Mendidik Untuk Menjadi Duta Damai

Mendidik Untuk Menjadi Duta Damai

- in Suara Kita
3482
0

Salah satu mata kuliah yang saya ampu di Sampoerna University adalah Humanistic Studies (HS) atau pendidikan agama. Mata kuliah ini tergolong unik. Uniknya adalah jika di Perguruan Tinggi pada umumnya terdapat pendidikan agama Islam, Kristen, Hindu dan sebagainya sesuai dengan agama mahasiswanya, maka di Sampoerna University, Humanistic Studies tidak membedakan dan memisahkan mahasiswa berdasarkan agamanya.

Karena itulah, Humanistic Studies ini seperti mata kuliah Studi Agama-Agama atau Agama-Agama di Dunia di sejumlah perguruan tinggi agama seperti IAIN atau UIN. Namun demikian, Humanistic Studies tidak sepenuhnya sama. Yang cukup mencolok perbedaannya adalah yang menyampaikan topik agama-agama seperti Hinduisme, Buddhisme, Kung Hucu, Yahudi, Kristen dan Islam. Jika di IAIN/UIN misalnya, yang menyampaikan agama-agama tersebut biasanya dosen yang notabene beragama Islam, sementara di Humanistic Studies mengundang pemeluknya langsung / tokoh agama untuk membabarkan ajaran dan nilai-nilai agamanya.

Perbedaan pemateri tersebut tentu memiliki dampak yang serius. Jika si pemeluk agama sendiri yang menyampaikan agamanya maka aspek pengalaman-pengalaman keagamaan (religious experiences) sebagai hal yang esensial dari agama itu sendiri akan menjadi fokus utama. Ini berbeda jika yang menyampaikan materi Buddhisme, misalnya, adalah dosen yang beragama Islam. Terlebih keberadaan ruang kelas yang beragam dari sudut pandang agama, menjadikan mahasiswa dapat saling berbagi soal agama yang diyakininya kepada koleganya. Akibatnya, mahasiswa bukan saja belajar secara teoritis bagaimana bertoleransi dan menerima keyakinan yang berbeda melainkan juga mempraktikkan dalam kehidupan keseharian baik di kelas maupun di luar kelas.

Menjadi Duta Damai

Apa yang menjadi tujuan dari mata kuliah ini bukan sekedar membekali siswa akan pengetahuan perihal agama-agama tetapi pada ujunga mata kuliah ini bertujuan bagaimana mahasiswa menjadi duta damai. Caranya adalah, mahasiswa secara berkelompok membuat video yang memuat pesan-pesan perdamaian dan harmoni. Video tersebut harus dipublikasikan di youtube dan dishare melalui beragama media, termasuk media sosial. Selain pesan dan kualitas, video juga dinilai sejauhmana memberikan dampak kepada orang lain dengan cara melihat seberapa banyak viewer dan komentar baik di youtube maupun media sosial lainnya.

Mengapa menjadi duta damai ini penting dilakukan? Hal ini didasari oleh beberapa argumen. Pertama, belakangan ini ajakan untuk membenci dan memusuhi orang lain (hate speech) bahkan ajaran-ajaran yang bermuatan radikalisme dan ekstrimisme sangat mewarnai media sosial, google dan youtube. Keterbutaan informasi dan kemajuan teknologi yang demikian pesat menjadikan pesan-pesan radikalisme dan ekstrimisme dengan cepat menyebar dan terakses tanpa batas. Karena itulah, setelah mendapatkan topik “radicalism & terrorism” pada mata kuliah ini,  mahasiswa kemudian mulai menyusun materi damai apa yang hendak disampaikan ke publik.

Kedua, mahasiswa sebagai generasi muda perlu sejak dini dibekali dan menjadi duta damai itu sendiri. Dengan membekali mahasiswa tentang Golden rule agama-agama serta isu-isu multikulturalisme, radikalisme dan terorisme, maka kesadaran tentang pentingnya menjadi duta damai dan toleran akan mulai muncul. Terlebih ketika diajak untuk menonton sejumlah video ceramah sejumlah tokoh agama yang rajin menebar kebencian kepada kelompok lain, maka panggilan untuk turut menyebar pesan-pesan perdamaian itu makin kuat. Alhasil, dengan menjadikan mereka sebagai duta damai sejak dini maka peluang keterlibatan terhadap kelompok-kelompok intoleran, ekstrimis dan teroris akan terminimalisir.

Ketiga, menjadikan mahasiswa sebagai duta damai diyakini cukup efektif untuk mengajak generasi muda lainnya. Dengan logika dan bahasa anak muda, pesan-pesan damai tersebut lebih mudah diterima oleh sesama generasi muda.

Singkat kata, melalui belajar di kampus, mahasiswa tidak hanya dijejali dengan beragam pengetahuan tanpa kontekstualisasi. Dengan keterlibatan mahasiswa sebagai duta damai maka mahasiswa bukan saja kaya akan pengetahuan tetapi juga mampu mendaratkan wawasan tersebut di bumi realitas sehingga pesan-pesan damai dapat tersalurkan dengan baik. Akhirnya, mahasiswa sejak dini sudah terlibat dalam upaya-upaya perbaikan masyarakat.

Inisiatif kecil dan –menurut saya—kreatif ini perlu terus dikembangkan, dan sekiranya menjadi inspirasi bagi mata kuliah agama ataupun mata kuliah lainnya di sejumlah perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. Sehingga kekhawatiran sejumlah pihak akan keterlibatan mahasiswa dalam gerakan aksi terorisme dapat terbantahkan dengan sendirinya. Wallahu ‘alam

Facebook Comments