Narasi

Mulai Memaafkan dari Hal yang Sederhana

Meminta maaf bukan berarti kamu salah dia benar, tetapi karena hubunganmu bernilai lebih tinggi dari egomu.

Anonymous

Maaf menjadi sebuah kata yang sangat dekat kehidupan kita. Ia mudah dilontarkan namun susah dilaksanakan. Orang ringan melontar kata maaf, hanya saja apakah hatinya tidak berat memaafkan? Padahal maaf adalah hal sederhana yang dapat memiliki dampak besar di kemudian hari.

Kita tidak pernah tahu bahwa semisal orang yang kita maafkan akan membantu kita suatu hari nanti. Sama halnya dengan orang yang pernah kita sakiti ternyata menyimpan dendam dan merugikan kita nantinya. Maka untuk menjamin masa depan kita semua damai-damai saja, alangkah baiknya kita selalu berperilaku baik dengan sesama; dengan tidak mencari masalah dengan orang lain, meminta maaf ketika bersalah maupun memaafkan kesalahan orang lain.

Pemaafan sederhananya adalah sebuah tindakan untuk tidak mempermasalahkan yang terjadi di masa lalu dan beriktikad baik untuk hubungan kedepannya. Ketika anda memaafkan orang lain, bukan berarti ‘luka’ akibat tersakiti itu hilang atau tiba-tiba sembuh, tetapi anda lebih memilih untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut. memaafkan memang tidak mudah, perlu ada keteladanan dan pembiasaan.

Bagi umat muslim, Nabi Muhammad SAW merupakan teladan yang sangat kaffah. Setiap aspek kehidupan beliau dapat ditiru dan kesemuanya baik. Beliau adala pribadi pemaaf. Kita semua tahu beliau pernah disakiti oleh orang Yahudi. Namun beliau memafkan perlakuan orang tsersebut karena Nabi Muhammad SAW menilai orang tadi belum mengetahui. Pun juga, ketika banyak orang yang memusuhi beliau saat masa-masa sulit Islam, beliau lebih memilih memaafkan, memaklumi ketidak tahuan umatnya.

Andai saja Nabi Muhammad SAW ingin membalas kejahatan yang orang lakukan atasnya dengan balasan lebih pedih, beliau lebih dari mampu. Namun beliau lebih memilih tidak mempermasalahkan hal tersebut demi banyak hal baik di masa mendatang. Berkat salah satu sikap ini (pemaafan), dakwah yang beliau lakukan pada akhirnya berhasil. Sikap beliau untuk memaafkan kesalahan orang tidak hanya sekali dua kali, namun sering. Ianya seakan memberikan pemahaman bahwa memaafkan itu butuh proses berulang-ulang.

Ada aspek pembiasaan untuk pemaafan. Ketika anda disakiti orang, dan tidak terbiasa memberikan maaf, maka susah sekali untuk memaafkan kesalahan orang tersebut. Itulah kiranya mengapa saat kita kecil dahulu, ibu selalu mengajarkan kita untuk meminta maaf saat kita bersalah pada teman kita. Kebiasan itu tumbuh hingga membentuk kita menjadi pribadi pemaaf. Memaafkan memang perlu dimulai dari hal kecil. Bagaimana mungkin kita bisa memafkan orang yang berkata kasar kepada kita sedangkan untuk memaafkan teman kita yang mencuri permen saja kita tidak bisa?

Memberi maaf pada dasarnya berat. Tidak mudah ketika kita harus menyingkirkan ego dan menganggap masalah yang ada tidak perlu diungkit lagi. Perlu ada keberanian dalam memaafkan; keberanian untuk berkata maaf dan keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri. Dan untuk bisa memaafkan atau meminta maaf, perlu dimulai dari hal yang kecil.

The weak can never forgive. Forgiveness is the atribute of the strong.

Mahatma Gandhi

Di kultur Islam Indonesia, momen lebaran Fitri menjadi salah satu medium yang baik untuk menjadi awalan berlatih maaf. Pada lebaran Fitri kita akan berucap maaf kepada sanak saudara, baik orang tersebut sering kita temui atau bertemunya saat lebaran saja. Padahal kalau kita lihat lagi, kadang kita tidak benar-benar berbuat salah hanya saja kondisi membiasakan untuk mengucapkan kata maaf. Lebaran Fitri mengajarkan kita sikap rendah diri untuk mengakui kesalahan diri bahkan yang sangat kecil dan bahkan yang sangat mungkin kita tidak sadari.

Pemaafan perlu dibudayakan secara holistik. Kita perlu memulai dari diri sendiri untuk memaafkan kesalahan orang lain dan meminta maaf ketika kita berbuat salah. Lalu kita juga dapat mengingatkan sahabat kita untuk lebih mempertimbankan pemaafan demi kebaikana jangka panjang. Semoga dengan terus berusaha meminta atau memberi maaf, kehidupan kita kedepannya jadi lebih damai.

This post was last modified on 8 Maret 2018 1:15 PM

Akmal Faradise

Anggota Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

View Comments

Recent Posts

Masjid Rasa Kelenteng; Akulturasi Arsitektural Islam dan Tionghoa

Menarik untuk mengamati fenomena keberadaan masjid yang desain arsitekturnya mirip atau malah sama dengan kelenteng.…

2 bulan ago

Jatuh Bangun Konghucu Meraih Pengakuan

Hari Raya Imlek menjadi momentum untuk mendefinisikan kembali relasi harmonis antara umat Muslim dengan masyarakat…

2 bulan ago

Peran yang Tersisihkan : Kontribusi dan Peminggiran Etnis Tionghoa dalam Sejarah

Siapapun sepakat bahwa kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia tidak didominasi oleh satu kelompok berdasarkan…

2 bulan ago

Yang Diskriminatif adalah yang Jahiliyah

Islam melarang sikap diskriminasi, hal ini tercermin dalam firman Allah pada ayat ke-13 surat al-Hujurat:…

2 bulan ago

Memahami Makna QS. Al-Hujurat [49] 13, Menghilangkan Pola Pikir Sektarian dalam Kehidupan Berbangsa

Keberagaman merupakan salah satu realitas paling mendasar dalam kehidupan manusia. Allah SWT dengan tegas menyatakan…

2 bulan ago

Ketahanan Pangan dan Ketahanan Ideologi : Pilar Mereduksi Ekstremisme Kekerasan

Dalam visi Presiden Prabowo, ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas utama untuk mewujudkan kemandirian bangsa.…

2 bulan ago