Aktualisasi Sumpah Pemuda dan Maulid Nabi dalam Menangkal Ideologi Radikal

Aktualisasi Sumpah Pemuda dan Maulid Nabi dalam Menangkal Ideologi Radikal

- in Suara Kita
1118
0

Pekan ini kita merayakan dua hari penting dalam kehidupan umat Islam dan bangsa Indonesia. Pertama ialah hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, merujuk pada kali pertama ikrar itu dikumandangkan di Kongres Pemuda II tahun 1928. Kedua ialah hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw yang tahun ini jatuh pada 29 Oktober atau sehari setelah peringatan Sumpah Pemuda. Peringatan dua hari penting dalam sejarah bangsa Indonesia dan umat Islam ini tentu tidak bisa dimaknai sebagai sebuah kebetulan semata. Lebih dari itu, keduanya memilik irisan satu sama lain.

Di satu sisi, ikrar Sumpah Pemuda merupakan tonggak penting bagi perjalanan revolusi kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme. Sejarah mencatat, revolusi kemerdekaan berakar kuat dari munculnya kesadaran kebangsaan yang dimulai sejak berdirinya organisasi Boedi Oetomo. Kesadaran kebangsaan dari kalangan menengah terpelajar ini lantas memuncak pada deklarasi Sumpah Pemuda yang secara simbolik menjadi penanda lahirnya Indonesia. Di sisi lain, maulid Nabi Muhammad merupakan peristiwa penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Nabi Muhammad ialah nabi sekaligus rasul pamungkas yang membawa ajaran penyempurna bagi ajaran-ajaran sebelumnya.

Menariknya, Nabi Muhammad tidak hanya dikenal sebagai pemimpin spiritual belaka, melainkan juga memainkan peran signifikan di ranah politik dan sosial. Sepak terjangnya terutama ketika berdakwah di Madinah dicatat oleh sejarah sebagai periode penting pembentukan peradaban manusia yang lantas menjadi inspirasi bagi kehidupan selanjutnya. Tidak hanya menyempurnakan ajaran teologis, Nabi Muhammad juga meletakkan fondasi kehidupan sosial-politik yang bertumpu pada nilai kesetaraan, keadilan dan perdamaian.

Paham Radikal sebagai Ancaman Ketahanan Ideologi Nasional

Peringatan hari Sumpah Pemuda dan Maulid Nabi, hendaknya tidak hanya berorientasi pada seremonial dan ritual semata. Lebih penting dari itu ialah bagaimana nilai dan spirit dari dua peristiwa besar dan bersejarah itu bisa kita aktualisasikan dan relevansikan dengan kondisi sekarang. Seperti kita lihat saat ini bangsa Indonesia tengah menghadapi beragam tantangan, utamanya tantangan terkiat ketahanan ideologi. Pasca Reformasi 1998 kita menyaksikan sendiri bagaimana demokrasi dan kebebasan ruang publik telah menghadirkan tantangan tidak ringan bagi ketahanan ideologi negara. Hal ini mewujud ke dalam masifnya infiltrasi ideologi asing yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI masuk ke tengah masyarakat. Penetrasi ideologi asing itu pun lantas melemahkan komitmen masyarakat untuk setia pada NKRI dan ideologi Pancasila. Konsekuensinya, muncul wacana dan gerakan yang memiliki agenda untuk mengubah bentuk dan dasar negara.

Lukman Hakim dalam bukunya Radikalisme Agama dan Tantangan Kebangsaan menyebut bahwa radikalisme berlatar agama merupakan ancaman serius bagi ketahanan nasional, lantaran ia langsung menyerang pada jantung pertahanan sebuah negara, yakni ideologi. Pendapat Hakim ini sejalan dengan argumen Karl Mannheim yang menyebutkan bahwa pasca berakhirnya Perang Dunia II, kontestasi sosial-politik di dunia internasional akan lebih banyak ditentukan melalui perang ideologi. Masing-masing ideologi membawa agendanya masing-masing dan berusaha menjadi yang paling dominan di tengah masyarakat dunia. Menariknya, penyebaran ideologi ini tidak melulu dilakukan melalui cara militeristik, melainkan lebih banyak melalui pendekatan kultural, seperti melalui media massa dan sejenisnya.

Ancaman inilah yang saat ini tengah kita hadapi dalam kurun waktu dua dekade belakangan. Narasi provokatif dan propaganda radikalisme keagamaan nyaris menjadi menu keseharian kita. Berbagai bentuk ujaran kebencian dan hoaks lalu lalang di ruang publik digital kita dan tanpa sadar telah mencuci otak publik. Apa yang terjadi kemudian ialah terjadinya krisis ideologi dimana masyarakat mulai tidak percaya pada NKRI dan Pancasila dan sebaliknya terpukau oleh ideologi asing. Kondisi ini jelas sangat mengkhawatirkan karena dari luar kondisi bangsa dan negara kita tampak baik-baik saja, namun sebenarnya dari dalam mengalami kerapuhan yang mengkhawatirkan.

Mengaktualkan Makna Sumpah Pemuda dan Maulid Nabi Muhammad

Peringatan Sumpah Pemuda dan Maulid Nabi yang tahun ini kita rayakan secara berurutan ini kiranya menjadi momentum untuk mengatasi persoalan terkait krisis ideologi. Sumpah Pemuda yang digaungkan para aktivis gerakan pemuda angkatan 1928 mengandung spirit kebangsaan yang mampu meniadakan sekat primordialisme kesukuan, feodalisme kelas dan fanatisme agama. Mereka mampu memberikan teladan bahwa perbedaan identitas idealnya tidak menjadi halangan untuk bersatu, dan justru menjadi katalisator dan modal sosial untuk menggulirkan perubahan sosial.

Menurut Ben Anderson dalam bukunya Di Bawah Tiga Bendera; Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial , gaung nasionalisme yang dikumandangkan oleh Sumpah Pemuda ialah deklarasi anti-kolonialisme yang menginspirasi lahirnya gerakan-gerakan serupa di benua Asia dan Benua Afrika. Ini artinya, Sumpah Pemuda tidak hanya penting bagi sejarah kemerdekaan Indonesia namun sedikit banyak juga memiliki andil pada perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa lainnya.

Maulid Nabi Muhammad Saw pun memiliki dampak dan impact yang kurang lebih sama. Nabi Muhammad ialah figur revolusioner lintas-sektor. Bahkan, Michael H. Hart dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah menobatkan Nabi Muhammad dalam urutan pertama sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia sepanjang zaman. Ini artinya tidak ada tokoh lain yang mampu menandingi kebesarannya. Keputusan Hart untuk menempatkan Nabi Muhammad sebagai figur paling berpengaruh di dunia itu tampaknya tidak berlebihan. Sejawan Paul K. Hitti dalam buku History of the Arabs menyebutkan bahwa Nabi Muhammad berbeda dari nabi-nabi pembawa agama sebelumnya. Salah satu yang membedakan ialah bahwa Nabi Muhammad berhasil mengubah seluruh tatanan sosial, politik, hukum dan ekonomi masyarakat jazirah Arab menuju peradaban yang lebih maju.

Nabi Muhammad meletakkan dasar-dasar politik demokrasi, penghargaan terhadap hak asasi manusia dan hak-hak perempuan serta mendorong terciptanya tatanan sosial yang inklusi, toleran dan egaliter. Di bawah kepemimpinannya, jazirah Arab yang secara bentang alam dikenal tandus dan kering, serta secara sosiologis kerap dipandang tidak beradab (jahiliyyah) diubah menjadi salah satu pusat peradaban dunia kala itu. Salah satu warisan penting Nabi Muhammad ialah ajarannya tentang pola pikir dan praktik keberagamaan yang moderat, inklusif dan toleran. Nabi Muhammad melalui perilakunya mengajarkan pada umatnya agar beragama secara rasional dan menjadikan agama sebagai sumber landasan moral serta etika. Itulah mengapa Nabi Muhammad tidak membentuk negara Islam dengan kepemimpinan tunggal dan pemerintahan monarkis. Sebaliknya, ia justru membangun komunitas Madinah yang disatukan oleh perjanjian (Piagam Madinah) yang memberikan kedudukan setara bagi sejumlah entitas kesukuan yang berdiam di wilayah tersebut. Piagam Madinah disebut oleh Robert N. Bellah sebagai bentuk konstitusi tertulis pertama yang mengandung prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia. Dimensi kebangsaan sebagaimana dikandung oleh Sumpah Pemuda serta ajaran tentang moderatisme keberagamaan sebagaimana diwariskan oleh Nabi Muhammad ini kiranya bisa menjadi modal sosial penting bagi kita untuk menghalau ideologi radikal. Seperti kita tahu, radikalisme tumbuh subur di tengah masyarakat yang mengalami krisis ideologi dan menjalani praktik keberagamaan secara eksklusif-intoleran. Maka dari itu, peringatan Sumpah Pemuda dan Maulid Nabi Muhammad ini kiranya bisa menjadi sarana kita membangun spirit kebangsaan dan mengembangkan corak keberagaman moderat.

Facebook Comments