Jihad Tanpa Ridha Tuhan?

Jihad Tanpa Ridha Tuhan?

- in Keagamaan
3187
0

Awal tahun lalu, ada satu kisah menarik terkait niatan jihad seorang muslimah. Seorang dokter muda asal Lampung bernama Rica Tri Handayani bersama anaknya yang masih balita, Zafran Ali Wicaksono, tiba-tiba menghilang. Kepada suaminya, ia hanya meninggalkan sepucuk surat yang berisi bahwa dirinya sedang berjuang dijalan Allah SWT. Ia tidak berpamitan langsung karena takut tidak mendapatkan izin dari suami.

Upaya “jihad” yang dilakukan Rica ini pun akhirnya membuat resah sang suami. Tak hanya itu, seluruh komponen bangsa pun harus ikut memikirkan keadaannya. Alhasil, setelah beberapa saat dicari, Rica ditemukan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, pada Senin 11 Januari 2016. Diketahui, Rica sudah bergabung bersama dengan organisasi radikal terlarang, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Berjuang di jalan Allah SWT merupakan kewajiban setiap muslim, tanpa terkecuali kaum Hawa. Bahkan, berjuang di jalan Allah SWT merupakan salah satu dari tanda orang yang beriman (lihat QS. al-Hujurat: 14–15). Maka, sebagai seorang muslimah, niat baik Rica untuk berjuang di jalan Allah SWT tak dapat disalahkan. Sebagai hamba Allah SWT, ia berhak, bahkan wajib berjuang di jalan Allah SWT.

Yang menjadi persoalan adalah, kepergian Rica yang hanya meninggalkan surat (baca: tanpa izin langsung kepada suami) menyisakan persoalan yang begitu mendalam bagi Aditya. Di tengah kesibukan studi pada pendidikan spesialis bedah ortopedi di Universitas Gajah Mada (UGM), Aditya mendapat tambahan beban tanggung jawab sebagai kepala keluarga, yakni mencari istri dan anak. Belum lagi perasaan cemas, kalut, dan sejuta perasaan negatif lain terus menghantui hari-harinya.

Terhadap sikap Rica yang meninggalkan suami sebelum mendapatkan izin untuk berjuang di jalan Allah SWT, Islam telah mengatur dengan baik. Sahabat Utsman bin Affan pernah menerangkan wasiat Rasulullah SAW bahwa ketika seorang istri keluar dari rumah tanpa izin suaminya, maka segala sesuatu yang terkena sinar matahari hingga ikan-ikan di laut melaknatinya.

Di dalam kitab Uqudullujain, Syekh Muhammad Nawai bin Umar menuliskan kisah tentang utusan kaum perempuan yang menghadap Rasulullah SAW. Mereka menutarakan kegelisahan akan kewajiban jihad (baca: berperang) yang hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Padahal, kaum perempuan juga ingin mendapatkan pahala jihad. Mereka merasa iri karena tidak mendapat kesempatan sebagaimana kaum laki-laki. Saat para lelaki berperang, dalam setiap luka dihitung pahala dan ketika terbunuh sejajatinya hidup di mata Tuhan.

Mendapatkan pengaduan seperti ini, Rasulullah SAW bersabda, “Sampaikan kepada siapa saja kaum perempuan yang kamu jumpai bahwa mentaati suami dengan mengakui hak-haknya sesungguhnya telah menyamai dengan pahala berjihad. Tetapi, sedikit sekali di antaramu yang melaksanakannya.” (HR. Thabrani).

Dalam keterangan yang lain, sahabat Anas bin Malik mengisahkan bahwa di zaman Rasulullah SAW terdapat seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya. Sang suami berpesan agar istrinya berada di rumah hingga kepulangannya. Tak lama kemudian, perempuan ini mendapat kabar bahwa orang tuanya sakit keras. Dengan alasan taat kepada pesan suami, ia tidak menjenguk orang tuanya. Tak lama setelah itu, orang tuanya meninggal. Dengan alasan yang sama, ia tetap tidak menjenguk orang tuanya hingga dimakamkan. Atas peristiwa ini, Allah SWT mengabarkan melalui Rasulullah SAW bahwa orang tua yang wafat tersebut telah mendapatkan ampunan karena memiliki anak yang shalihah (baca: taat kepada suami).

Sebagai bekal untuk menjadi perempuan shalihah secara sempurna, berikut sabda Rasulullah SAW, “Jika seorang isteri itu telah menunaikan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan menjaga kemaluannya dari yang haram serta taat kepada suaminya, maka dipersilakanlah masuk ke surga dari pintu mana saja dia suka.” (HR. Ahmad dan Thabrani). Hadits ini mengisayaratkan agar kaum Hawa berjuang di jalan Allah SWT tanpa harus mengesampingkan keberadaan suami. Bahkan, berupaya mendapat ridla dari suami menjadi komponen penting dalam rangka berjuang di jalan Allah SWT. Wallahu a’lam.

Facebook Comments