Generasi Muda 5.0; Menghidupkan Literasi Kasih Sayang dan Menutup Ruang Radikalisme

Generasi Muda 5.0; Menghidupkan Literasi Kasih Sayang dan Menutup Ruang Radikalisme

- in Narasi
0
0
Generasi Muda 5.0; Menghidupkan Literasi Kasih Sayang dan Menutup Ruang Radikalisme

Telah kita ketahui bersama bahwa AI atau kecerdasan buatan telah menjelma menjadi kekuatan dahsyat nan luar biasa dalam proses produksi konten di abad digital ini. Dibandingkan dengan media konvensional AI mempunyai potensi lebih cepat dalam produksinya. Meskipun demikian, perlu diwaspadai akan adanya potensi menjadi ladang basah penyebaran radikalisme digital, termasuk yang proses produksinya dibantu oleh AI.

Selain ujaran kebencian, deepfake, dan hoax beredar liar tak terkendali, juga yang tak kalah mengerikan adalah doktrin-doktrin radikalisme digital. Dengan bantuan AI tentunya akan sangat semakin cepat dan dalam produksi berbagai narasi dan atau doktrin radikalisme digital.

Itu artinya AI ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, dapat berdampak buruk dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab sebagai sarana produksi ataupun menularkan virus ujaran kebencian atau juga hoax, dan juga doktrin radikalisme. Namun, sisi positifnya bisa bermanfaat untuk efektivitas dan efisiensi menyebarkan kampanye atau pesan damai dan ujaran kasih sayang, termasuk kontra narasi radikalisme digital. Dengan AI kita bisa secara efisien dan menarik menabur kasih sayang dan toleransi, serta sebagai benteng kokoh dari serangan radikalisme digital.

Dengan keunggulan yang demikian, bagi generasi muda abad AI tentunya dapat berperan sebagai benteng moderasi untuk membendung radikalisme digital. Generasi muda di pondok pesantren diajarkan untuk selalu meningkatkan kepedulian dan kasih sayang terhadap umat beragama. Dan juga dilarang untuk berlaku radikal, apalagi teror, meski berlainan keyakinan agamanya.

Namun, realita menunjukkan, narasi radikalisme digital belumlah redup dan masih banyak oknum tak bertanggung jawab melakukan tindakan dosa ini. Bahkan tak sedikit diantaranya adalah oknum generasi muda radikal. Manakala radikalisme digital sudah sedemikian masif, perang melawannya bukan lagi hanya soal akal sehat, akan tetapi cara-cara pendekatan yang lebih cerdas dan massif melalui AI dalam melawan segala bentuk narasi radikalisme digital. Harus disadari bahwa hidup di dunia ini adalah untuk saling menyayangi bukan membenci, apalagi menyakiti atau berbuat teror.

Oleh karenanya, sebagai generasi muda digital natives, sudah saatnya menjadi benteng untuk membendung radikalisme digital serta menularkan virus ujaran kasih sayang dan toleransi ke generasi muda lainnya. Caranya ialah mengakses dan memproduksi konten atau informasi secara bijak (etis) serta menyebarkan informasi yang sehat. Konten hasil editan AI terkait ujaran kebencian, adu domba, tindakan intoleran, dan apalagi narasi radikalisme digital harus dihindari.

Lebih lanjut, generasi muda generasi digital-natives harus bisa hadir sebagai mitra, bersimbiosis mutualisme dengan pemerintah, rakyat, perusahaan IT, programer, dan praktisi IT lainnya. Semua entitas itu dapat bekerja sama menggunakan fasilitas AI untuk memberantas narasi radikalisme digital di jagat maya ataupun di medsos. Mengingat, Jurgen Habermas dalam Stucturwandel der Offentlichkeit mengungkapkan bahwa ruang publik bisa menjembatani antara negara dengan masyarakat sipil.

Seiring dengan berjalannya waktu, AI yang merupakan sarana produksi konten paling populer perlu adanya penanaman kasih sayang dalam keluarga, sekolah, pesantren, dan masyarakat. Penanaman kasih sayang dan toleransi di pesantren bisa dilakukan dengan menggencarkan pendidikan kebangsaan dan budaya saling tolong menolong dalam kebaikan. Revolusi dalam pendidikan literasi kasih sayang juga dapat dilakukan dengan langkah konkrit seperti membaca kritis dan menulis etis. Fisher (1993) berujar, literasi merupakan kegiatan membaca-berpikir-menulis.

Dalam membaca informasi di medsos bukan sekedar membaca, akan tetapi menganalisis, mengkritisi, dan evaluasi mana informasi positif mana informasi provokatif, sehingga informasi yang kita dapatkan benar-benar bernuansa kasih sayang. Pun demikian kaitannya dalam pendidikan kebangsaan, contohnya adalah informasi yang kita tabur adalah informasi yang toleran.

Kalau membaca dan menulis kritis telah dilakukan maka informasi yang kita bagikan pun adalah informasi kasih sayang dan toleran. Segala narasi radikalisme digital. Ruang gerak ujaran kebenciaan justru akan mudah kita putus dan tutup dengan adanya budaya literasi kritis dan literasi kebangsaan. Semua itu tentunya membutuhkan suatu gerakan pendidikan literasi kasih sayang dan kebangsaan. Harapannya dengan adanya kontribusi generasi muda di abad AI mudah-mudahan berbagai berbagai narasi radikalisme digital dapat diberantas sampai ke akar-akarnya, semoga.

Facebook Comments