Seorang anak yang biasanya terbuka tiba-tiba enggan bercerita. Ia semakin tertutup tentang teman-teman daringnya, sering membicarakan kekerasan dengan nada kagum, atau mulai menganggap kelompok tertentu layak dibenci.
Jika gejala-gejala tersebut mulai nampak dalam perilaku anak, orang tua tidak boleh mengabaikan atau sekedar menganggapnya sebagai fase remaja. Dalam situasi tertentu, perubahan semacam ini dapat menjadi alasan untuk mendekat dan mencari tahu apa yang sedang dialami anak.
Peringatan ini semakin relevan setelah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap bahwa 620 anak berusia 11–18 tahun di 34 provinsi teridentifikasi terpapar paham kekerasan dan radikalisme melalui ruang digital pada Januari hingga Agustus 2026.
Orang tua perlu memahami satu hal bahwa tidak ada satu perubahan perilaku yang otomatis membuktikan seorang anak mengalami radikalisasi. Namun, tidak bijak pula mengatakan bahwa perubahan perilaku yang dialami anak sebagai proses kewajaran yang tidak perlu dibesar-besarkan.
Keluarga sebagai benteng pertama perlu memperhatikan pola perubahan, konteksnya, dan bagaimana perubahan itu memengaruhi kehidupan anak. Terkadang keabaian orang tua justru menjadi pintu potensial masuknya pengaruh buruk terhadap anak, tak terkecuali persoalan radikalisasi.
Mengenali Tanda dan Perubahan pada Anak
Tanda awal yang patut diperhatikan antara lain perubahan sikap terhadap kekerasan. Anak yang sebelumnya menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang salah mulai mengagungkan pelaku, membenarkan serangan terhadap kelompok tertentu, atau menyebut kekerasan sebagai cara yang pantas untuk menyelesaikan perbedaan.
Perubahan selanjutnya dapat terlihat dari hubungan sosial dan aktivitas digitalnya. Anak mungkin semakin tertutup mengenai interaksi daring, menunjukkan keterikatan berlebihan kepada seseorang yang dikenalnya di internet, atau merasa harus menyembunyikan komunikasi tertentu karena mendapat tekanan.
Dalam kasus lain, ia mulai mengulang narasi kebencian yang sama, memandang dunia secara hitam-putih, dan menolak semua pandangan berbeda sebagai musuh. Tanda-tanda tersebut tidak berdiri sendiri. Ketertarikan pada isu agama, politik, sejarah konflik, atau komunitas gim bukanlah bukti radikalisasi. Bahkan, komunitas yang membahas kejahatan atau peristiwa kekerasan tidak otomatis berbahaya.
BNPT sendiri mengingatkan bahwa True Crime Community tidak serta-merta merupakan jaringan ekstremisme. Tetapi perhatian perlu diarahkan pada perubahan perilaku yang mengagungkan atau menormalisasi kekerasan.
Karena itu, orang tua sebaiknya menjadikan daftar tanda tersebut sebagai alat deteksi dini, tetapi bukan menghakimi anak. Perubahan tersebut merupakan alasan untuk bertanya, mendengarkan, dan memahami konteks—bukan dasar untuk langsung menuduh.
Keluarga Harus Menjadi Tempat Aman untuk Bercerita
Dalam proses digital grooming, seseorang dapat membangun kepercayaan anak sebelum memengaruhi pandangannya. Perekrut atau pihak manipulatif bisa menawarkan perhatian, persahabatan, dan rasa memiliki. Jika anak merasa tidak didengar di rumah, hubungan daring yang tampak memahami dirinya dapat menjadi semakin penting baginya.
Karena itu, patut pula dipahami keluarga yang menghadapi masalah komunikasi memang memiliki potensi anak mudah terpapar paham kekerasan. Tetapi, tentu itu bukan satu-satunya faktor. Perekrutan memiliki banyak faktor, dan tanggung jawab tidak boleh dibebankan kepada orang tua semata. Namun, hubungan keluarga yang hangat dapat membantu anak memiliki tempat untuk memeriksa informasi, mengungkapkan kebingungan, dan meminta pertolongan.
Karena itulah, perlu adanya pendekatan menyeluruh dalam mencegah perekrutan anak oleh kelompok teroris dan ekstremis kekerasan, termasuk keterlibatan keluarga, pendidikan, layanan perlindungan anak, dan dukungan yang sesuai bagi anak serta keluarganya. Di sinilah keluarga menjadi garda terdepan dalam memahami gejala dan melakukan deteksi dini.
Ketika melihat perubahan yang mengkhawatirkan, orang tua sebaiknya memulai percakapan tanpa menginterogasi. Tanyakan apa yang membuat anak tertarik pada suatu komunitas atau gagasan. Dengarkan sebelum membantah. Jika ditemukan komunikasi yang mengandung ancaman, manipulasi, atau ajakan melakukan kekerasan, simpan bukti secara aman dan cari bantuan dari pihak yang kompeten.
Kehadiran keluarga juga harus dibangun jauh sebelum muncul tanda bahaya. Luangkan waktu untuk mengetahui dunia digital anak, mengenal permainan dan komunitas yang diikutinya, serta membicarakan cara menghadapi kebencian dan informasi yang menyesatkan.
Mencegah radikalisasi bukan berarti mengawasi setiap gerak-gerik anak atau melarang semua aktivitas digitalnya. Pengawasan tanpa kepercayaan justru dapat membuat anak semakin menyembunyikan masalah. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara batasan yang jelas, literasi digital, dan hubungan yang memungkinkan anak berbicara tanpa takut langsung dihukum.
Pada akhirnya, pertanyaan penting bagi orang tua bukan hanya berapa lama anak menggunakan gawai, tetapi juga berapa lama orang tua meluangkan waktu berkomunikasi dengan anak. Sebelum anak kehilangan arah di ruang digital, keluarga masih memiliki kesempatan untuk hadir sebagai tempat pulang, tempat ia didengar, diajak berpikir kritis, dan dilindungi tanpa kehilangan martabatnya.
