Algoritma Hitam-Putih Beragama: Saatnya Moderasi Dunia Digital Diperlukan!

Algoritma Hitam-Putih Beragama: Saatnya Moderasi Dunia Digital Diperlukan!

- in Narasi
1
0
Algoritma Hitam-Putih Beragama: Saatnya Moderasi Dunia Digital Diperlukan!

Di media sosial, perbedaan pendapat tentang agama sering kali tidak berhenti sebagai perbedaan penafsiran. Ia dapat berkembang menjadi pertarungan identitas: siapa yang dianggap paling benar, siapa yang dicurigai menyimpang, dan siapa yang harus dijauhi. Dalam logika semacam ini, dunia terasa sederhana karena hanya menyediakan dua posisi: salah atau benar dan kawan atau musuh.

Persoalannya, kehidupan beragama jauh lebih kompleks daripada pembelahan tersebut. Seseorang bisa berbeda pendapat tanpa membenci, mengkritik tanpa merendahkan, dan meyakini kebenaran agamanya tanpa harus menghilangkan martabat orang yang berbeda. Namun, ketika percakapan keagamaan berlangsung dalam ekosistem digital yang penuh persaingan perhatian, kemampuan untuk memahami kerumitan itu justru kerap terdesak.

Sebuah studi tentang konflik antaragama di TikTok Indonesia yang diterbitkan dalam jurnal Analisa: Journal of Social Science and Religion pada 2025 dengan judul TikTok Algorithms and the Escalation of Interfaith Conflict in Indonesia menarik untuk disimak. Penelitian ini menganalisis lima siaran langsung terkait konflik keagamaan dan 853.513 komentar berbahasa Indonesia.

Hasilnya, riset tersebut menemukan pola interaksi yang memperkuat polarisasi dalam percakapan yang diteliti. Studi ini menyoroti bagaimana algoritma platform TikTok berkontribusi signifikan dalam memperkuat polarisasi ideologis dan mempercepat eskalasi konflik antarumat beragama. Tentu saja tidak berarti semua pengguna atau algoritma media sosial selalu menciptakan permusuhan, tetapi menunjukkan bahwa ruang digital dapat menjadi tempat perbedaan diperkeras menjadi konflik identitas (Jamil dan Khusairi, 2025).

Apa yang perlu diperlajari dari studi ini. Ternyata, Konten yang bermuatan konflik agama menghasilkan interaksi rata-rata 3,5 kali lebih banyak komentar dibandingkan konten biasa. Artinya, konten yang memicu emosi negatif dibagikan oleh pengguna hingga 4 kali lebih sering daripada konten yang bernada netral atau positif. Kolom komentar didominasi oleh emosi negatif sebanyak 68,2% (582.463 komentar), disusul sentimen netral sebesar 24,7%, dan sentimen positif yang hanya menyentuh angka 7,1%.

Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Logika hitam-putih bekerja dengan menyederhanakan persoalan yang rumit menjadi pertentangan mutlak. Pendapat sendiri dianggap sepenuhnya benar, sedangkan pendapat berbeda dipandang sebagai ancaman. Akibatnya, orang tidak lagi berusaha memahami argumen lawan bicara, tetapi mencari kesalahan untuk membuktikan bahwa pihak lain tidak layak didengar.

Media sosial dapat memperkuat kecenderungan tersebut melalui konten yang memancing kemarahan, potongan ceramah tanpa konteks, judul provokatif, serta komentar yang menggeneralisasi kelompok tertentu. Ketika seseorang terus berinteraksi dengan konten sejenis, ia berisiko semakin sering berjumpa dengan pandangan yang mengukuhkan keyakinannya sendiri.

Dari Moderasi Beragama ke Moderasi Bermedia Sosial

Moderasi beragama menawarkan cara pandang untuk menghadapi persoalan tersebut. Kementerian Agama menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah memoderasi ajaran agama, melainkan membangun cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang adil, seimbang, menghormati perbedaan, serta menolak kekerasan. Empat indikatornya meliputi komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi.

Prinsip-prinsip ini relevan ketika diterapkan dalam interaksi digital. Toleransi, misalnya, bukan berarti semua pendapat harus dianggap benar. Kita tetap dapat mengkritik argumen, membantah penafsiran, dan mempertahankan keyakinan. Namun, kritik tidak harus berubah menjadi penghinaan, dan perbedaan tidak boleh otomatis dijadikan alasan untuk memusuhi.

Dengan demikian, moderasi beragama bukan sikap ragu terhadap keyakinan sendiri, tetapi kemampuan menjaga keyakinan agar tidak berubah menjadi pembenaran untuk merendahkan atau menyakiti orang lain. Nilai moderasi perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan digital yang konkret.

Prakteknya, sebelum membagikan konten keagamaan, periksa sumber dan konteksnya. Sebelum menyimpulkan seseorang menyimpang, pahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya ia sampaikan. Ketika menemukan pendapat berbeda, tanggapi argumennya, bukan menyerang identitas orangnya.

Moderasi bermedia sosial membutuhkan lebih dari kesantunan bahasa: ia memerlukan kemampuan memeriksa fakta, memahami konteks, dan mempertimbangkan akibat dari tindakan digital kita. Pada akhirnya, tantangan keberagamaan hari ini bukan hanya bagaimana mempertahankan keyakinan di tengah perbedaan, tetapi juga bagaimana menjaga akal sehat ketika ruang digital terus menawarkan pertentangan.

Kita tidak harus menghapus perbedaan pendapat untuk hidup berdampingan. Kita hanya perlu menolak anggapan bahwa setiap orang yang berbeda adalah musuh.

Sebab, kedewasaan beragama tidak semata-mata terlihat dari seberapa teguh seseorang membela keyakinannya, tetapi juga dari kemampuannya berlaku adil, berpikir jernih, dan menjaga kemanusiaan ketika berhadapan dengan mereka yang tidak sepakat dengannya.

Facebook Comments