Categories: Narasi

Muram yang Riang: Albert Camus, Solidaritas, dan Perlawanan

Like Prometheus we are bound

Chained to the rock of a brave new world

Our godforsaken lot

And I feel that’s all we’ve ever needed to know

‘Till words end and the seas run cold

Black Sun (Dead Can Dance)

Dalam salah satu esainya, The Rebel, Albert Camus berkesimpulan bahwa pada akhirnya, di atas segalanya, solider lebih utama daripada soliter. Saya melihat seperti ada paradigm shift dalam pemikiran Camus.

Pada salah satu esai yang melambungkan namanya, The Myth of Sisyphus, mantan wartawan sekaligus pemikir ini menjumput kisah Sisifus yang dihukum para dewa untuk menggelindingkan batu ke bawah dan kemudian menyorongnya kembali ke atas secara berulang kali. Tentu, tak seperti Heidegger yang secara jlentreh mengambil kisah “kejatuhan” dalam Perjanjian Baru dengan cara-cara “sekular,” Camus beranjak dari sebuah premis yang tanpa dipertanyakan terlebih dahulu: bahwa hidup itu absurd.

Dalam renungannya tentang absurditas, pemikir sekaligus sastrawan kelahiran Aljazair tersebut tak memilih bunuh diri filosofis ala Kierkegaard maupun bunuh diri eksistensial ala Ivan Karamazof, salah satu karakter utama dalam novel Dostoyevski, The Brothers Karamazov. Tapi Camus justru memaknai absurditas yang berasa datar dan muram sebagai sebentuk, apa yang saya istilahkan sebagai, “kemanusiaannya manusia” (kamanungsaning manungsa).

Justru, karena absurditas itulah manusia dapat dikatakan sebagai manusia. Memang, tilikan Camus tersebut seperti halnya mendengarkan musik-musik bergenre grunge, postgrunge, emo rock, dan seterusnya—di mana sangat terasa laiknya gelegak jiwa muda yang belum lerem dan meneb. Efek musik-musik sejenis ini tentu saja adalah perasaan teralienasi, keterbuangan, dan “masturbasif” (baca: soliter).

Baca Juga : Menolak Solidaritas Balas Dendam

Tapi sungguh berbeda ketika Camus, dalam The Rebel, mengolah kisah Prometheus yang dihukum para dewa dengan dirantai kakinya pada sebuah batu karena mencuri air untuk diberikan pada manusia. Kemanusiaan manusia dalam perspektif Prometheus justru terletak di mana absurditas hidupnya tak menghalanginya untuk peduli pada absurditas sesama.

Seumpamanya, meskipun Camus bukanlah orang Perancis, tapi ketika Jerman menduduki negara itu, secara sukarela ia ikut terlibat dalam gerakan pembebasannya. Bukankah absurd rasanya membela mati-matian negara yang bukan tanah airnya sendiri di mana tak pasti benar hidupnya di situ? Bukankah, lazimnya, banyak orang akan memilih pulang ke negara asalnya demi sebuah kepastian hidup? Dan bukankah, dalam logika absurd, tindakan membela itu sendiri adalah sesuatu yang absurd pula? Adakah jaminan bahwa kelak pun, ketika ia menghadapi masalah, akan dibela oleh negara yang bersangkutan? Bukankah, atas nama ke-urik-an, orang lebih baik “masturbasif” (soliter) sebagaimana Sisifus ketika sadar bahwa semuanya tak ada artinya lagi, dan kemudian membiarkan orang lain untuk membayangkan bahwa hidup orang yang bersangkutan tersebut bahagia?

Tapi pada akhirnya Camus menjatuhkan pilihan sikapnya pada Prometheus. Meskipun sadar bahwa hidupnya serba tak pasti, ia memilih menyambungkan ketakpastian hidupnya pada ketakpastian hidup rakyat Perancis. Dari segala ketakpastian tersebut, maka lahirlah satu-satunya kebermaknaan ataupun kepastian hidup: upaya bersama atau solidaritas untuk melawan absurditas.

Makna hidup di sini pada akhirnya adalah pada solidaritas untuk melawan. Karena itulah Camus mengguratkan satu-satunya solusi pada hidup yang absurd dalam sepenggal diktum filosofis: “I resist therefore I am.” Dengan kata lain, memang benar bahwa hidup itu absurd, tapi diam dan membiarkan tertelan absurditas bukanlah sama sekali pilihan yang memanusiakan manusia. Kemanusiaan manusia adalah justru terletak pada proses melawan absurditas tersebut. Kebermaknaan hidup, dengan demikian, sama sekali tak terletak pada apakah nantinya  perlawanannya tersebut berbuah kemenangan atau kegagalan. Seumpamanya pun kalah, setidaknya ia telah melawan atau telah menggunakan kemanusiaannya. Segala peradaban manusia yang tak abadi, yang silih berganti, tumbuh dan memudar, adalah bukti bahwa kemanusiaan manusia adalah terletak pada daya perlawanannya dan bukan pada hasil dari perlawanannya: “ketika kata-kata kelu dan lautan membeku.”

This post was last modified on 12 Maret 2020 3:11 PM

Heru harjo hutomo

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago