Categories: Faktual

Meredakan Kepanikan Publik dengan Media Distancing

Salah satu cara terbaik mencegah virus Corona adalah dengan mencegah kepanikan. Menjaga kepanikan tentu tidak cukup bersifat pribadi, tetapi harus dengan kolektif. Kepanikan publik bisa dihilangkan jika semua lapisan, semua aspek, dan semua informasi saling menguatkan.

Bila salah satu aspek saja absen, maka akan sulit terbangun kepanikan publik itu. Salah satu aspek terpenting itu adalah informasi mengenai Corona. Informasi yang baik, mendidik, serta mempunyai empati akan sangat kuat pengaruhnya terhadap daya tahan kolektif masyarakat.

Sebaliknya, jika infomasi yang datang adalah informasi negatif, hoax, dan rumor, akan membuat masyarakat pasif dan terbelenggu dalam lingkaran saling mencurigai. Informasi sangat besar peranannya dalam konteks memerangi virus pandemi ini.

Hoax tentang Corona yang masih berseliweran di sosial media, rumor yang tidak jelas yang dihembuskan oleh oknum-oknum yang tak bertanggungjawab, serta informasi negatif berbentuk prediksi dan ramalan yang tak jelas, secara langsung dapat memperburuk kepanikan kolektif  masyarakat.

Solidaritas di tingkat bawah, dengan melakukan lockdown di tingkat lokal, relawan dengan segala aktivitas positifnya, gerakan filantropi untuk membantu pemerintah dalam menangani virus ini, serta sumbangan suka rela yang dikumpulkan oleh masyarakat, jangan sampai dirusak oleh informasi media, baik itu massa, daring, maupun sosial.

Media Distancing

Untuk itu masyarakat perlu kiranya melakukan media distancing, yakni jaga jarak dengan media informasi. Jaga jarak dimaksud bukan berarti menutup segala informasi mengenai Corona, tetapi memilah dan mimilih mana informasi yang membangun, dan mana informasi yang merusak dan membuat panik.

Baca Juga : Distraksi Media Sosial dan Efek Infodemik Corona

Berita negatif di-skip saja, atau kalau bisa dilaporkan dengan fitur laporan di media sosial. Segara infomasi yang merusak jangan di-like, dikomentari, serta di-share. Cukup dilaporkan, agar algoritme sosial media menutupnya.

Perang terhadap Corona di satu sisi harus kita lakukan, tetapi perang untuk menumpas infomasi negatif berbentuk informasi negatif sekitar Corona juga harus dilaksanakan. Gotong royong adalah kuncinya. Rasa solidaritas di sosial media harus ditunjukkan.

Salah satu kelemahan jurnalisme kita adalah absennya jurnalisme empati. Akibatnya media kita tak ubahnya seperti robot yang tak bisa diam, selalu bicara. Apa aja diberitakan, tak ada lagi pertimbangan empati apakah ini aka merusak kepanikan kolektif atau tidak.

Media kita masih lebih mengejar keuntungan komersial ketimbang keuntungan sosial. Keuntungan komersial dengan banyaknya like, share, dan komentar yang berakibat pada naiknya rating suatu media.

Padahal keuntungan sosial, berupa optimisme yang diakibatkan infomasi positif yang dibuat oleh media merupakan keuntungan yang tak ternilai. Bagi media, judul bombastis dan clickbait lebih digemari ketimbang judul yang edukatif.

Kerja-sama Kolektif

Tidak ada cara lain agar terhindar dari infomasi negatif yang bisa melahirkan kepanikan publik, selain dengan kerja-sama kolektif. Semua lapisan harus berpartisipasi dalam memberantas hoax di seputar Corona.

Kerja-kerja kolektif untuk meminimalisir serta menjaga jarak dari informasi negatif sangat perlu dilakukan. Pemerintah, tokoh agama, influencer, serta seluruh lapisan masyarakat harus bahu-membahu untuk menangkal hoax tentang Corona.

Jika tidak bisa menangkal, setidaknya berusaha menjaga jarak dengan informasi negatif tersebut. Solidaritas universal tanpa memandang latar-belakang masing-masing sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti ini.

Keegoan diri dan arogansi kelompok perlu dibuang, demi terawatnya kepanikan kolektif kita. Jangan karena kebijakan social distancing yang dihimbau oleh pemerintah sengaja ditentang dengan dalil agama kelompok kita. Kita tinggalkan segala bentuk perdebatan yang tak fungsional. Mari kita sama-sama memberantas informasi negatif, dan menyebar informasi positif. Dengan demikian, akan memperkuat solidaritas dan imunitas kolektif kita.

This post was last modified on 1 April 2020 3:04 PM

Hamka Husein Hasibuan

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

1 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago