Tentang Do’a dan Kebencian yang Dibungkus Agama

Tentang Do’a dan Kebencian yang Dibungkus Agama

- in Keagamaan
4831
0

Beberapa hari ini jagat dunia maya sempat dihebohkan dengan beredarnya sebuah video yang menampilkan sejumlah orang sedang memanjatkan doa penuh kemarahan. Dalam doa itu sang imam bahkan dengan jelas meminta Allah untuk menghancurkan saudara-saudara seiman yang mereka tuduh telah melakukan kejahatan. Hal ini tentu saja menimbulkan polemik, bukan saja karena masih ada kelompok yang menebar kebencian dan permusuhan, namun karena keburukan dan permusuhan itu kini semakin rapi dibungkus dalam wadah sakral bernama Agama.

Di sisi lain, hal ini juga menimbulkan pertanyaan penting, yakni; bolehkah menggunakan do’a untuk meminta keburukan? Berikut penjelasannya.

Dalam artian yang paling luas, do’a berarti permintaan atau permohonan. Subjek utama yang menjadi tumpuan untuk segala permintaan atau permohonan di atas adalah tuhan, hal ini tidak lain karena apa yang diminta adalah hal-hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia, seperti meminta sehat, ketenangan hidup, rejeki lancar, dll; hanya tuhan yang bisa memenuhi permintaan-permintaan itu. Karenanya tidak berlebihan jika Rasul mengatakan bahwa doa adalah sebuah kemuliaan, “Tiada sesuatu yang paling mulia dalam -pandangan Allah, selain dari berdoa kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang.” (HR. Al-Hakim).

Sebagai sebuah kemuliaan, do’a tentu merupakan sesuatu yang sangat baik untuk dilakukan. Apalagi do’a hanya ditujukan untuk kebaikan, bukan keburukan. Namun apa jadinya jika do’a justru digunakan untuk menebar kebencian dan permusuhan? seperti meminta tuhan untuk mendatangkan kemalangan atau kesusahan kepada orang lain. Tentang ini, Rasul telah mengingatkan bahwa doa yang kita tujukan kepada orang lain akan terjadi pula diri kita. Jika kita mendoakan kebaikan untuk orang lain, maka kebaikan yang sama akan pula terjadi pada diri kita, dan begitu pula sebaliknya.

Doa seorang Muslim kepada saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya, adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut akan berkata ”amin” dan engkaupun akan mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (HR. Muslim; 2733)

Jika mendoakan agar saudara kita selalu diberi kesehatan dan umur yang bermanfaat misalnya, maka kesehatan dan kebermanfaatan umur itu akan terjadi pula pada kita, si empu-nya do’a. Hal ini berarti bahwa kita tidak boleh bermain-main dengan do’a, karena apa yang kita doakan akan selalu kembali pada kita. Meminta Allah untuk menurunkan keburukan kepada orang lain sama halnya dengan menantang Allah untuk mendatangkan keburukan yang sama kepada diri sendiri.

Dalam salah satu ayat quran dijelaskan bahwa Allah tidak pernah memandang remeh sebuah do’a, hingga Allah berjanji akan selalu mengabulkan do’a dari para hambanya, “Berdoalah padaku, niscaya aku perkenankan bagimu,” (QS: Al Mu’min; 60), begitu janjinya.

Karenanya sudah sepatutnya untuk tetap menggunakan do’a dalam koridor kebaikan, karena doa itu sendiri merupakan hal yang baik. Sesuatu yang baik tidak sepatutnya digunakan untuk tujuan-tujuan yang tidak baik.

Jikapun ada hal-hal tidak baik yang disisipkan dalam doa, maka hal itu jelas mencederai kemuliaan sebuah doa.

Facebook Comments