Mampukah Pancasila sebagai Antibodi Sosial di Tengah Algoritma Kebencian?

Mampukah Pancasila sebagai Antibodi Sosial di Tengah Algoritma Kebencian?

- in Narasi
2
0
Mampukah Pancasila sebagai Antibodi Sosial di Tengah Algoritma Kebencian?

Tanpa disadari, saat ini kita hidup di tengah ekosistem yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh apa yang ingin kita lihat. Kontrol atas informasi tidak sepenuhnya kita miliki. Algoritma mempelajari apa yang kita klik, tonton, sukai, komentari, dan bagikan, kemudian menyajikan lebih banyak hal yang diperkirakan akan membuat kita bertahan lebih lama di dalam platform.

Di sinilah letak persoalan muncul. Konten yang paling menarik perhatian tidak selalu yang paling bermutu. Kemarahan, ketakutan, konflik, dan pertentangan identitas sering kali lebih mudah mengundang reaksi dan emosi. Berita positif terkadang terpinggirkan oleh informasi negatif yang mengeksploitasi emosi.

Karena itu, istilah “algoritma kebencian” dapat digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan ekosistem digital yang berpotensi membuat kemarahan dan permusuhan lebih mudah memperoleh perhatian dan beredar. Algoritma tentu tidak memiliki niat untuk membenci. Ia bekerja berdasarkan sistem dan data. Namun, ketika logika engagement bertemu dengan kecenderungan manusia mencari informasi yang sesuai dengan emosi dan keyakinannya, terbentuklah ruang digital yang dapat memperkuat polarisasi.

Konten yang bersifat emosional, dramatis, dan penuh ketegangan lebih memiliki engagement yang tinggi. Semakin seseorang menonton lebih lama, menyukai dan mengulangi setiap hari, ruang pikirannya terbentuk bahwa kondisi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Situasi saat ini sedang berhadapan antara kita dan mereka, antara yang pro dan kontra dan antara kawan dan lawan.

Masalahnya kemudian bukan sekadar orang saling berkata kasar di media sosial. Masalah yang lebih serius adalah ketika masyarakat mulai kehilangan kemampuan melihat kelompok yang berbeda sebagai bagian dari kehidupan bersama. Penetrasi di media sosial seolah menjadi kenyataan yang menentukan tindakan.

Ketika Berbeda Menjadi Tabu : Kami Hanya Berdiskusi dengan Yang Sepemikiran?

Algoritma dapat memperkuat kecenderungan manusia untuk berkumpul dengan mereka yang berpikir sama. Kita kemudian semakin sering melihat pendapat yang mengonfirmasi keyakinan sendiri dan semakin jarang berinteraksi dengan perspektif berbeda.

Dalam situasi seperti itu, kelompok lain mudah dipersepsikan bukan lagi sebagai sesama warga yang berbeda pandangan, melainkan sebagai ancaman. Mereka hanya ingin berdiskusi dengan yang memiliki opini dan pandangan yang sama. Mereka pun menganggap dialog akan tercipta jika pesertanya memiliki pandangan yang sama.

Pada prakteknya, algortima tidak hanya mengawetkan kebencian, tetapi juga menumbuhkan fragmentasi sosial. Algoritma bukan saja menentukan apa yang muncul di layar, tetapi juga menentukan siapa yang layak dibenci dan siapa yang layak diajak berdiskusi. Masyarakat pada akhirnya disetir mesin untuk alergi terhadap perbedaan.

Ketika masyarakat mempersepsikan bahwa perbedaan sebagai ancaman, di situlah potensi bahaya itu muncul. Masyarakat tidak siap berbeda karena yang berbeda dianggap mengancam eksistensi mereka.

Karena itu, yang diperlukan bukan masyarakat tanpa perbedaan, melainkan masyarakat yang memiliki ketahanan untuk mengelola perbedaan. Dan Pancasila dapat memainkan peran tersebut.

Pancasila sebagai Antibodi Sosial

Antibodi tidak menghilangkan keberadaan patogen. Ia membantu tubuh mengenali dan melawan sesuatu yang mengancam kesehatan. Demikian pula Pancasila tidak harus menghapus konflik, perbedaan, atau perdebatan dari ruang publik. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan masyarakat agar perbedaan tidak berkembang menjadi kebencian dan perpecahan.

Jika dipahami secara mendalam, bangunan sila-sila Pancasila memiliki spirit dasar perbedaan bukan ancaman, tetapi kekuatan. Karena itulah, “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi penyimpul paling fasih dalam memaknai sila-sila Pancasila.

Dari Sila Ketuhanan yang mengajarkan kebebasan dalam perbedaan keyakinan. Sila Kemanusiaan yang mendorong memanusiakan manusia meskipun berbeda. Sila Persatuan yang mengikat perbedaan dalam simpul kekuatan bersama. Sila Kerakyatan yang mengajarkan mekanisme musyawarah di tengah perbedaan. Hingga Sila Keadilan yang mengajarkan ancaman terbesar bukan perbedaan, tetapi kesenjangan dan rasa ketidakadilan.

Dengan demikian, Pancasila bukan sekadar seperangkat nilai yang dihafalkan. Ia dapat menjadi infrastruktur moral bagi kehidupan bersama. Pancasila sebenarnya pandangan hidup bagaimana masyarakat Indonesia mengelola perbedaan.

Tentu sekali lagi, Pancasila tidak cukup jika hanya diajarkan sebagai hafalan. Ia harus menjadi kebiasaan sosial: kemampuan memeriksa informasi sebelum membagikannya, kesediaan mendengar pandangan berbeda, keberanian menolak dehumanisasi, dan kemampuan membedakan kritik terhadap gagasan dari kebencian terhadap manusia.

Di tengah dunia digital yang semakin terfragmentasi, kesaktian sebuah bangsa mungkin tidak lagi diuji hanya oleh ancaman dari luar, tetapi oleh kemampuannya menjaga agar perbedaan di antara warganya tidak berubah menjadi permusuhan.

Algoritma boleh menentukan apa yang muncul di layar kita. Tetapi jangan biarkan algoritma menentukan siapa yang kita benci. Di sinilah, Pancasila berfungsi sebagai antibodi sosial: bukan untuk menghapus perbedaan, melainkan menjaga agar kita tetap menjadi masyarakat yang mampu berbeda tanpa kehilangan kemanusiaan dan persatuan.

Facebook Comments