Kebencian Harusnya tidak Lahir karena Perbedaan

Kebencian Harusnya tidak Lahir karena Perbedaan

- in Narasi
12
0
Kebencian Harusnya tidak Lahir karena Perbedaan

Pernahkah kita bertanya dalam benak kita pada kita sendiri, sejak kapan perbedaan terasa seperti ancaman? Padahal sejak lahir kita memang berbeda: wajah, bahasa, suara, adat, bahkan cara menyeduh kopi. Anak dari ayah dan ibu yang sama pun juga berbeda. Perbedaan itu bukan kesalahan. Ia adalah bahan dasar kehidupan bersama dan tak mungkin dihilangkan.

Kebencian jarang bermula dari perkenalan. Kita lebih mudah membenci orang yang belum kita kenal sepenuhnya, lalu menyebutnya “mereka”. Begitu seseorang menjadi “mereka”, wajahnya hilang dan tinggal label. Di titik itulah kebencian bekerja dengan tenang, nyaris tanpa suara yang membuat kita tidak tenang dan ingin bersuara keras.

Sejarah pahit pernah terjadi. Di Rwanda pada 1994, sebuah stasiun radio menyebut sesama manusia sebagai “kecoak”. Sekitar delapan ratus ribu jiwa tewas dalam seratus hari. Kekerasan tidak datang tiba-tiba; ia didahului kata-kata yang perlahan mencabut kemanusiaan seseorang. Pada 2024 di Inggris, satu kabar bohong tentang identitas pelaku penusukan sudah cukup untuk menyulut kerusuhan. Hoaks ternyata bisa berlari lebih cepat daripada nurani.

Di Indonesia, Kita tentu pernah dengar istilah “cebong” dan “kampret” kan? Hingga kini, Setara Institute masih mencatat ratusan pelanggaran kebebasan beragama setiap tahun: ibadah dibubarkan, rumah doa dirusak, dan pelaku non-negara terbanyak pada 2025 justru kelompok warga biasa.

Namun sejarah juga menyimpan kisah yang menenangkan. Sehari setelah proklamasi, 18 Agustus 1945, para pendiri bangsa menghadapi pilihan sulit. Saudara-saudara dari Indonesia timur menyampaikan keberatan atas rumusan sila pertama. Tokoh-tokoh Islam, termasuk Ki Bagus Hadikusumo, memilih mengalah demi keutuhan negeri. Mereka tidak kehilangan iman; justru menunjukkan bahwa iman yang matang tahu kapan harus merangkul. Dari kerelaan itulah Pancasila berdiri.

Jauh sebelumnya, Mpu Tantular menulis semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam Kakawin Sutasoma. Ia berbicara tentang Buddha dan Siwa, dua jalan yang berbeda namun bermuara pada kebenaran yang satu. Artinya, leluhur kita sudah lama belajar bahwa berbeda tidak sama dengan berseberangan.

Persatuan bukan berarti semua harus seragam. Ia lebih mirip anyaman: setiap helai tetap berbeda warna, tetapi justru saling menguatkan karena dianyam bersama. Jika satu helai ditarik dengan kasar, seluruh anyaman ikut melonggar. Begitulah kiranya bangsa ini, yang kuat bukan karena sama, melainkan karena saling menopang.

Hampir semua agama mengajarkan hal yang serupa: kasihilah sesama, berlaku adil bahkan kepada yang tidak kita sukai, dan jangan membalas kebencian dengan kebencian. Ajaran itu hadir bukan untuk dihafal, melainkan untuk dijalani. Yang bermasalah bukan agamanya, melainkan ketika agama dijadikan alat untuk menang.

Kebencian, Perseteruan dan Siapa yang Diuntungkan?

Dalam politik ada istilah “wirausahawan politik”, yaitu pihak yang menuai untung dari keretakan masyarakat. Mereka bisa berdamai esok hari, sementara kita, warga biasa, masih saling curiga bertahun-tahun kemudian. Maka ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan setiap kali amarah terasa membara: siapa yang diuntungkan ketika aku membenci? Siapa yang akan diuntungkan dari perseteruan ini? Siapa yang akan diuntungkan jika aku mengikuti amarah ini?

Barangkali kita lupa bahwa kebencian itu melelahkan. Ia meminta kita terus waspada, terus mencari kesalahan, terus membangun tembok. Sementara perjumpaan yang tulus justru meringankan: kita menyadari bahwa orang yang berbeda pun mencintai keluarganya, takut kehilangan, dan ingin hidup tenteram, sama seperti kita.

Karena itu, langkah pertama mungkin sangat sederhana. Menahan jempol atau lisan sebelum membagikan kabar yang belum jelas. Menyapa tetangga yang berbeda keyakinan. Bersuara ketika ada yang diperlakukan tidak adil. Hal-hal kecil ini tampak sepele, tetapi dari tumpukan hal kecil itulah sebuah bangsa dirawat. Pancasila tidak hidup di dinding ruang kelas, melainkan di sikap kita sehari-hari, di warung, di kolom komentar, dan di meja makan.

Pada akhirnya, kita memilih: menjadi penjaga atau pemutus anyaman itu. Perbedaan tidak pernah meminta untuk dibenci. Ia hanya meminta untuk dikenali. Maka sebelum memutuskan menjauh, marilah belajar mengenal dengan hati yang lapang. Siapa tahu, di seberang perbedaan itu, kita menemukan saudara yang selama ini hanya terhalang prasangka.

Facebook Comments