Narasi

Yang Tua Yang Beriak, Yang Muda Yang Mengendap

Dalam kesusastraan Jawa, khususnya pada karya Ronggawarsita, istilah “muda” ternyata tak bertentangan dengan istilah “tua.” Sang pujangga Jawa itu mengaitkan istilah “muda” dengan istilah “mupus” atau “pupus” yang merujuk pada tunas atau daun muda. Meskipun ungkapannya terkesan sumeleh, “mupus pepesthening takdir,”namun secara spiritual kondisi itulah yang diasosiasikan dengan sikap yang sudah dewasa: menjemput takdir dengan penuh harapan. Maka tak heran ketika Mangkunegara IV mencirikan pula sikap dewasa atau tua ini dengan ungkapan “liring sepuh sepi hawa” yang sama sekali tak mengacu pada segi usia.

Beberapa waktu yang lalu ramailah jagat perpolitikan kita dengan munculnya yang muda dalam rangka meraih tampuk kekuasaan. Banyak pihak, sebagaimana lazimnya, menyebut hal itu sebagai hal yang tak patut. Untuk menegaskan ketakpatutan itu terkesan ada banyak cara yang digunakan. Namun, bukan agenda tulisan ini untuk menyinggung segala teknis penyikapan yang ahistoris atas munculnya fenomena kemudaan itu.

Orang barangkali lupa ketika raja Surakarta mengadakan perjanjian Giyanti dengan angka umur yang belumlah banyak. Dipanegara pun konon menjadi wali dari raja Yogyakarta, HB V, yang saat itu berusia 3 tahun. Artinya, dalam sejarah kekuasaan Jawa, ternyata umur bukanlah hal yang patut atau tak patut untuk menjadi pertimbangan atas sebuah pilihan.

Memang, dalam peradaban modern, yang muda banyak dicitrakan sebagai yang beda sekaligus yang berbahaya. Singkatnya, kecerobohan atau sikap pendek berpikir selalu diidentikkan dengannya. Dalam karya-karya sastra modern sama sekali kemudaan itu tak sebagaimana Ronggawarsita atau Mangkunegara IV menangkapnya. Maka, fenomena pemampatan kemudaan dalam lingkaran kekuasaan di Indonesia jelas adalah barang baru yang berangkat dari “kepongahan” modernisme.

Orang-orang yang berupaya memampatkan kemudaan itu saya kira dulunya hanyalah para “pemuda ceroboh” yang pernah terbuai oleh kemerdekaan modern yang, dalam kacamata postmodern, ilusif. Maka tak heran ketika dalam usia tuanya mereka berupaya menolak yang muda dimana gambaran tentang yang muda itu berangkat dari pengalaman-pengalaman pribadinya yang terbentuk oleh modernitas. Padahal konstruksi tentang yang muda itu tak semata dihasilkan oleh modernisme (Barat). Ronggawarsita dan Mangkunegara IV, sebagaimana di atas, jelas justru menempatkan kematangan spiritual bukan berdasarkan angka tahun hidup atau umur.

Kemudaan dalam tangkapan pujangga dan raja di Surakarta itu justru menampakkan sikap-sikap yang bagi pemabuk modernisme dikategorikan tua, dengan kembali pada Ronggawarsita, diungkapan penuh dengan “pangastuti” yang konon mampu mengalahkan sikap kemudaan yang diagung-agungkan oleh modernisme, “suradira jayaningrat.”

Sikap untuk tak rela atau tak nrima jelas adalah wujud kemudaan spiritual dari golongan yang bisa saja tua dari segi umur, setelah misalnya berkali-kali mencoba memampatkan segala potensi yang dimiliki oleh yang muda. Dan sikap yang muda, dalam konteks ini, justru diimbangi dengan sikap sumeleh dan sumarah atas apa yang sedang terjadi, yang lazimnya konon dimiliki oleh kalangan yang dianggap tua secara umur. Maka, patut untuk direnungkan, siapakah sesungguhnya di sini yang ingusan atau yang muda dalam hal menyikapi atas apa yang terjadi?      

This post was last modified on 3 November 2023 2:10 PM

Heru harjo hutomo

Recent Posts

Mengurai Jebakan Propaganda Ekstremis dan Menafsir Ulang Sumpah Pemuda di tengah Gejolak Geoekonomi-Politik

Tembok kedaulatan sebuah negara hari ini tidak lagi semata diruntuhkan oleh invasi militer, melainkan oleh…

15 jam ago

Sensasionalisme Narasi Eskatologi: Pentingnya Studi Takhrij terhadap Hadis Akhir Zaman

Isu eskatologi selalu memiliki daya pikat magis di tengah umat Muslim. Di era banjir informasi…

15 jam ago

Menolak Normalisasi Vigilantisme: Main Hakim Sendiri Sebagai Pintu Masuk Terorisme

Kasus penggerebekan sebuah pondok pesantren di Karanganyar oleh aparat kepolisian yang berkaitan dengan aksi pembakaran…

15 jam ago

Sindrom “Katak Rebus” dan Matinya Nalar Geopolitik

Terdapat potret metaforis tentang katak yang dimasukkan ke dalam rebusan air. Ketika katak dimasukkan langsung…

2 hari ago

Komodifikasi Ketakutan dan Ilusi Ideologi: Merefleksikan Sumpah Pemuda di Palagan Siber

Peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober tidak boleh dibiarkan menguap sekadar menjadi romantisme sejarah…

2 hari ago

Belajar Kolaborasi Pemuda Lintas Iman dalam Aksi Kemanusiaan : Kepedulian Tidak Mengenal Batas Iman

Suatu hari di Mekah, jauh sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, seorang pedagang dari Zubaid, Yaman,…

2 hari ago