Wajah Inklusif Mlangi: Menemukan Pancasila di Kampung Pesantren

Wajah Inklusif Mlangi: Menemukan Pancasila di Kampung Pesantren

- in Kebangsaan
2
0
Wajah Inklusif Mlangi: Menemukan Pancasila di Kampung Pesantren

Di tepi barat Kota Yogyakarta, tepatnya di Desa Nogotirto, Gamping, Sleman, membentang sebuah kawasan yang sarat akan nuansa spiritual bernama Dusun Mlangi. Nama Mlangi secara etimologis berakar dari frasa bahasa Jawa Mulangi, yang bermakna mengajar atau memberikan petunjuk.

Sejarah dusun ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial-politik Jawa pada abad ke-18. Mlangi didirikan oleh Kiai Nur Iman, ulama besar putra dari Raja Mataram Amangkurat IV sekaligus kakak kandung tertua dari Sultan Hamengkubuwono I. Ketika terjadi pergolakan politik di lingkar kekuasaan keraton, Kiai Nur Iman memilih untuk menepi dari panggung kekuasaan. Ia memilih jalan keilmuan serta membangun basis pendidikan masyarakat di wilayah pinggiran Yogyakarta.

Sebagai salah satu wilayah Pathok Negoro, Mlangi tumbuh pesat menjadi pusat kaderisasi ulama dan benteng kebudayaan. Di tempat inilah sintesis unik antara ajaran teologi Islam dan kearifan lokal Jawa berkembang pesat, yang dalam tinjauan kebudayaan dikenal sebagai corak Islam Mataraman.

Tradisi Islam Mataraman menekankan harmoni, kedalaman rasa, kesantunan berbahasa, serta pengayoman terhadap sesama tanpa mengorbankan prinsip-prinsip syariat. Islam tidak hadir sebagai kekuatan yang memberangus budaya lokal atau menutup diri dari entitas luar, melainkan hadir secara adaptif, mengayomi, dan dialogis.

Islam Mataraman yang diwariskan oleh Kiai Nur Iman itulah yang membentuk mentalitas sosial masyarakat Mlangi hingga hari ini. Gelombang modernisasi, termasuk konsep nation state pasca-kolonialisme tidak direpons dengan kecurigaan.

Sebaliknya, doktrin rahmatan lil ‘alamin sebagai ruh Islam Mataraman menjadi modal sosial-teologis yang sangat kuat untuk merayakan perbedaan. Keterbukaan terhadap tamu dari luar, termasuk mereka yang berbeda keyakinan, dipahami sebagai bagian dari pemuliaan terhadap sesama manusia sekaligus pengamalan nilai-nilai luhur kebangsaan.

Ruang Perjumpaan Lintas Golongan

Maka, tidak mengherankan jika hari ini, Mlangi yang memiliki sekitar 17 pesantren beraliran Ahlussunnah wal Jamaah ini menjadi ruang belajar komunitas agama lain untuk mengenal Islam. Banyak mahasiswa dan pelajar beragama selain Islam yang datang ke dusun ini, tinggal beberapa hari atau pekan untuk menyelami dan mempelajari denyut kehidupan para santri dan warga desa yang inklusif.

Universitas Kristen dan Katolik di Yogyakarta, seperti Universitas Sanata Dharma, Universitas Kristen Duta Wacana hingga Seminari Kentungan rajin mengirim mahasiswanya untuk live-in di Dusun Mlangi. Mereka tinggal di kawasan pesantren, berbaur dengan santri, kiai, dan warga desa. Mereka juga ikut kajian kitab kuning atau acara warga seperti Yasinan maupun Tahlilan.

Tidak hanya itu, sejumlah pesantren di Mlangi juga menjadi mitra bagi sejumlah lembaga akademik, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya, lembaga CRCS (Center for Religious and Cross-cultural Studies) yang merupakan bagian dari Universitas Gadjah Mada. Kolaborasi ini menjadikan Dusun Mlangi sebagai salah satu laboratorium lapangan bagi riset studi agama dan pluralisme.

Lewat program kunjungan lapangan, dialog lintas iman, serta riset kebudayaan yang terstruktur, lembaga ini menjembatani perjumpaan antara mahasiswa internasional, peneliti luar negeri, dan aktivis keberagaman dengan lingkungan pesantren. Kehadiran program ini membuktikan bahwa pesantren tidak pernah alergi terhadap kajian kritis. Pesantren di Mlangi menerima para tamu non-Muslim bukan untuk memengaruhi keyakinan mereka, melainkan untuk memperlihatkan wajah Islam Nusantara yang ramah, dialogis, serta berkomitmen tinggi terhadap kemanusiaan.

Perjumpaan langsung dalam nuansa yang egaliter dan informal itu menjadi medium tepat untuk membasuh prasangka negatif dari dua belah pihak. Selama ini, sebagian muslim kerap beranggapan komunitas di luar Islam itu jahat dan memusuhi Islam. Sebaliknya, kelompok di luar Islam kerap melabeli Islam sebagai agama perang, mendukung terorisme, dan gemar melakukan kekerasan. Perjumpaan itu meluruhkan labelisasi tendensius itu.

Dalam teori kontrak sosial sebagaimana dijelaskan oleh Gordon Alport, prasangka, pelabelan negatif, dan kecurigaan antar-kelompok itu dapat dieliminasi apabila individu-individu dari kelompok yang berinteraksi secara langsung dalam kondisi yang setara, memiliki tujuan saling memahami, serta didukung oleh otoritas sosial yang sah. Di Mlangi, otoritas sosial tersebut hadir secara konkret melalui figur para kiai, ulama, dan sesepuh dusun.

Dari Mlangi untuk Indonesia

Teori kontrak sosial ala Alport itu bekerja secara efektif di Mlangi. Mlangi bukan sekedar kampung pesantren, melainkan ruang publik yang mempertemukan komunitas lintas-agama. Sejumlah pesantren di Mlangi, salah satunya Aswaja Nusantara, berhasil menjadi semacam laboraturium sosial-keagamaan tempat kelompok di luar Islam belajar tentang keislamana dan keindonesiaan.

Dinamika kehidupan di Dusun Mlangi secara tidak langsung memperlihatkan bagaimana Pancasila terintegrasi dalam kultur masyarakat. Sila Ketuhanan dihayati bukan sebagai alat untuk menyingkirkan kelompok lain, melainkan sebagai landasan teologis untuk mengasihi sesama. Sila Kemanusiaan dan Sila ketiga mewujud secara nyata ketika santri dan masyarakat lokal memperlakukan tamu non-Muslim dengan rasa hormat, kesantunan, dan kesetaraan.

Dari Mlangi, kita belajar bahwa nasionalisme yang sejati tidak dibangun melalui pemaksaan keseragaman, melainkan melalui kerelaan untuk membuka ruang-ruang perjumpaan yang jujur, aman, dan saling menghargai.

Inklusivitas pesantren-pesantren di Mlangi memberikan kerangka acuan yang sangat berharga bagi ribuan pesantren lain di seluruh penjuru Indonesia dalam upaya membumikan Pancasila. Ada setidaknya tiga hal yang bisa ditiru dari Mlangi.

Pertama terkait penguatan kurikulum kebinekaan. Pesantren perlu memperkuat pengajaran tentang fikih keberagaman dan konsep rahmatan lil ‘alamin dalam kurikulumnya, agar santri memahami bahwa menghargai pemeluk agama lain adalah bagian integral dari ajaran Islam itu sendiri.

Kedua, terkait sikap inklusif kiai sebagai pemimpin pesantren. Mlangi tidak akan menjadi ekosistem sosial yang inklusif tanpa tokoh-tokoh moderat seperti KH. Irwan Masduqi, Gus Mustafid, dan beberapa nama lain. Para kiai moderat itu menjadi penerus warisan dan penjaga citra Mlangi sebagai ruang hidup beragama yang menghargai pluralitas.

Ketiga terkait ketersediaan pesantren dalam membuka akses bagi komunitas di luar Islam untuk belajar keislaman tanpa tendensi untuk mengubah keimanan mereka. Pesantren di Mlangi tidak sekadar menjadi institusi pendidikan agama yang berkutat dengan khazanah ilmu klasik. Lebih dari itu, Mlangi juga berperan sebagai laboraturium sosial-keagamaan.

Mlangi telah membuktikan bahwa keagamaan yang mendalam dan rasa nasionalisme yang kuat bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling menguatkan. Ketika para pelajar non-Muslim melangkah keluar dari Mlangi setelah menjalani hari-hari perjumpaan yang hangat, mereka tidak hanya membawa pulang pengetahuan baru tentang Islam dan tradisi santri.

Lebih dari itu, mereka membawa keyakinan yang optimis bahwa Pancasila akan senantiasa hidup, bersemi, dan menjaga persatuan Indonesia selama seluruh elemen bangsa mau saling membuka diri, menyapa, dan merawat persaudaraan.

Facebook Comments