Optimalisasi Ekosistem Gotong Royong; Membangun Jejaring Antisipasi Dini Radikalisme

Optimalisasi Ekosistem Gotong Royong; Membangun Jejaring Antisipasi Dini Radikalisme

- in Narasi
811
0
Optimalisasi Ekosistem Gotong Royong; Membangun Jejaring Antisipasi Dini Radikalisme

Diakui atawa tidak, salah satu faktor sulitnya memutus rantai penyebaran paham dan gerakan radikal di negeri ini ialah masih langgengnya budaya permisif di kalangan masyarakat terhadap gejala awal radikalisme. Hal ini terlihat dari betapa santainya masyarakat menyikapi fenomena maraknya intoleransi agama dan justru menganggapnya sebagai persoalan yang sepele. Padahal, intoleransi agama merupakan benih-benih awal munculnya pandangan radikal keagamaan. Sikap permisif pada intoleransi dan praktik sejenis merupakan stimulus bagi gerakan radikal untuk kian melakukan penetrasinya ke tengah masyarakat.

Di saat yang sama, permisifitas masyarakat pada praktik intoleransi itu kian diperparah dengan semakin lunturnya gairah kolektivisme dan budaya komunalisme yang selama ini menjadi karakter masyarakat Indonesia. Budaya gotong royong yang telah menjadi ciri khas bangsa perlahan mulai luntur digeser oleh nalar individualisme. Spirit kebersamaan di level masyarakat akar rumput pun perlahan sirna digerus oleh menguatnya fanatisme keagamaan dan polarisasi politik. Problem-problem sosial yang dihadapi masyarakat ini tidak pelak telah memberikan semacam angin segar bagi kelompok radikal. Kian individualis sebuah masyarakat, maka akan semakin mudah ideologi radikal menyebar.

Hal itu terjadi karena di dalam ekosistem sosial yang renggang alias segregatif, kepedulian terhadap sesama bisa dipastikan akan melemah. Simpul-simpul kerjasama dan sinergi antarindividu serta antarkelompok masyarakat pun perlahan terurai dan lepas dengan sendirinya. Alhasil, masyarakat hidup dalam ruang kubikalnya masing-masing yang dipisahkan oleh sekat-sekat identitas dan ideologi yang berbeda. Kehidupan yang demikian itu jelas rawan kesalahpahaman yang berpotensi berujung pada pecahnya konflik sosial. Di tengah kondisi ekosistem sosial yang rentan itulah ideologi radikal biasanya dengan mudah berkembang.

Situasi ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut. Semakin ke sini, kita semakin kehilangan karakter dan jatidiri kita sebagai bangsa Indonesia yang komunal dan kolektif. Konsekuensinya, sistem pertahanan sosial kita melemah dan mudah diinfiltrasi oleh virus ideologi asing, terutama radikalisme yang memiliki agenda mengubah dasar dan bentuk negara. Disinilah pentingnya kita mengembalikan jatidiri bangsa Indonesia ke karakter aslinya sebagai bangsa yang komunal dan kental dengan spirit kegotongroyongan. Tidak terkecuali dalam agenda menangkal gerakan radikalisme yang selama dua dekade belakangan ini dengan susah payah kita upayakan. Menangkal radikalisme tentu bukan semata tugas pemerintah, melainkan juga tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat. Di level penindakan, peran pemerintah barangkali memang lebih dominan. Namun, di level pencegahan masyarakat kiranya bisa menyumbang andil lebih besar. Caranya ialah dengan berpartisipasi aktif dalam upaya membangun ekosistem sosial anti-radikalisme.

Pentingnya Antisipasi Dini Radikalisme

Ekosistem sosial anti-radikalisme ialah sebuah sistem sosial-kemasyarakatan yang memiliki sistem dan mekanisme pendeteksian dini gejala radikalisme disertai upaya mitigasinya. Sistem deteksi dini dan mitigasi radikalisme ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Menghalau radikalisme sejak dini mustahil dilakukan tanpa mengenali gejala awalnya sekaligus mencari solusi untuk mengatasinya. Ekosistem sosial anti-radikalisme ini niscaya tercipta jika kita mau kembali ke jatidiri kita sebagai bangsa yang berlandaskan pada filosofi gotong royong. Kita harus meleburkan perbedaan identitas dan ideologi yang selama ini menjadi sekat-sekat pemisah. Kita harus merajut kembali relasi sosial yang sempat robek oleh fanatisme agama dan polarisasi politik. Kita bangun kembali sistem sosial yang kokoh dan ditopang oleh mekanisme deteksi dan mitigasi radikalisme yang memadai.

Dalam konteks ini, peran lembaga-lembaga kemasyarakatan dan keagamaan sangat diperlukan. Ormas Islam arusutama seperti NU dah Muhammadiyah yang jaringan organisasinya telah sampai di pelosok-pelosok desa kiranya bisa menjadi inspirator sekaligus katalisator gerakan gotong royong membangun ekosistem sosial anti-radikalisme. Jaringan organisasi yang menggurita hingga ke akar rumput itu kiranya bisa menjadi modal sosial sekaligus kultural untuk membangkitkan spirit kegotongroyongan masyarakat menghalau benih-benih radikalisme. Dalam konteks warga Nahdliyin misalnya, komunitas-komunitas kecil seperti jamaah yasinan di desa-desa atau majelis shalawat bisa menjadi motor penggerak untuk membangun ekosistem sosial anti-radikalisme.

Junaidi Abdul Munif dalam esainya berjudul “Tahlilan: Modal Sosial Mencegah Radikalisme” menuturkan bahwa di konteks masyarakat pedesaan, acara-acara keagamaan seperti tahlilan, yasinan, pembacaan shalawat Barzanji dan acara-acara komunal lainnya efektif menjadi filter untuk menjaga masyarakat dari paparan radikalisme dan terorisme. Menurut Munif, acara-acara keagamaan yang bersifat komunal itu merupakan ritus agama sekaligus sosial. Dari perspektif keagamaan, ritual tersebut berisi pembacaan kalimat thayibah yang diambil dari Alquran maupun hadist. Sedangkan dari perspektif sosial, ritual tersebut bisa menjadi wadah atau sarana interaksi sosial sekaligus membangun jejaring komunikasi sosial yang efektif. Lebih lanjut, Munif menyebut ritual-ritual keagamaan itu sebagai counter culture untuk mencegah tumbuhnya radikalisme di masyarakat. Dengan demikian, ritual tersebut bisa menjadi modal sosial untuk menjaga ketahanan moral dan nilai budaya masyarakat. Terbentuknya ekosistem sosial anti-radikalisme ini akan membuka jalan bagi terciptanya sistem dan mekanisme deteksi dini radikalisme yang efektif di masyarakat.

Facebook Comments