Kebangsaan

Pro-Khilafah Tanda Tidak Paham Sejarah

Salah satu faktor penting yang mendorong para pahlawan bangsa ini menuju kebangkitan nasional dan kemerdekaan bangsa Indonesia adalah faktor agama. Bukan hanya Islam, tetapi juga banyak agam lainnya, seperti Kristen, Budha, Hindu, dll. Para tokoh pahlawan dari agama-agama yang sudah eksis di Indonesia jauh sebelum kemerdekaan itu menjadikan nilai-nilai utama yang ada dalam agama mereka masing-masing sebagai salah satu unsur penting untuk bergerak dan bersatu serta berjuang menuju kemerdekaan bangsa. Seperti halnya Islam, agama-agama yang ada di Indonesia sama-sama memiliki pandangan kuat tentang perlawanan terhadap penjajahan, eksploitasi dan pelanggaran hak asasi bangsa Indonesia.

Mereka berjuang bersama-sama sesuai dengan keahlian dan kemampuan yang dimiliki. Bagi umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk di Indonesia, mereka sepakat bahwa kemerdekaan adalah hak utama, dan bangsa Indonesia harus berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Mereka pun menjadikan nilai-nilai dari ajaran Islam sebagai pendorong untuk berjuang memerdekakan bangsa ini, yang bersatu dalam kebhinekaan.

Islam memang menentang keras penjajahan dan tidak menerima eksploitasi antara sesama manusia, tanpa membedakan warna kulit, bahasa dan agama. Bahkan Islam mengajarkan umatnya agar menghormati kemanusiaan dan mengajak kepada kemajuan di segala bidang, serta menekankan bahwa setiap kita harus selalu berpikir maju. Dalam salah satu riwayat bahkan disebutkan bahwa barangsiapa yang hari ini kondisinya masih sama saja dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia bukan dari umat Nabi Muhammad SAW.

Hasil perjuangan para pendahulu kita telah dirasakan secara nyata. Bangsa Indonesia nyatanya mampu bersatu dan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kemampuan dan kapasitas sama dengan yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain. Bangsa Indonesia telah mampu mengkombinasikan Islam dan demokrasi, sehingga Indonesia salah satu Negara yang diperhitungkan di kancah internasional. Ini juga sekaligus menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama primitif yang sesak dengan pemikiran-pemikiran kasar dan anti terhadap perbedaan; Islam tidak begitu.

Munculnya sekelompok kecil golongan yang mengaku Islam namun sangat gandrung pada kekerasan belakangan ini tentu sangat disayangkan. Di saat Islam mulai menunjukkan peran besarnya dalam kemauan bangsa, kelompok ini justru ingin menarik masyarakat kembali ke abad-abad awal, di mana permasalahan hanya dapat diselesaikan dengan peperangan, dan perbedaan merupakan musuh yang harus segera dihancurkan.

Mereka adalah silence but loud community yang merawat delusi Khilafah demi penghancuran demokrasi dan keberhasilan yang telah digapai selama ini. Mereka menganggap khilafah sebagai satu-satunya solusi terhadap segala masalah yang dihadapi bangsa ini, padahal anggapan semacam ini justru menunjukkan secara gamblang bahwa sesungguhnya mereka sangat tidak memahami sejarah secara utuh.

Berpegang pada delusi khilafah karenanya kontra produktif terhadap semangat kemajuan dan perbaikan masyarakat. Kita yang kini telah hidup di era modern seharusnya belajar untuk berkembang dan berkemajuan, bukan malah kembali ke pemikiran cekak ala masyarakat pra-peradaban.

 

Suaib Tahir

Suaib tahir adalah salah satu tim penulis pusat media damai (pmd). Sebelumnya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi timur tengah. Selain aktif menulis di PMD juga aktif mengajar di kampus dan organisasi

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

19 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago