Menjernihkan Simplifikasi Geopolitik: Merawat Solidaritas Kemanusiaan Tanpa Merobohkan Rumah Bangsa

Menjernihkan Simplifikasi Geopolitik: Merawat Solidaritas Kemanusiaan Tanpa Merobohkan Rumah Bangsa

- in Narasi
1
0
Menjernihkan Simplifikasi Geopolitik: Merawat Solidaritas Kemanusiaan Tanpa Merobohkan Rumah Bangsa

Kepedulian generasi muda Indonesia terhadap gejolak geopolitik dunia, khususnya yang terjadi di dunia Islam, hari ini berada di persimpangan jalan yang krusial. Di satu sisi, empati dan rasa kemanusiaan mereka tumbuh begitu hangat dan peka. Namun di sisi lain, kepedulian yang tulus itu kerap terjebak dalam perangkap simplifikasi propaganda.

Konflik politik keagamaan dan perebutan kekuasaan yang rumit di tingkat global acap kali dibungkus ulang menjadi narasi tunggal perang akidah. Ketika informasi dipotong dari konteks historisnya, empati publik mudah dimanipulasi untuk menyulut kebencian domestik.

Praktik importasi konflik global ini bekerja melalui simplifikasi yang berbahaya. Peristiwa kompleks disederhanakan menjadi logika hitam putih yang dangkal. Politik label, glorifikasi rasa terancam, hingga manipulasi teks-teks keagamaan digunakan untuk membangun narasi seolah-olah rumah bangsa kita sendiri sedang tidak aman dan sistem negara bangsa sudah tidak relevan lagi. Paham ekstrem berusaha memanfaatkan emosi pemuda untuk merobohkan ikrar kebangsaan yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa.

Untuk memahami bagaimana propaganda media sosial sanggup mengikis pemikiran kritis anak muda, kita dapat membacanya melalui kerangka sosiologi media yang diperkenalkan oleh Manuel Castells mengenai masyarakat jejaring (network society). Castells menjelaskan bahwa di era komunikasi digital, kekuasaan tidak lagi bekerja secara terpusat melalui lembaga formal, melainkan melalui kemampuan untuk mengarahkan dan mengolah pemaknaan dalam jaringan komunikasi global.

Ketika arus informasi diatur oleh pola jejaring digital yang mengandalkan sensasionalisme, emosi kolektif mudah diarahkan untuk meretakkan solidaritas sosial dan mengaburkan batas antara fakta objektif serta manipulasi politik.

Dalam cengkeraman ruang jejaring digital yang riuh ini, generasi muda membutuhkan pemilah yang jernih agar tidak terseret arus populisme transnasional. Kita harus mampu membedakan dengan tegas antara solidaritas kemanusiaan yang murni dengan gerakan mobilisasi kebencian. Membela hak-hak korban ketidakadilan di Palestina, Yaman, atau belahan bumi manapun adalah wujud kepedulian etis yang sangat mulia. Namun, membawa permusuhan politik luar negeri ke dalam negeri untuk merusak kerukunan antarumat beragama dan melegitimasi pembangkangan terhadap konsensus negara bangsa adalah sebuah kekeliruan fatal.

Menolak Pembajakan Empati

Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali wawasan kebangsaan dan nalar keberagamaan yang moderat. Negara bangsa Indonesia bukan dibangun atas dasar kesamaan suku atau ras semata, melainkan atas dasar kesepakatan luhur untuk hidup bersama dalam perbedaan. Empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, adalah jembatan yang memungkinkan kita mengekspresikan kepedulian global tanpa harus merobohkan fondasi rumah sendiri.

Mencegah pembajakan empati ini membutuhkan peran aktif dari seluruh elemen generasi muda. Aktivis pemuda lintas iman, pegiat isu perempuan, para aktor gerakan moderasi beragama, dan komunitas sipil lainnya memiliki posisi strategis sebagai agen literasi di ruang siber.

Mereka adalah garda terdepan yang bertugas merajut kembali benang-benang persatuan yang coba diputus oleh propaganda kebencian. Di lingkup domestik, perempuan sebagai pendidik utama dalam keluarga dan masyarakat memiliki kekuatan emosional dan intelektual untuk menyaring narasi radikal sejak dari unit terkecil sosial.

Sementara di ranah medsos, peran para kreator konten muda juga sangat vital dalam pertarungan narasi di dunia digital. Algoritma media sosial yang sering kali condong para narasi konfliktual harus dilawan dengan narasi digital yang kreatif, segar, dan berbasis pada prinsip solidaritas kemanusiaan yang moderat dan inklusif.

Para kreator muda idealnya ikut andil menjernihkan simplifikasi geopolitik yang dilakukan kalangan konservatif-radikal. Isu-isu geopolitik soal Yaman versus Arab Saudi, Iran versus Amerika, Rusia versus Ukraiana dan sebagainya idealnya dibahas dengan perspektif yang utuh dan tidak sepenggal-sepenggal.

Memahami Geopolitik Secara Komprehensif

Menghadirkan kajian geopolitik yang objektif ke dalam format video yang ramah medsos adalah ikhtiar untuk memastikan ruang siber bersih dari kebencian dan permusuhan antar anak bangsa. Upaya mewujudkan hal itu memang tidak mudah. Kolomnis Newsweek, Farid Zakaria, pernah berpesan dalam sebuah wawancara bagaimana agar generasi muda hari ini melek isu geopolitik.

Pertama, rajin membaca berbagai literatur tentang sejarah politik dan budaya dunia untuk memahami bahwa peta perbedaan dan konflik berlatar sosio-kultural itu punya sejarah yang panjang dan tidak terjadi dalam semalam. Membaca literatur sejarah, menurut Farid, adalah modal untuk memahami bagaimana dunia terpolarisasi.

Konflik antara India dan Pakistan misalnya mustahil dipahami tanpa melihat sejarah bagaimana kedua negara itu terbentuk. Demikian pula soal konflik Iran dan sejumlah negara Arab, Korea Selatan-Korea Utara, Rusia-Ukraina dan sebagainya. Pengetahuan sejarah adalah fondasi penting membangun literasi geopolitik yang kuat.

Kedua, biasanya membaca berita dan informasi dari sumber yang terpercaya dan berimbang. Konflik geopolitik, menurut Farid, tidak pernah dilatari oleh satu faktor tunggal, misalnya agama saja, politik saja, atau ekonomi saja. Selalu ada banyak faktor kompleks yang melatari mengapa konflik geopolitik terjadi. Maka, kita harus memastikan informasi atau berita yang sampai ke kita benar-benar terpercaya dan berasal dari media yang kredibel dan berintegritas.

Literasi media kritis, termasuk mengenali mana media yang partisan alias tidak netral dan tendensius pada satu kelompok adalah fondasi yang juga penting dalam memperkuat literasi geopolitik. Terlalu banyak membaca berita yang bernuansa misinformai dan disebar oleh media partisan akan membuat kita menjadi individu yang tidak jernih dalam menentukan sikap dan keberpihakan.

Pada akhirnya, menjernihkan simplifikasi geopolitik dunia adalah wujud kedewasaan sebuah bangsa. Di tangan generasi muda yang cerdas literasi, teguh beragama, dan mencintai tanah air, propaganda kebencian akan runtuh dengan sendirinya. Mari kita terus merawat solidaritas kemanusiaan tanpa batas, sembari terus memperkokoh tiang-tiang rumah Indonesia agar tetap teduh dan aman bagi seluruh anak bangsa.

Facebook Comments