Kekhalifahan ISIS di Roblox: Gamifikasi Ekstremisme yang Menyasar Gen Alpha

Kekhalifahan ISIS di Roblox: Gamifikasi Ekstremisme yang Menyasar Gen Alpha

- in Narasi
1
0
Kekhalifahan ISIS di Roblox: Gamifikasi Ekstremisme yang Menyasar Gen Alpha

Di dunia nyata, kekhalifahan Islamic State of Iraq and Syiria alias ISIS yang berpusat di Suriah dan Irak memang telah bangkrut. Pasca mengalami kekalahan besar dari pasukan koalisi Suriah dan Amerika Serikat pada tahun 2019, ISIS praktis kehilangan wilayah kekuasaan, kilang minyak yang menjadi sumber pendanaan, dan juga tentara serta anggotanya.

Namun, kekhalifahan ISIS tidak semata mewujud sebagai sebuah negara dengan wilayah fisik, warga, struktur pemerintahan, militer, dan sistem politik. Kekhalifahan ISIS adalah sebuah ideologi imajiner yang akan terus hidup dimana pun dan kapan pun. Selama keyakinan bahwa imperium Islam akan tegak di akhir zaman, maka ide tentang kekhalifahan ISIS akan terus hidup.

Salah satu upaya menghidupkan kembali imajinasi khilafah ala ISIS itu adalah dengan menghadirkannya dalam semesta permainan gim daring, terutama Roblox. Platform ini dipilih bukan tanpa alasan. Selain karakteristiknya yang berbasis UGC (User Generated Content) dimana pengguna bebas berkreasi di dalamnya, Roblox juga menjadi gim favorit di kalangan Generasi Alpha.

Gen Alpha ini menjadi kelompok yang digadang akan meneruskan estafet regenerasi sel teroris ISIS. Asumsi ini bukan bentuk kekhawatiran yang berlebihan. Berbagai riset tentang ekstremism dan keamanan siber berhasil mengidentifikasi bagaimana elemen radikal, termasuk para simpatisan jaringan ISIS, menyusup ke platform gim populer.

Mereka sengaja menciptakan dunia atau peta buatan sendiri, menggelar simulasi pertempuran, hingga memajang simbol-simbol kelompok teror di ruang virtual yang saban hari diakses oleh jutaan anak-anak di seluruh dunia. Inilah yang lantas populer disebut sebagai gamifikasi ekstremisme, yakni adaptasi elemen permainan daring (online game) seperti sistem poin, misi, peringkat, dan simulasi, untuk menyebarkan ideologi ekstremisme.

Di Roblox, keberadaan fitur yang memungkinkan pengguna membuat konten permainan mereka sendiri telah dieksploitasi oleh para pengasong khilafah ISIS. Di gim bernama Rise of Nations yang dapat diakses di Roblox, misalnya, para simpatisan ISIS membangun semacam negara virtual yang merepresentasikan ISIS di dunia nyata. Mereka membangun gedung, markas militer, fasilitas kesehatan, termasuk kilang dan pabrik pengolahan minyak, tempat ibadah, sekolah, dan sebagainya, lengkap dengan atribut ISIS.

Di lanskap Rise of Nations itu, pemain diajak untuk mensukseskan misi, yakni memperluas wilayah dengan merebut wilayah lain. Di sinilah simulasi kekerasan itu terjadi. Adegan peperangan terbuka dan kekerasan disajikan secara vulgar. Ancaman, makian, dan narasi kebencian dinormalisasi sebagai komunikasi antar-pemain.

Rise of Nations adalah simulasi radikalisasi berbasis gim online yang sempurna. Para pemain yang mayoritas adalah Gen Alpha tanpa sadar telah disusupi propaganda permusuhan, kebencian, dan kekerasan. Mereka lantas menganggap perang itu sesuatu yang heroik. Kekerasan itu jalan satu-satunya meraih keadilan. Dan, makian itu sebagai bentuk komunikasi verbal yang keren.

Membongkar Investasi Simpatisan ISIS

Bagi Generasi Alpha yang belum memiliki kematangan kognitif dan daya kritis yang kuat, simulasi kekhalifahan di Roblox barangkali hanya dianggap sebagai sebuah petualangan virtual. Bagi simpatisan ISIS, hal itu adalah investasi jangka panjang bagi gerakan ideologis-politis mereka. Di balik misi mendirikan kekhalifahan virtual di Roblox, para simpatisan ISIS sejatinya tengah mempersiapkan para martir di masa depan.

Generasi Alpha yang juga disebut digital native memang dikenal sangat adaptif pada teknologi digital, seperti media sosial atau gim daring. Sayangnya, kompetensi teknis itu tidak dibarengi dengan literasi digital dan critical thinking yang kuat. Akibatnya, Gen Alpha cenderung mudah dimanipulasi oleh kelompok ekstremis. Salah satu buktinya adalah ketika Densus 88 mengungkap adanya 110 anak yang teridikasi direkrut jaringan teroris yang berafiliasi dengan ISIS lewat gim daring pada tahun 2025 lalu.

Fenomena sebagaimana diungkap Densus 88 itu kiranya menjadi alarm warning untuk kita, yakni orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat. Gamifikasi ekstremisme adalah ancaman nyata, bukan rekayasa yang dilebih-lebihkan. Kekhalifahan ISIS di gim daring bukan asumsi tanpa bukti. Dibanding kelompok ekstremis lainnya, ISIS merupakan organisasi yang cenderung adaptif pada teknologi digital dan budaya populer.

Maka, tidak mengherankan jika platform gim daring menjadi sarana propaganda dan rekrutmen baru untuk menyasar Gen Alpha. Menghadapi ancaman gamifikasi ekstremisme di platform gim daring tidak dapat dilakukan hanya dengan cara yang represif, seperti sekadar melarang anak bermain gim atau mematikan gawai secara paksa.

Langkah panik semacam itu sering kali justru memicu resistensi dari anak dan mendorong mereka untuk mencari cara sembunyi-sembunyi agar tetap bisa mengakses platform tersebut. Sebagai orang tua, satu hal penting yang harus kita lakukan adalah memperkuat karakter anak dari sisi kebangsaan dan keagamaan.

Paradigma moderatisme dalam bernegara dan beragama perlu diajarkan sejak dini di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Prinsip-prinsip bernegara seperti Pancasila dan UUD 1945 harus ditanamkan sejak dini sebagai fondasi anak-anak memahami dunia global yang kian kompleks.

Selain itu, prinsip moderasi beragama yang bertumpu pada sikap toleran dan inklusif pada perbedaan idealnya menjadi menu wajib sebelum anak belajar tentang agamanya masing-masing. Sebelum anak belajar tentang salat, membaca Alqur’an, fiqih, dan sebagainya, seharusnya mereka terlebih dahulu memahami prinsip-prinsip kemanusiaan dalam Islam. Seperti menghormati agama lain, larangan berbuat kerusakan di muka bumi, dan prinsip etika humanisme lainnya.

Di saat yang sama, edukasi literasi digital pada anak Gen Z seharusnya diarahkan pada dimensi psikologis dan sosiologisnya. Anak-anak harus diajarkan bagaimana merespons konten bernuansa kekerasan atau peperangan terbuka yang diekpose di beberapa platform gim daring. Di sini, orang tua dan guru harus berperan sebagai partner diskusi anak yang terbuka, tanpa bertendensi menghakimi.

Tidak kalah pentingnya, pengembang gim juga memiliki kewajiban moral untuk memperketat moderasi konten dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan guna mengeliminasi manuver kelompok ekstrem. Dengan ikhtiar semua pihak, kita patut optimis ekosistem gim daring akan tetap menjadi ruang yang aman untuk siapa saja, termasuk anak-anak Gen Alpha.

Facebook Comments