Belajar dari Tretan Muslim : Dari Fase Radikal Hingga Toleran

Belajar dari Tretan Muslim : Dari Fase Radikal Hingga Toleran

- in Tokoh
1487
0
Belajar dari Tretan Muslim : Dari Fase Radikal Hingga Toleran

Bagi penikmat konten kreator khususnya dunia komedi sedikit banyak akan mengenal Tretan Muslim. Komika jebolan ajang Stand Up Comedy Indonesia (SUCI), Kompas Tv musim ketiga 2013 ini memang memiliki warna berbeda. Ada hal yang menarik dari sisi kehidupannya yang layak menjadi pembelajaran penting terutama dalam aspek toleransi.

Pria kelahiran 1991 yang bernama asli Aditya Muslim ini berasal dari Bangkalan, Madura. Pertama tampil di ajang kompetisi SUCI, Muslim kerap membawakan materi komedi mengenai keunikan daerahnya. Perjalanan karir dan pengalamannya telah membentuk pengetahuan baru terutama terkait bahasan keagamaan.

Ia kerap membawakan materi kontroversial dan pernah dituding menistakan agama dengan rekannya Coki Pardede. Muslim selalu berhadapan dengan ormas garis keras yang siap melaporkan dirinya ketika menista agama. Tidak ayal, sebutan musuh masyarakat dan musuh ormas kerap ia plesetkan untuk dirinya.

Namun, siapa sangka Tretan Muslim awalnya pernah terjebak dalam pemikiran yang ekstrem dan radikal. Dalam beberapa kesempatan ia kerap menceritakan masa lalunya itu. Terbaru dalam kanal Youtube milik Denny Summargo, ia menceritakan bahwa dirinya dulu sempat memiliki pemikiran radikal bahkan rela jihad ke medan perang. Baginya itulah cita-cita dan peran tertinggi sebagai seorang muslim.

Tretan mengakui bahwa pemikiran radikalnya sempat muncul ketika banyaknya isu-isu yang beredar tentang perang Irak dan Palestina. Paham radikal yang telah merongrong hati Tretan, tidak hanya membuatnya ingin berjihad di negaranya, bahkan ia mengaku sempat ingin pergi Jihad ke Palestina. Karena menurutnya banyak muslim yang harus dilindungi di sana dan di sanalah ladang memerangi orang kafir.

Dari Intoleran ke Radikal

Radikalnya seorang Tretan Muslim pada saat itu, menurut pengakuannya, sudah mengarah pada teroris. Dulu di gallery media sosialnya berisi gambar-gambar senjata. Bahkan ia sempat mengidolakan tokoh-tokoh teroris seperti Osama bin Laden dan para tokoh teroris di Indonesia. Baginya, mereka bukan teroris tetapi merekalah pahlawan Islam.

Ia tumbuh dalam pencarian jati diri sebagai muslim di tengah konflik global seperti Palestina dan Perang Irak yang kerap menyita perhatiannya. Dalam framing yang terbangun Islam sedang terdzalimi dan diserang. Inilah konflik agama dan ia merasa terpanggil. Dari pada ibadah shalat subuh yang memberatkan, pikirnya, ada jalan instan menuju surga melalui jihad berangkat ke medan perang.

Pemikiran radikal Tretan Muslim tidak terjadi secara instan. Sejak masa sekolah tertanam dalam hatinya sebagai orang yang intoleran. Masa sekolah adalah masa suburnya intoleransinya. Ia berbekal diri menjadi seorang yang aktif berdakwah dengan meyakini mengucapkan selamat natal haram, valentine haram, dan pacaran haram. Bahkan ia lakukan dengan membuat selebaran yang berisi materi-materi dakwah-dakwah tersebut.

Ia mengakui sangat benci terhadap perbedaan, apalagi Kristen. Seseorang yang tidak memeluk agama Islam adalah termasuk dari golongan orang-orang kafir yang banyak diperangi oleh Rasulullah.

Dalam otaknya orang Kristen adalah musuh. Ditambah ada isu kristenisasi yang menyakinkan dia bahwa orang Kristen jahat dan berniat untuk mengkristenkan dirinya. Karena itulah, Tretan Muslim sering nonton Zakir Naik untuk menimba materi ketika berdebat dengan temannya yang Kristen. Merupakan satu kepuasaan bagi dirinya ketika orang Kristen terpojok dalam berdebat ketuhanan.

Titik Balik

Tretan Muslim baru sadar bahwa pemikiran yang selama ini mengungkung dirinya adalah sebuah kesempitan dan cara pandang yang salah. Ia disadarkan dari pikiran buruk tentang seseorang non muslim ketika ia bertemu seorang sahabatnya yang beragama Katolik, Bene Dion, komika sekaligus sutradara yang salah satu filmnya yang cukup populer :Ngeri-Ngeri Sedap.

Tretan menyadari kesalahan persepsi dirinya tentang orang non muslim. Bene sama sekali tidak berniat mengajak Tretan untuk mengikuti agamanya. Bukan hanya tidak mengajak tretan untuk mengikuti agamanya, justru Bene tidak pernah membahas agama dengan Tretan karena menurutnya keyakinannya hanyalah untuknya. Bene tidak ingin memaksakan apa yang diyakini nya menjadi keyakinan orang lain.

Kamu kafir koq kamu baik? Begitulah kira-kira respon Tretan menyadari kesalahan pandangannya terhadap yang berbeda. Dari situlah ia menyadari pentingnya hidup bersama dan toleransi. Perbedaan justru menjadi ruang bercanda untuk saling bersahabat.

Pertemuannya dengan Bene memang diakui mampu membuat perubahan besar pada dirinya. Ia yang sempat anti dengan pemeluk agama lain kini justru ia malah memilih untuk tinggal Bersama dengan seorang non-muslim. Bahkan ia justru kini dekat dengan seorang pendeta dan juga pastor yang menurutnya bukan seseorang yang berbahaya dan patut untuk diperangi. Bahkan, Tretan sering melakukan advokasi terhadap susahnya mendirikan gereja di beberapa daerah.

Dengan dirinya yang mau untuk membuka diri dengan pandangan orang lain, kini Tretan muslim justru menjadi seorang yang mampu menjunjung tinggi nilai toleransi. Dalam konten pribadinya tentu kita bisa menilai apa yang banyak ia bahas adalah tentang ajakan untuk menjadi seseorang yang mau melihat orang lain atau masalah dari beberapa sudut, bukan berpatik dengan sudut pandangnya saja.

Ia banyak menyadarkan para followersnya tentang pentingnya nilai toleransi antar umat beragama dan juga untuk negara yang mereka tempati. Iapun sadar akan pentingnya nilai keberagaman dalam sebuah negara supaya negara kita tidak mudah untuk terpecah belah.

Belajar dari Tretan Muslim adalah belajar tentang merubah cara pandang terhadap perbedaan. Intoleransi memang tumbuh sejak dini yang harus diwaspadai. Intoleransi bahkan bisa menggiring seseorang menjadi radikal bahkan teroris. Bagaimana menyembuhkan? Perbanyak piknik! Banyak bergaul dengan perbedaan.

Tretan Muslim yang tidak hanya intoleran, tetapi sudah radikal bisa sembuh dengan cara mengalami perbedaan dalam kehidupan sehari-hari yang pada akhirnya membuat seorang radikal mampu mengambil sikap toleran. Intinya, banyak piknik dan bergaul dengan perbedaan.

Facebook Comments