Narasi

Obituari Sapardi Djoko Damono: Sang Maestro Sastra “tak” Sederhana dan Kritik Kemanusiaan

“Pada suatu hari nanti, jasadku tak akan ada lagi, tapi dalam bait-bait sajak ini, kau tak akan kurelakan sendiri. Pada suatu hari nanti, suaraku tak terdengar lagi, tapi di antara larik-larik sajak ini. Kau akan tetap kusiasati,…”. (puisi suatu hari nanti, Sapardi DD).

 Indonesia saat ini kembali kehilangan salah satu “asset” terbaik di bidang kesenian, sastra dan kebudayaan. Penyair Legenda Indonesia, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono telah meninggal dunia pada usia 80 tahun di RS Eka Hospital BSD, (19/07/20). Seketika para seniman, pecinta dan penikmat karyanya merasa kehilangan akan sosok sang pujangga. Berbagai gempuran narasi duka cita seketika memenuhi timeline media sosial masyarakat Indonesia.  

Sapardi dikenal sebagai sosok yang santai, enerjik dan pembela kemanusiaan melalui karya sastranya. Seorang akademisi Universitas Indonesia cum kritikus sastra. Sejak umur 17 tahu, dia sudah melahirkan karya sastra, 63 tahun telah terjun di dunia sastra dan menjadi maestronya di Indonesia. Sebagai penyair ia dikenal dengan puisi-puisi cintanya, tetapi ia pun juga menuliskan cerpen dan novel dalam balutan perjalanannya.

Sosok yang sederhana dan melalui puisinya ia ingin “mencintai (mu) dengan sederhana”. Tetapi karya-karyanya tidak sesederhana ungkapannya. Setiap gubahan sajaknya penuh dengan makna dan selalu berusaha menciptakan diksi yang baru nan bermakna. Baginya, asyik bermain-main dengan kata sampai di dalamnya tersusun dunia yang bermakna.

Cinta dan Makna Kehidupan

Kesederhanaan yang tak sederhana, memahami karyanya seringkali dibutuhkan perenungan yang mendalam dan ia selalu berusaha mengajarkan akan makna kehidupan. Hal ini tergambar dalam salah satu puisinya, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu, Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Seorang sastrawan bagi Sapardi tidak boleh stagnan dan melakukan plagiasi terhadap karyanya sendiri.

Baca Juga : Khilafahisme dan Manusia Tuna Budi di Tengah Pandemi           

Karya-karyanya sangat lekat dengan anak muda, baik tentang cinta, rasa dan kehidupan. Di masa tuanya pun ia masih produktif berkarya. Di antara karya-karyanya adalah puisi Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000). Salah satu cerpen dan novelnya yakni pengarang telah mati (2001) dan Yang Fana adalah waktu (2018), serta menerjemah karya sastra dunia, salah satunya Lelaki tua dan laut karya Ernest Hemingway.   

Alumni Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada ini, seringkali menghujam kritik terhadap karya sastra yang tidak memiliki ciri khas dalam karyanya. Tahun 1995, Sapardi ditetapkan sebagai guru besar di bidang sastra di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di tengah susahnya melahirkan seorang sastrawan dari ranah formal, sosok Sapardi  menggabungkan antara aspek formal (akademis) dan realitas sosial.   

Penyair “Hujan bulan Juni” ini juga merupakan seniman cum aktivis yang selalu menyoroti persoalan sosial di sekitarnya. Ia mengkritisi berbagai krisis kemanusiaan yang terjadi salah satunya melalui puisi Dongeng Marsinah yang cukup terkenal di kalangan para aktivis. “…Marsinah kita tahu, tidak bersenjata, ia hanya suka merebus kata sampai mendidih, lalu meluap kemana-mana…”, ungkapnya dalam gubahan yang menggairahkan jiwa.  

  Berbagai penghargaan telah diraihnya, mulai dari taraf nasional hingga internasional. Sapardi mendapat Hadiah Majalah Basis atas puisi Ballada Matinya Seorang Pemberontak pada tahun 1963. Pada 1978 ia menerima Cultural Award dari pemerintah Australia. Pada 1983, ia memperoleh hadiah Anugerah Puisi-Puisi Putera II atas bukunya Sihir Hujan dari Malaysia. Pada 1984 Dewan Kesenian Jakarta memberi penghargaan atas buku Perahu Kertas. Mataram Award diterima Sapardi pada 1985, serta berbagai pernghargaan bergengsi lainnya. Akhirnya, benar ucapannya bahwa yang “fana adalah waktu”. Selamat jalan Begawan Sastra Indonesia. Karyamu akan mengabadi, sebagaimana sajak-sajakmu yang menyentuh hati.

This post was last modified on 20 Juli 2020 2:02 PM

Ferdiansah Jy

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago