Dari Teman Mabar ke Ruang Ekstremisme: Modus Digital Grooming dalam Perekrutan Anak

Dari Teman Mabar ke Ruang Ekstremisme: Modus Digital Grooming dalam Perekrutan Anak

- in Narasi
11
0
Dari Teman Mabar ke Ruang Ekstremisme: Modus Digital Grooming dalam Perekrutan Anak

Bayangkan seorang anak yang sedang bermain gim daring. Ia bertemu pemain lain yang ramah, sering mengajaknya bermain, mendengarkan ceritanya, dan membuatnya merasa diterima. Awalnya, interaksi itu tampak seperti pertemanan biasa. Namun, tanpa disadari, hubungan tersebut bisa menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk memengaruhi cara berpikirnya, menanamkan kebencian, hingga memperkenalkannya pada ideologi ekstrem.

Inilah yang disebut dengan istilah digital grooming, yakni pendekatan manipulatif melalui ruang digital untuk membangun kepercayaan dan memengaruhi anak. Ketika digunakan untuk perekrutan ekstremisme, prosesnya bukan sekadar menyebarkan propaganda, melainkan membangun hubungan yang dapat dimanfaatkan untuk mengarahkan keyakinan dan perilaku anak.

Peringatan ini bukan sekadar dugaan. Pada April 2026, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap upaya perekrutan terhadap 112 anak melalui gim daring Roblox. Fitur percakapan dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan kepada anak-anak. Beberapa bulan kemudian, BNPT menyampaikan bahwa 620 anak berusia 11–18 tahun di 34 provinsi teridentifikasi terpapar paham kekerasan dan radikalisme melalui berbagai ekosistem digital pada Januari hingga 26 Agustus 2026 (BNPT, 2026; ANTARA, 2026).

Angka tersebut tidak berarti seluruh anak mengalami digital grooming akan terjerat dalam ideologi ekstrem. Ada kejahatan lain dari pendekatan digital grooming seperti eksploitasi seksual pada anak. Hal ini memperlihatkan alasan mengapa proses pendekatan dan perekrutan di ruang digital perlu dipahami secara serius.

Perekrutan Tidak Selalu Dimulai dengan Ideologi

Salah satu kekeliruan dalam memahami radikalisasi adalah membayangkan perekrut selalu muncul dengan ceramah ideologis atau ajakan terang-terangan untuk melakukan kekerasan. Dalam ruang digital, pendekatan dapat berlangsung lebih personal dan bertahap.

Child grooming dapat melibatkan upaya mempelajari minat anak, menyesuaikan pendekatan, lalu membangun hubungan kepercayaan dengan mereka. Komunikasi digital memungkinkan pendekatan semacam ini menjangkau anak-anak secara langsung, bahkan tanpa pertemuan fisik.

Dalam konteks ekstremisme, pola tersebut dapat dipahami melalui beberapa tahap yang saling berkaitan.

Pertama, membangun kedekatan. Anak didekati melalui aktivitas yang disukainya, seperti gim, komunitas daring, atau percakapan mengenai minat tertentu. Hubungan yang awalnya tampak biasa dapat berkembang menjadi ikatan emosional.

Kedua, membangun rasa percaya dan memiliki. Perekrut dapat menempatkan dirinya sebagai teman yang paling memahami, pelindung, atau bagian dari kelompok yang menerima anak ketika ia merasa kesepian atau tidak dipahami. Kebutuhan untuk diterima tidak otomatis membuat anak rentan terhadap ekstremisme, tetapi dapat dieksploitasi oleh orang yang manipulatif.

Ketiga, mengubah cara pandang secara perlahan. Dalam hubungan yang telah terbangun, kekerasan dapat mulai dibenarkan, kelompok lain digambarkan sebagai musuh, dan kebencian disajikan seolah-olah sebagai bentuk keberanian atau perjuangan. Pada tahap ini, persoalannya bukan lagi sekadar konten yang ditonton, tetapi bagaimana anak mulai memaknai informasi dan kelompok di sekitarnya.

Keempat, mendorong keterlibatan lebih dalam dan jauh. Dalam kasus tertentu, pengaruh tersebut dapat berkembang menjadi ajakan menyebarkan propaganda, bergabung dengan komunitas ekstrem, atau terlibat dalam aktivitas berbahaya. Tidak semua anak melewati seluruh tahapan ini, dan proses radikalisasi tidak selalu berjalan secara linear.

Ketika Pertemanan Menjadi Alat Manipulasi

Hal yang membuat digital grooming sulit dikenali adalah batas antara pertemanan dan manipulasi tidak selalu terlihat jelas. Orang tua mungkin melihat anak sedang bermain gim, sementara anak merasa sedang berbicara dengan teman yang memahami dirinya.

Karena itu, respons yang hanya mengandalkan pelarangan gawai berisiko tidak menyentuh persoalan utama. Anak perlu dibekali kemampuan mengenali manipulasi, memahami propaganda kebencian, dan berani bercerita ketika seseorang mulai menekan atau mengarahkannya pada hal yang membuatnya tidak nyaman.

Orang tua dan guru juga perlu memperhatikan perubahan perilaku tanpa buru-buru memberi cap radikal. Ketertarikan pada gim, sejarah kekerasan, atau komunitas yang membahas kejahatan tidak otomatis menunjukkan keterlibatan ekstremisme. Yang perlu dicermati adalah konteks, perubahan sikap, normalisasi kekerasan, dan kemungkinan adanya tekanan atau ajakan berbahaya.

Platform digital pun memiliki tanggung jawab untuk mengurangi risiko penyalahgunaan fitur komunikasi, menyediakan mekanisme pelaporan yang efektif, dan melindungi pengguna anak.

Angka yang disampaikan BNPT seharusnya menjadi peringatan bahwa perlindungan anak dari ekstremisme tidak cukup dilakukan dengan menunggu sampai muncul tindakan kekerasan. Pencegahan perlu dimulai ketika proses manipulasi dan perubahan pandangan mulai terdeteksi.

Anak yang terpapar harus dipandang sebagai individu yang membutuhkan perlindungan, pendampingan, dan intervensi yang sesuai, bukan langsung dicap sebagai teroris. Semakin dini lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat mampu mengenali persoalan, semakin besar peluang untuk mencegah paparan berkembang menjadi keterlibatan yang lebih berbahaya.

Facebook Comments