Jong Islamieten Bond, Merawat Identitas Tanpa Terjebak Polarisasi

Jong Islamieten Bond, Merawat Identitas Tanpa Terjebak Polarisasi

- in Narasi
6
0
Jong Islamieten Bond, Merawat Identitas Tanpa Terjebak Polarisasi

Surakarta, 1927. Di tengah ruang kongres yang riuh, Haji Agus Salim melangkah tenang menuju mimbar. Sebelum berpidato soal kedudukan perempuan dalam Islam, tokoh yang dijuluki “Bapak Spiritualisme” itu merobek tabir kain yang memisahkan kursi peserta laki-laki dan perempuan.

Tindakan itu cukup provokatif pada zamannya. Namun, anak-anak muda berusia dua puluhan tahun yang tergabung dalam Jong Islamieten Bond (JIB) di ruangan itu tidak bereaksi dengan kemarahan. Mereka menyimak, berdebat, dan menguji mereka yang “menyerang” keputusan itu dengan dewasa.

Sikap matang dalam merespons provokasi memang sudah menjadi ruh kelahiran JIB. Pada awal 1920-an, pelajar pribumi di sekolah kolonial seperti HIS, MULO, dan AMS tidak mendapat pelajaran agama dan kerap menghadapi sindiran guru Belanda terhadap Islam.

Ketika Raden Syamsurijal, pendiri dan ketua pertama JIB, mengusulkan kursus agama Islam di kongres Jong Java pada akhir 1924, usul itu ditolak mentah-mentah dan dituduh bermuatan politik.

Alih-alih membalas dengan kegaduhan, Syamsurijal meminta nasihat KH Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, dan Agus Salim. Dari penolakan itulah, Jong Islamieten Bond resmi berdiri di Batavia pada 1 Januari 1925.

Seabad berselang, tantangan untuk menyikapi provokasi menjadi ujian bagi generasi muda hari ini. Setiap hari, lini masa media sosial membombardir anak muda dengan konten rage-bait, potongan video pendek tanpa konteks, serta poster satu kalimat yang memantik amarah.

Sayangnya, provokasi algoritma ini kerap disambut secara reaktif. Banyak anak muda mudah tersulut untuk membela kelompoknya secara membabi buta, sembari menutup ruang diskusi dengan melabeli lawan bicara ke dalam kotak-kotak stigma.

Di titik inilah substansi JIB menjadi cermin yang relevan. Pemuda JIB menjawab sindiran kolonial bukan dengan kemarahan atau sanggahan yang dangkal, melainkan dengan disiplin intelektual. Lewat bimbingan Agus Salim, mereka mempelajari Islam secara rasional dan berani menguji klaim kelompok sendiri, sehingga rasa rendah diri di hadapan pemikiran Barat runtuh.

Di usia sekitar dua puluh lima tahun, para kader seperti Mohammad Natsir, Roem, Kasman Singodimedjo, Wiwoho, hingga Yusuf Wibisono aktif unjuk gagasan dengan menulis di majalah Het Licht (An-Nur), klub studi mahasiswa SISC, dan sayap perempuan JIBDA.

Mereka berkumpul untuk membedah tema-tema besar seperti sosialisme, kebangsaan, dan kesetaraan perempuan, bukan sekadar mengejar exposure atau popularitas sesaat.

JIB mencontohkan cara merawat identitas tanpa terjebak polarisasi. Secara internal, JIB menolak terikat pada satu golongan Islam tertentu sehingga menjadi rumah bersama lintas aliran. Secara eksternal, anggaran dasar mereka mematok asas “toleransi positif” terhadap pemeluk agama lain. Bahkan, dalam pidato kongres pertamanya, Syamsurijal menegaskan bahwa di samping haluan Islam, JIB wajib memberi tempat bagi aliran nasionalis.

Sikap anti-polarisasi itu tampak nyata dalam relasi pergerakan mereka. Meski lahir akibat penolakan di kongres Jong Java, para pemuda JIB tidak lantas memendam dendam atau mengisolasi diri menjadi kelompok eksklusif yang memusuhi perhimpunan pemuda daerah.

Sebaliknya, keislaman dan keindonesiaan mereka lebur dalam kerja bersama. Jauh sebelum nama “Indonesia” lazim digunakan, JIB sudah lebih dulu menyematkannya pada organisasi kepanduan mereka, Natipij (Nationale Indonesische Padvinderij).

Puncak keterbukaan itu terwujud dalam Kongres Pemuda II tahun 1928. Tanpa sekat ideologi maupun sisa ketegangan masa lalu, JIB duduk semeja kembali bersama Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, serta pemuda lintas daerah dan iman lainnya untuk melahirkan Sumpah Pemuda.

Di momen bersejarah itu, Wiwoho Purbohadidjojo hadir sebagai delegasi resmi, sementara kader JIB lainnya, Johan Mohammad Tjai, duduk langsung di jajaran kepanitiaan inti sebagai Pembantu I. Identitas keislaman yang kokoh terbukti tidak menghalangi mereka untuk mengikat janji kebangsaan yang satu.

Bagi Gen Z yang kerap terbelah oleh provokasi isu global di medsos, prinsip di JIB memberi pijakan bahwa berempati penuh pada penderitaan di Palestina sama sekali tidak mengharuskan kita mencaci maki atau menganggap negara sendiri cacat sepenuhnya.

Tentu kita tidak perlu meromantisasi JIB. Pada akhir 1925, anggotanya hanya sekitar seribu pelajar berpendidikan Barat, serta belum sempat membangun lembaga riset maupun pendidikan berbahasa Arab yang mendalam sebelum dibekukan Jepang.

Lawan mereka kala itu adalah kolonialisme yang kasatmata, sedangkan Gen Z hari ini menghadapi algoritma tak berwujud yang memanen keributan demi trafik. Warisan terbaik JIB memang bukan bentuk organisasinya, melainkan cara berpikirnya, bukti bahwa di tengah provokasi apa pun, anak muda bisa tetap kritis dan berempati sembari menjadi Indonesia seutuhnya.

Facebook Comments