Pancasila dalam Wacana Buddha, Resep bagi Dunia yang Kian Gaduh

Pancasila dalam Wacana Buddha, Resep bagi Dunia yang Kian Gaduh

- in Keagamaan
2
0
Pancasila dalam Wacana Buddha, Resep bagi Dunia yang Kian Gaduh

“Senjata terus diproduksi, kabar bohong menyebar secepat kilat, dan alam dikuras tanpa jeda. Di hadapan para pemimpin agama dunia, lima sila yang usianya lebih tua dari Buddhisme itu kembali diajukan sebagai jalan keluar.”

Selain sebagai nilai dan landasan filosofis negeri ini, Pancasila juga menjadi pedoman moral bagi umat Buddha. Di forum Forum Agama G20 (R20) 2022 lalu, seorang pemuka Buddha yang berbicara mewakili para pemimpin agama mengangkat Pañcasīla ini, sebagai pedoman moral yang sudah hidup di tengah masyarakat jauh sebelum Buddhisme lahir.

Pedoman ini pernah dipegang banyak penguasa besar di Timur untuk mengangkat martabat negeri mereka, termasuk Raja Dharmashoka, kaisar India yang menyebarkannya pada abad ke-3 SM. Konstitusi Indonesia modern disebut sebagai contoh terbaik penerapan prinsip serupa.

Lima sila itu pun tidak terikat pada kelompok, ras, masyarakat, ataupun agama tertentu. Siapa pun bisa menjalankannya.

Dari nyawa hingga kebohongan

Sila pertama: tidak membunuh. Lima sila itu bermula dari hal yang paling mendasar, yakni nyawa. Hilangnya nyawa manusia kerap berakar pada tipisnya cinta kebajikan dan belas kasih, ketika ego dan hasrat meraup keuntungan mengambil alih.

Padahal, setiap makhluk hidup memiliki empat dorongan dasar: ingin hidup, takut mati, mendambakan kesenangan, dan menolak penderitaan. Membunuh berarti merusak semuanya sekaligus. Karena itu, pemimpin agama dituntut berkomitmen menjaga keselamatan setiap makhluk.

Cakupan sila ini jauh melampaui larangan menghabisi nyawa orang lain. Ia mencakup peniadaan senjata, rasa malu berbuat jahat, sikap penyayang, dan kasih terhadap flora dan fauna. Tuntutan itu terasa mendesak hari ini, ketika senjata diproduksi untuk menyulut perang dan zat kimia beracun dilepas dalam jumlah masif.

Semua itu merampas hak makhluk hidup, sebab alam semesta adalah milik bersama. Maka, sila pertama mengajak manusia menebar cinta kasih ke seluruh penjuru semesta tanpa membedakan ras, agama, budaya, ataupun negara.

Sila kedua: tidak mengambil hak orang lain. Pencurian dalam sila ini bukan hanya soal barang. Ia meliputi perampasan skala besar, penghancuran sumber daya, peradaban, dan budaya bangsa lain, hingga invasi ke negara miskin demi menguasai kekayaannya.

Kenikmatan dari hasil rampasan itu sementara. Kesadaran akan kefanaan inilah yang memungkinkan manusia membangun dunia tanpa rasa takut dan keraguan.

Sila ketiga: menghindari kesalahan terkait objek sensual. Sumber daya yang semestinya memenuhi kebutuhan manusia kerap disalahgunakan, dari level individu sampai global, demi kepentingan sesaat.

Obat yang seharusnya menyembuhkan dipakai untuk menciptakan penyakit, dan kemajuan ilmu serta teknologi dimanfaatkan untuk merugikan sesama. Pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan terhadap anak kini juga merajalela. Jalan keluarnya adalah masyarakat yang menjunjung etika dan moralitas.

Sila keempat: menjauhi kebohongan. Kepercayaan adalah kerabat terbaik, dan ia hanya tumbuh di atas kebenaran serta kejujuran. Kebohongan meruntuhkan fondasi itu, bahkan bisa mengubah orang polos menjadi pembunuh.

Sang Buddha pun menyatakan tidak ada kejahatan yang mustahil dilakukan seorang pendusta. Di era media sosial, publik perlu bijak untuk tidak menelan kabar tanpa bukti memadai agar tidak tersulut konflik.

Sila kelima: tidak mengonsumsi alkohol dan obat-obatan yang mengubah kesadaran. Dahulu manusia memakainya secukupnya. Kini, banyak negara kewalahan karena zat-zat itu menjadi bisnis yang melibatkan mafia.

Kelima sila itu menumbuhkan empat kebajikan yang menjaga keharmonisan antarras, agama, dan budaya: kepercayaan (saddhā), moralitas (sīla), kedermawanan (cāga), dan kebijaksanaan (paññā).

Kepercayaan membebaskan manusia dari rasa takut, moralitas menopang masyarakat yang adil dan taat hukum, kedermawanan melahirkan sikap menghormati pendapat orang lain, dan kebijaksanaan menuntun tindakan cerdas di dunia modern yang rumit.

Facebook Comments