendorong suburya kecurigaan, saling tidak percaya, dan perpecahan di tengah masyarakat. Masyarakat di belah dengan permainan politik identitas yang semakin kasar dengan cara mengumbar informasi hoaks yang berisi kebencian.

Dalam perkembangan teknologi informasi yang mendorong perputaran berita begitu cepat dari berbagai sumber apapun, pers harus bisa mengokohkan perannya sebagau sumber yang bisa mencerdaskan masyarakat. Pers tidak hanya bertugas menyampaikan informasi akurat dan kredibel tetapi juga mampu menjadi institusi yang menangkal munculnya informasi hoaks dan narasi kebencian.

Mengutip riset Trust Barometer 2018, media konvensional atau media arus utama ternyata tetap menjadi pilihan utama masyarakat dibandingkan media sosial. Artinya, masyarakat mulai jenuh hanya dengan mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi. Banyaknya info dan konten yang belum tentu jelas kebenarannya membuat masyarakat jenuh dan resah. Media mainstream menjadi pilihan sebagai rujukan untuk memverifikasi kebenaran suatu informasi.

Baca juga : Literasi Media Untuk Generasi Millennial Yang Inspiratif

Dari tahun 2016 sebagaimana disebutkan dalam riset tersebut  tingkat kepercayaan kepada media konvensional 59 persen dibanding 45 persen untuk media sosial; 2017: 58 persen : 42 persen; dan di tahuan 2018: 63 persen  dibandinkan 40 persen untuk media sosial. Dari data ini kita bisa melihat ada kecenderungan masyrakat mulai cerdas dalam menggunakan media sosial sebagai sumber informasi dan menjadikan media mainstream sebagai rujukan terpercaya.

Dalam konteks inilah, insan pers baik cetak, televisi, maupun online, harus dapat memanfaatkan momentum ini dengan mengisi pemberitaan yang bermanfaat dan mencerdaskan. Pers harus berperan penting dalam melakukan edukasi public dengan berita yang akurat, mencerdaskan dan memverfikasi kebenaran informasi yang beredar di tengah masyarakat. Media mainstream harus menjadi sumber informasi masyarakat untuk membandingkan validitas informasi yang bertebaran di media sosial.

Di saat yang bersamaan, masyarakat harus bisa cerdas dalam menggunakan media sosial sebagai sumber informasi. Media sosial harus diletakkan sebagai etalase berbagai sumber informasi yang belum tentu abash kebenarannya. Masyarakat cerdas harus rajin untuk memeriksa sumber dan konten dengan cara membandingkan dengan sumber-sumber resmi dan media mainstream dalam mengecek kebenaran suatu inofrmasi.

Redaksi

View Comments

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

1 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago