Dajjal, Perang, dan Imam Mahdi: Mengapa Kajian Akhir Zaman Laku di Kalangan Kelas Menengah Muslim Urban?

Dajjal, Perang, dan Imam Mahdi: Mengapa Kajian Akhir Zaman Laku di Kalangan Kelas Menengah Muslim Urban?

- in Keagamaan
0
0
Dajjal, Perang, dan Imam Mahdi: Mengapa Kajian Akhir Zaman Laku di Kalangan Kelas Menengah Muslim Urban?

Ada fenomena menari yang terjadi di lanskap keislaman Indonesia kontemporer. Di tengah menguatnya kelompok kelas menengah muslim urban, ada gejala anomalistik yang menarik dicermati lebih lanjut. Yakni popularitas kajian akhir zaman yang para jemaahnya justru dari kalangan kelas menengah urban yang mayoritas terdidik dan mapan secara ekonomi.

Para penceramah spesialis tema kajian akhir zaman, sebut misalya, Ustad Baiquni, sangat masyhur di kalangan kelas menengah urban. Tema bahasan seperti ya’jud ma’jud, dukhon, perang akhir zaman, dajjal, turunnya Nabi Isa, dan sebagainya begitu laris di kalangan muslim uban.

Penggalan video ceramah tentang akhir zaman pun bertebaran di media sosial dengan jumlah views dan like mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan. Fenomena apa ini? Mengapa kelas menengah urban justru gandrung pada tema-tema akhir zaman. Sementara kelompok akar rumput seperti Nahdliyin justru cenderung menghindari tema akhir zaman dalam pengajian?

Popularitas kajian eskatologi di perkotaan tidak lahir di ruang hampa. Kehidupan masyarakat urban yang serba cepat, kompetitif, dan penuh ketidakpastian memicu rasa keterasingan yang masif. Krisis iklim global, ketegangan politik luar negeri, ancaman krisis ekonomi, hingga riuhnya algoritma media sosial yang dipenuhi berita buruk kerap membuat masyarakat urban merasa tidak berdaya. Di tengah kekacauan informasi dan kerapuhan hidup modern tersebut, isu akhir zaman menawarkan skenario sederhana yang menjanjikan kepastian.

Untuk membedah fenomena sosial ini, kita dapat membacanya melalui kerangka teori sosiologi mengenai risk of modernity yang diperkenalkan oleh Ulrich Beck. Beck menjelaskan bahwa masyarakat modern abad ini hidup dalam sebuah masyarakat risiko, di mana kemajuan industri dan teknologi justru memproduksi berbagai risiko baru yang tidak pasti, sulit diprediksi, dan tak lagi sanggup dikontrol oleh lembaga-lembaga konvensional.

Dalam situasi penuh kecemasan dan ketidakpastian eksistensial akibat risiko global tersebut, manusia modern secara psikologis merindukan pegangan yang pasti untuk menjelaskan kerumitan dunia di sekitar mereka. Narasi eskatologi akhir zaman hadir memenuhi dahaga psikologis tersebut dengan cara memberikan peta makna yang sangat intuitif.

Rumitnya krisis geopolitik, inflasi ekonomi, dan ketegangan sosial tidak lagi dipandang sebagai dinamika politik atau ekonomi yang kompleks, melainkan disederhanakan menjadi skenario besar perseteruan abadi antara kebaikan mutlak dan kejahatan mutlak. Dengan meyakini bahwa segala kekacauan dunia sudah diramalkan dan memiliki akhir yang pasti, masyarakat urban merasa mendapatkan kembali rasa kendali dan kepastian atas masa depan mereka yang sebelumnya buram.

Selain sebagai penawar kecemasan, kajian akhir zaman juga berfungsi sebagai bentuk kompensasi spiritual bagi kelas menengah urban. Rutinitas kerja yang kering akan makna dan tekanan gaya hidup konsumerisme sering kali menimbulkan rasa bersalah secara keagamaan.

Menghadiri pengajian eskatologi memberikan sensasi pengalaman spiritual yang intens sekaligus rasa aman bahwa mereka berada di pihak yang selamat di akhir kisah dunia. Di samping itu, ikatan komunitas pengajian urban ini juga menyediakan ruang persaudaraan baru yang hangat di tengah dinginnya individualisme kota besar.

Bahaya di Balik Kajian Akhir Zaman

Namun, menggelembungnya konsumsi narasi akhir zaman yang tidak diimbangi dengan literasi keagamaan yang utuh menyimpan potensi kerawanan yang serius. Ketika teks-teks nubuatan dipahami secara harfiah, tergesa-gesa, dan dicabut dari metodologi keilmuan ulama, narasi tersebut sangat mudah dimanipulasi oleh kelompok radikal.

Konflik politik internasional yang sebenarnya bersumber dari perebutan sumber daya atau kekuasaan antarnegara acap kali ditarik secara paksa menjadi perang akidah yang menandai akhir zaman. Hal ini berisiko melahirkan sikap fatalisme, di mana umat menjadi pasif terhadap perbaikan kualitas hidup, atau sebaliknya, terdorong ke dalam paham ekstremis dan kecurigaan berlebihan terhadap kelompok lain.

Di sinilah pentingnya menghadirkan nalar moderasi beragama (wasathiyah) dan literasi kritis dalam merespons fenomena eskatologi urban. Mengakui dan mempelajari nubuatan akhir zaman sebagai bagian dari khazanah keimanan adalah hal yang sah dalam Islam. Namun, pemahaman tersebut harus diletakkan dalam kerangka etika keislaman yang produktif.

Ajaran Islam sejatinya menekankan bahwa kesadaran akan hari akhir bukan untuk memicu ketakutan berlebihan atau sikap menyerah pada keadaan, melainkan sebagai pendorong untuk terus berbuat kebaikan dan membela nilai-nilai kemanusiaan di dunia.

Sebuah pesan klasik dari khazanah keilmuan Islam mengingatkan bahwa sekiranya besok kiamat akan terjadi dan di tangan salah seorang di antara kita terdapat bibit pohon, maka tetaplah tanam bibit tersebut. Semangat inilah yang seharusnya dihidupkan di tengah kelas menengah Muslim urban. Kesadaran akan keterbatasan dunia tidak boleh membuat kita berhenti merawat bumi, membangun peradaban, dan memperkokoh persaudaraan sesama anak bangsa.

Pada akhirnya, maraknya kajian akhir zaman di kota-kota besar adalah cermin dari kerinduan manusia modern akan kedamaian batin. Tugas para dai, intelektual, dan komunitas kreatif adalah mengarahkan energi kerinduan spiritual tersebut agar tidak terjebak dalam paranoia atau manipulasi politik.

Dengan merajut kembali ilmu keagamaan yang mendalam, wawasan kebangsaan yang kokoh, dan kepedulian sosial yang nyata, kelas menengah Muslim urban dapat mengubah kecemasan zamannya menjadi energi perubahan positif yang melimpahkan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Facebook Comments